jurnalistik.co.id – Chris Espinosa dikenal sebagai sosok yang tidak pernah benar-benar “beranjak” dari Apple sejak perusahaan itu berdiri. Ia bergabung pada 1976 saat usianya masih 14 tahun, dan hingga kini masih bekerja di perusahaan tersebut.
Pada usia 64 tahun, Espinosa sudah mengabdi selama sekitar 50 tahun. Kisah perjalanannya diangkat dalam laporan The New York Times yang bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-50 Apple.
Awal pertemuan yang mengubah arah hidup
Perkenalan Espinosa dengan Apple bermula dari sebuah toko komputer. Saat itu, ia datang ke Byte Shop dan bertemu Steve Jobs, yang sedang memasang komputer Apple I di toko tersebut.
Dari pertemuan yang relatif singkat itu, Jobs langsung merekrut Espinosa. Remaja 14 tahun itu diminta menulis program komputer dengan bahasa BASIC, yang nantinya akan berjalan pada Apple II, komputer generasi berikutnya dari Apple.
Tak lama setelah itu, Espinosa juga bertemu Steve Wozniak. Pertemuan keduanya terjadi di Homebrew Computer Club, komunitas penggemar komputer yang berkumpul di Menlo Park, California.
Yang membuat ceritanya semakin menarik, guru-guru di Homestead High School Cupertino sebelumnya sudah mengingatkan Espinosa agar berhati-hati terhadap Jobs maupun Wozniak. Keduanya ternyata juga merupakan alumni sekolah yang sama, sehingga peringatan itu terasa punya konteks khusus.
Bekerja saat Apple masih “sebuah garasi”
Berita Terkait
Setelah resmi bergabung, Espinosa langsung masuk ke rutinitas kerja yang benar-benar berbeda dari gambaran kantor modern. Ia bekerja dari garasi rumah Steve Jobs di Los Altos, California, di mana “kantor” Apple saat itu masih berupa rumah dengan meja-meja kerja seadanya.
Dalam fase awal tersebut, Espinosa tercatat sebagai salah satu karyawan termuda dalam sejarah Apple. Nomor karyawannya juga disusun secara resmi dengan angka 8, sebuah detail yang menunjukkan bagaimana Apple menata organisasinya bahkan pada tahap paling awal.
Pada praktiknya, penomoran karyawan Apple dimulai dari nomor 4. Namun, nomor 1 sampai 3 sempat dipesan lebih dulu oleh Steve Jobs, Steve Wozniak, dan pihak pendiri lain, sehingga ketika sistem itu digunakan untuk karyawan, Espinosa tidak berada di rentang nomor awal tersebut.
Mike Scott, yang kemudian menjadi CEO Apple pertama, juga punya pertimbangan tersendiri terkait penomoran. Ia ingin memakai nomor 7, terinspirasi dari James Bond, sehingga angka-angka penanda karyawan ikut memuat nuansa era dan selera yang berbeda.
Dari sisi jadwal, Espinosa menjalankan pekerjaannya dengan ritme yang sesuai dengan masa sekolahnya. Ia datang ke “kantor” pada Rabu sore setelah pulang sekolah, menulis program demo, melakukan pengujian software Integer BASIC untuk Apple II ROM, serta memperagakan Apple II kepada calon pelanggan.
Perkuliahan tanpa memutus hubungan
Pada 1978, setelah lulus SMA, Espinosa melanjutkan kuliah di University of California, Berkeley. Kampus ini dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi bergengsi di Amerika Serikat, dan menjadi babak baru dalam hidupnya yang sudah sejak awal dekat dengan Apple.
Periode kuliah di Berkeley menjadi satu-satunya masa ketika ia berhenti bekerja penuh waktu untuk Apple. Namun, meski komitmennya terhadap studi meningkat, ia tidak sepenuhnya meninggalkan perusahaan: Espinosa tetap bekerja paruh waktu untuk Apple sambil mengikuti perkuliahan.
Dengan jalur yang tidak putus dari 1976 sampai sekarang, ia memperlihatkan pola keterikatan yang jarang ditemui. Bagi Apple, perjalanan panjang itu tidak hanya mencatat pertumbuhan perusahaan dari tahap startup, tetapi juga memperlihatkan bagaimana satu orang dapat bertahan bersama evolusi yang terus berubah.












