jurnalistik.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah bahwa pergantian rezim di Iran pernah menjadi tujuan perang Washington. Ia menyatakan pandangannya kepada wartawan di Perancis pada Selasa (16/6/2026), seperti yang dikutip Anadolu.
Trump menegaskan, “Saya tidak pernah peduli dengan pergantian rezim. Itu tidak pernah menjadi bagian (dari tujuan), tetapi saya kira Anda mengalami pergantian rezim karena Anda tahu lebih baik dari siapa pun.” Menurut Trump, perubahan rezim bukanlah agenda yang ia cari, melainkan sesuatu yang, menurut penilaiannya, terjadi karena pihak lain meyakini hal tersebut.
Ia lalu menyinggung pengalamannya terkait efektivitas skenario pergantian rezim. Trump menyatakan, “Saya tidak percaya pada pergantian rezim. Saya sudah melihat pergantian rezim selama bertahun-tahun, mereka tidak pernah berhasil,” ujar Trump.
Trump juga menggambarkan penilaiannya terhadap dinamika kepemimpinan Iran yang sedang dihadapi AS. Ia mengatakan, “Kelompok pertama, mereka semua tewas. Kelompok kedua, mereka tewas. Sebagian dari kelompok ketiga telah hilang, dan kami berurusan dengan orang-orang yang menurut saya sangat rasional,” katanya.
Dalam penuturannya, Trump menempatkan pihak yang kini dihadapinya sebagai figur yang lebih mampu mengambil pendekatan yang ia anggap pragmatis. “Saya pikir sebenarnya mereka lebih pintar daripada kelompok pertama dan kedua, tetapi mereka tidak diradikalisasi, dan mereka ingin membantu negara mereka,” ucapnya.
Beda narasi dengan seruan awal
Di sisi lain, pernyataan Trump saat ini berbeda dengan seruannya pada awal perang. Pada masa itu, Donald Trump menyerukan kepada rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan, sebuah imbauan yang muncul ketika demonstrasi pecah pada awal 2026.
Trump saat itu menilai bahwa kesempatan untuk bebas dari rezim telah datang dan meminta agar rakyat Iran mengambil alih pemerintahan setelah operasi AS selesai. Ia menyampaikan, “Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi ke depan,” katanya.
Kalimat tersebut menggambarkan keyakinan Trump bahwa ada momentum tertentu yang hanya akan hadir untuk jangka waktu yang terbatas. Dengan demikian, pembantahan Trump mengenai tujuan pergantian rezim di periode kini muncul sebagai penegasan ulang atas garis pandangnya, sekaligus membentuk kontras dengan narasi awal yang pernah ia sampaikan.
Klaim terkait kesepakatan dengan Iran
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyampaikan pandangannya tentang posisi AS terkait investasi uang dalam kesepakatan dengan Iran. Ia menegaskan, “Kami tidak memiliki kewajiban untuk menginvestasikan uang di Iran. Kami tidak menginvestasikan uang apa pun. Kami memiliki hak untuk melakukannya jika kami mau, tetapi kami tidak menginvestasikan uang apa pun,” kata Trump.
Trump kemudian menyatakan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan yang menurutnya adil. “Kami telah menyelesaikan kesepakatan dengan Iran, dan agar berhasil, kesepakatan itu masuk ke tahap kedua, yang menurut saya sebenarnya akan lebih mudah,” ujar Trump.
Penutup dari penilaiannya disampaikan Trump dengan menekankan kualitas kesepakatan tersebut. “Kami memiliki kesepakatan yang adil dengan Iran, kesepakatan yang baik,” tambahnya.
Melalui rangkaian pernyataan itu, Trump memusatkan penjelasan pada tiga hal: pembantahan bahwa pergantian rezim adalah tujuan perang, skeptisisme bahwa pergantian rezim selalu memberi hasil, serta penilaian mengenai karakter pihak yang menurutnya lebih rasional saat ini. Pada saat yang sama, ia juga menyandingkan pandangan tersebut dengan klaim-klaim terkait kesepakatan AS-Iran dan urutan tahap yang, menurut Trump, akan menentukan keberhasilan.












