Otomotif

Perawatan Peugeot Retro Era 1990-an Dinilai Masih Terjangkau

×

Perawatan Peugeot Retro Era 1990-an Dinilai Masih Terjangkau

Sebarkan artikel ini
Biaya Perawatan Peugeot Retro Era 1990-an Disebut Masih Terjangkau Otomotif 17 Juni 2026
Ilustrasi: Biaya Perawatan Peugeot Retro Era 1990-an Disebut Masih Terjangkau

jurnalistik.co.id – Mobil Eropa lawas sering mendapat cap mahal ketika berbicara soal perawatan. Anggapan itu membuat sebagian orang maju mundur sebelum meminang model retro dari era 1990-an, termasuk Peugeot.

Menurut Hadi Taruna, pemilik bengkel spesialis Peugeot EngineBlock Autoworks di Bintaro, Tangerang Selatan, biaya perawatan Peugeot generasi lama tidak selalu tinggi. Ia menekankan kondisi unit yang dibeli menjadi penentu utama.

“Jadi kita anggap dulu mobilnya dalam kondisi normal. Kalau bicara perawatan rutin, sebenarnya untuk mobil Eropa itu masih tergolong tidak mahal karena konstruksinya masih cukup sederhana,” kata Hatar—sapaan akrabnya—kepada Kompas.com belum lama ini.

Hatar menjelaskan, persoalan kerap muncul ketika calon pemilik mobil bekas hanya melihat harga beli yang dianggap murah. Banyak yang terjebak pada angka saat membeli, tanpa memperhitungkan kondisi kendaraan yang akan dipelihara.

Ia menambahkan bahwa bila unit yang dibeli bermasalah, biaya pemulihan bisa jauh lebih besar dibanding perawatan rutin. Dengan kata lain, pengeluaran yang muncul bukan karena “kemahalan” perawatan, melainkan karena kebutuhan perbaikan akibat kondisi mobil.

“Menurut saya, harga seperti itu masih tergolong normal untuk mobil-mobil bekas. Bahkan kalau dibandingkan dengan mobil Jepang juga kurang lebih mirip,” ujar Hatar.

Lebih lanjut, Hatar menyebut biaya pemeliharaan beberapa model Peugeot populer era 1990-an masih cukup terjangkau. Ia mencontohkan Peugeot 405 dan 306 sebagai dua model yang dinilai berada di kisaran biaya yang masuk akal.

“Contohnya Peugeot 405 dan 306. Itu tidak mahal,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, ada beberapa faktor yang membuat biaya perawatan tetap dapat diprediksi. Salah satunya adalah konstruksi kaki-kaki yang relatif sederhana sehingga komponen yang dibutuhkan tidak berlebihan.

“Konstruksi kaki-kakinya relatif sederhana,” kata Hatar. Ia menjelaskan bahwa harga komponen seperti tie rod dan ball joint berada di kisaran Rp 250.000 sampai Rp 300.000.

“Harga komponen kaki-kakinya seperti tie rod dan ball joint sekitar Rp 250.000 sampai Rp 300.000. Sistem kaki-kakinya juga masih sederhana, belum double wishbone, masih model biasa,” katanya.

Hatar menilai jumlah komponen yang terlibat juga tidak terlalu banyak. Hal tersebut, menurutnya, berdampak pada kebutuhan pembelian komponen saat perbaikan dilakukan.

“Jumlah komponennya juga tidak banyak. Artinya, kalau diperbaiki pun komponen yang harus dibeli tidak terlalu banyak,” ungkapnya.

Untuk bagian belakang, Hatar juga menyebut tipe suspensi yang digunakan. Ia menjelaskan bahwa bagian belakang masih memakai torsion beam.

“Bagian belakang juga masih memakai torsion beam, jadi memang tidak banyak komponen di sana,” kata Hatar.

Selain konstruksi yang disederhanakan, Hatar juga menyinggung soal ketersediaan dan kisaran harga suku cadang. Ia menyatakan bahwa harga suku cadang Peugeot lawas tidak sejauh yang dibayangkan sebagian orang.

“Kalau bicara harga suku cadang, memang untuk beberapa komponen saya kurang tahu pasti, tapi kisaran harganya masih di angka tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, suku cadang tersebut masih dinilai kompetitif jika dibandingkan dengan mobil Jepang bekas di kelas yang sama. Dengan demikian, persepsi soal perawatan mahal menurutnya perlu ditinjau kembali berdasarkan kondisi dan kebutuhan nyata mobil.

“Kalau bicara harga suku cadang, memang untuk beberapa komponen saya kurang tahu pasti, tapi kisaran harganya masih di angka tersebut,” ulangnya, lalu mengaitkan penilaiannya pada situasi pasar mobil bekas.

Secara keseluruhan, Hatar mendorong calon pemilik untuk tidak hanya mempertimbangkan harga beli. Ia menggarisbawahi bahwa perawatan rutin dapat tetap terjangkau selama unit berada dalam kondisi sehat, sementara biaya yang membengkak cenderung muncul saat ada kebutuhan pemulihan akibat masalah pada kendaraan.