Otomotif

Pengguna Motor Listrik Mulai Beralih dari Tukar Baterai, Ini Penyebabnya

0
×

Pengguna Motor Listrik Mulai Beralih dari Tukar Baterai, Ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
Pengguna Motor Listrik Mulai Meninggalkan Sistem Tukar Baterai, Ini Alasannya Otomotif 13 Juni 2026
Ilustrasi: Pengguna Motor Listrik Mulai Meninggalkan Sistem Tukar Baterai, Ini Alasannya

jurnalistik.co.id – Sistem sewa baterai (battery rental) dan tukar baterai (battery swap) mulai banyak ditawarkan pada sepeda motor listrik untuk menekan harga pembelian awal. Namun, di tengah skema yang mempermudah biaya di awal itu, ada juga konsumen yang akhirnya memilih menggunakan baterai milik sendiri.

Abdulah, dari Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat, menyebut fenomena tersebut memang ada, tetapi jumlahnya relatif kecil. Ia menjelaskan bahwa sebagian pengguna yang semula memakai baterai sewa atau baterai swap kemudian beralih menjadi pengguna baterai pribadi.

“Untuk dari baterai sewa atau baterai swap menjadi baterai pribadi ada juga sih, tapi tidak banyak,” kata Abdulah kepada Kompas.com, Jumat (12/6/2026). Ia menambahkan perkiraan proporsinya: “Bisa dibilang hanya 15 persen mungkin dari 100 (orang) gitu,” ujar Abdul panggilannya.

Menurut Abdulah, mayoritas konsumen yang sejak awal memilih sistem sewa atau tukar baterai justru merasa skema tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan. Alasan utamanya berkaitan dengan kemudahan dalam pemakaian serta rasa tenang yang terbentuk karena pengelolaan baterai ditangani melalui layanan operator.

“Karena yang memilih sistem sewa atau tukar baterai memang membutuhkan sistem itu untuk mempermudah, kemudian membuat mereka juga tenang, tidak kepikiran jika baterai error, rusak atau lainnya,” ujar dia.

Dalam konteks tersebut, konsep sewa dan tukar baterai memang berkembang sebagai salah satu solusi untuk mengurangi beban biaya awal kepemilikan motor listrik. Dengan memilih skema ini, pengguna mendapatkan cara akses baterai yang tidak harus dikeluarkan sebagai biaya kepemilikan sejak awal.

Dari sisi pembayaran di awal, skema sewa baterai membuat harga pembelian menjadi lebih ringan. Lalu, selain lebih ringan, pengguna juga tidak terlalu memikirkan kondisi kesehatan baterai karena pengelolaan umumnya menjadi bagian dari layanan operator.

Pada skema sewa baterai, konsumen membeli unit motor tanpa memiliki baterai secara penuh. Baterai disediakan melalui sistem langganan dari pabrikan, sehingga baterai menjadi bagian dari layanan yang menyertai penggunaan motor.

Sementara itu, pada skema tukar baterai, pengguna tidak mengisi ulang baterai di motor. Sebaliknya, pengguna menukar baterai yang habis di stasiun penukaran, kemudian mengambil baterai lain yang sudah terisi penuh.

Dari prosesnya, baterai dilepas dari motor terlebih dahulu di stasiun. Setelah itu, pengguna mengambil baterai pengganti yang telah tersedia dalam kondisi terisi. Dengan mekanisme ini, motor bisa langsung digunakan kembali tanpa menunggu proses pengisian.

Dengan demikian, meski sewa dan tukar baterai sama-sama ditujukan untuk membuat kepemilikan sepeda motor listrik lebih mudah dan lebih ringan di awal, tetap ada sebagian kecil pengguna yang akhirnya memutuskan memakai baterai milik sendiri. Abdulah menilai, dari setiap 100 orang, hanya sekitar 15 persen yang bergerak dari skema sewa atau tukar menuju baterai pribadi.

Sementara itu, pada kelompok mayoritas, pilihan awal mereka cenderung bertahan karena skema dinilai menghadirkan kemudahan serta menurunkan kekhawatiran terkait kemungkinan baterai mengalami error atau kerusakan, sebagaimana yang disampaikan Abdulah.

Dalam praktiknya, pilihan sewa maupun tukar baterai membuat pengguna tidak menempatkan baterai sebagai beban utama saat proses awal pembelian motor listrik. Karena baterai diperlakukan sebagai bagian dari layanan, pengguna memperoleh dukungan pengelolaan lewat operator, sehingga aktivitas harian lebih fokus pada penggunaan kendaraan ketimbang urusan teknis perangkat tenaga.

Pada skema tukar baterai, alurnya dibuat agar pengguna tetap bisa berangkat tanpa jeda menunggu pengisian. Baterai yang sudah habis dilepas terlebih dahulu di stasiun penukaran, lalu pengguna mengambil unit baterai pengganti yang telah disiapkan dalam kondisi terisi. Pola yang cepat seperti ini berkontribusi pada persepsi bahwa skema tersebut lebih praktis, khususnya bagi konsumen yang sejak awal memang mencari cara pakai yang lebih ringkas.