jurnalistik.co.id – JAKARTA — Pertumbuhan pengguna kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya mendorong pembangunan infrastruktur pengisian daya, tetapi juga memaksa sektor transportasi penyeberangan ikut beradaptasi. Di tengah mobilitas antarpulau yang terus bergerak, aspek keselamatan menjadi perhatian utama, terutama karena kendaraan listrik membawa potensi risiko yang berbeda, termasuk kebakaran yang melibatkan baterai.
Karena itu, kesiapan operator kapal menjadi krusial agar layanan penyeberangan tetap aman, andal, dan siap menghadapi skenario darurat. Dalam konteks ini, ASDP menegaskan bahwa penguatan operasional terus dilakukan seiring bertambahnya jumlah kendaraan listrik yang menggunakan layanan penyeberangan.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, mengatakan bahwa langkah penguatan itu memang menjadi bagian dari antisipasi perusahaan terhadap risiko yang mungkin muncul saat kendaraan listrik dibawa ke atas kapal. “ASDP bersama operator kapal terus memperkuat kesiapan operasional dalam mengantisipasi potensi risiko yang berkaitan dengan kendaraan listrik di kapal penyeberangan,” kata Windy kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2026).
Menurut Windy, penguatan kesiapan tersebut mengacu pada pedoman yang telah diterbitkan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Pedoman itu menjadi acuan dalam penanganan kendaraan listrik selama berada di atas kapal, sehingga seluruh prosedur keselamatan memiliki dasar yang jelas dan seragam di lapangan.
“Implementasi keselamatan mengacu pada Surat Edaran Ditjen Perhubungan Laut yang mengatur berbagai langkah mitigasi, di antaranya penyediaan designated stowage area, pemantauan area kendaraan listrik melalui CCTV, penggunaan alat pendeteksi panas berbasis thermal imaging device, serta kesiapan alat pemadam kebakaran yang sesuai untuk penanganan kebakaran yang bersumber dari baterai kendaraan listrik,” ujar Windy.
Keberadaan designated stowage area membuat kendaraan listrik bisa ditempatkan di lokasi yang lebih mudah dipantau selama pelayaran. Dengan begitu, pengawasan tidak hanya bergantung pada pemeriksaan manual, tetapi juga didukung oleh sistem pemantauan yang memungkinkan operator melihat kondisi kendaraan secara lebih dekat dan cepat jika ada tanda-tanda yang tidak normal.
Selain itu, penggunaan kamera pengawas dan perangkat pendeteksi panas bertujuan mendeteksi lebih dini apabila terjadi kenaikan suhu yang tidak biasa pada kendaraan. Langkah ini penting karena potensi masalah pada kendaraan listrik tidak selalu terlihat dari luar, sementara respons cepat menjadi faktor penentu dalam mencegah risiko yang lebih besar saat kapal sedang berlayar.
ASDP juga menaruh perhatian pada peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Hal ini menjadi penting karena kebakaran baterai lithium-ion memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kebakaran pada kendaraan berbahan bakar konvensional, sehingga prosedur penanganannya tidak bisa disamakan begitu saja.
“Selain kesiapan peralatan, ASDP juga telah melakukan sosialisasi dan familiarisasi kepada supervisi operasional maupun awak kapal terkait karakteristik kendaraan listrik, prosedur penanganan muatan EV, hingga langkah mitigasi keadaan darurat,” kata Windy.
Windy menjelaskan bahwa proses peningkatan kapasitas awak kapal dilakukan secara bertahap agar seluruh personel benar-benar memahami langkah yang harus dijalankan ketika terjadi insiden di tengah pelayaran. Dengan pemahaman yang lebih baik, awak kapal diharapkan bisa merespons kondisi darurat secara lebih terukur dan tidak kehilangan waktu dalam penanganan awal.
“Awak kapal secara bertahap dibekali pemahaman mengenai pola penanganan kebakaran baterai listrik yang memiliki karakteristik berbeda dengan kendaraan konvensional,” ujar Windy.
Seiring cepatnya perkembangan teknologi kendaraan listrik, standar keselamatan di sektor pelayaran juga ikut berkembang. ASDP menegaskan bahwa evaluasi terhadap prosedur dan kesiapan operasional tidak akan berhenti pada satu tahap, melainkan terus diperbarui mengikuti kebutuhan di lapangan dan perkembangan standar keselamatan internasional.
“Evaluasi dan peningkatan kesiapsiagaan akan terus dilakukan seiring perkembangan teknologi dan standar keselamatan internasional,” kata Windy.












