jurnalistik.co.id – Sidang inquest yang mengusut kematian Dame Jenni Murray mengungkap bahwa almarhumah meninggal beberapa hari setelah mengalami kecelakaan mobil. Dalam persidangan, rincian cedera dan kondisi kesehatannya setelah tabrakan disampaikan berdasarkan keterangan medis.
Coroner wilayah North London, Tony Murphy, menyatakan penyebab kematian Dame Jenni adalah bronchopneumonia yang berkaitan dengan fraktur pada tulang rusuk dan sternum. Putusan tersebut disampaikan setelah rangkaian pemeriksaan terhadap keadaan kecelakaan yang dialami presenter BBC Radio 4 itu.
Jenni Murray tercatat meninggal pada 12 Maret, delapan hari setelah tabrakan di wilayah London utara. Inquest juga menyebut kecelakaan terjadi di sekitar Hampstead Heath sekitar pukul 19:45 GMT.
Peristiwa kecelakaan bermula ketika almarhumah berada di balik kemudi sebelum akhirnya bertabrakan. Pernyataan yang dibacakan dari Dr Clare Morkane, konsultan di Royal Free Hospital tempat Dame Jenni dirawat setelah kecelakaan, menjelaskan kronologi yang mengarah pada tabrakan.
Dr Morkane menyebut, “Jennifer had been driving when she became dazzled by vehicle lights and collided with two stationary vehicles.” Ia menambahkan, “Following the collision, Jennifer was unable to recall events, exited the vehicle independently and she was conveyed to hospital.”
Menurut keterangan dalam persidangan, kecelakaan tersebut menyebabkan cedera serius pada bagian dada. Dampak tabrakan menghasilkan “multiple rib fractures”, fraktur pada sternum bagian atas, serta paru-paru yang mengalami kolaps.
Setelah kejadian, Dame Jenni sempat mendapatkan penanganan dengan non-invasive ventilation. Namun, kondisi medisnya kemudian berkembang hingga ia mengalami bronchopneumonia, yang akhirnya menjadi bagian dari rangkaian penyebab kematian.
Proses penyelidikan juga disebut mencakup peran pihak kepolisian. Metropolitan Police melakukan investigasi terhadap kecelakaan tersebut dan kemudian menutup pemeriksaan dengan keputusan “no further action”.
Perjalanan karier di Woman’s Hour
Berita Terkait
Dame Jenni dikenal luas sebagai figur penting di siaran BBC Radio 4 melalui program Woman’s Hour. Ia bergabung sejak 1987 dan kemudian meninggalkan program tersebut pada 2020, menjadikannya presenter dengan masa tugas terpanjang dalam sejarah acara.
Dalam laporan persidangan maupun pemberitaan terkait, inquest menempatkan kematiannya sebagai duka bagi pendengar dan dunia penyiaran. Setelah kabar meninggal diumumkan, Tim Davie—yang saat itu menjabat direktur jenderal BBC—memberikan penghormatan dan menyebutnya sebagai “a broadcasting icon”.
Mohit Bakaya, pengendali Radio 4, juga memberikan penilaian yang menggambarkan sosok Dame Jenni dengan gaya personal. Ia menyatakan Dame Jenni adalah “warm, fearless and beloved by listeners”.
Sejumlah momen penyiaran yang pernah ia lakukan turut dikenang, termasuk percakapannya dengan Baroness Margaret Thatcher mengenai kebijakan pengasuhan anak. Dame Jenni juga pernah mewawancarai Jack Nicholson dengan suasana yang digambarkan penuh keluwesan, serta menantang Edwina Currie terkait urusan yang pernah ia lakukan dengan John Major saat masih menjabat sebagai perdana menteri.
Selain itu, Dame Jenni menanyai Hillary Clinton mengenai bagaimana ia bisa memaafkan infidelitas yang dilakukan Bill Clinton. Ia juga berbincang dengan Joan Baez, penyanyi favoritnya, dan pernah menyebut wawancara tersebut sebagai “the peak of my career”.
Kesehatan dan penghargaan
Dame Jenni pernah mengumumkan di siaran pada 2006 bahwa ia didiagnosis mengidap kanker payudara. Dalam kesempatan berbicara kepada pendengar, ia juga secara terbuka membahas operasi penurunan berat badan dan pengalaman terkait masa menopause.
Pada 2011, ia menerima gelar damehood sebagai pengakuan atas kontribusinya di bidang penyiaran. Sepanjang kariernya, ia juga meraih dua Sony Awards dan kemudian dianugerahi sebagai anggota Radio Academy Hall of Fame.
Dengan terungkapnya rincian medis dalam inquest, perhatian kini kembali pada rangkaian peristiwa sebelum dan sesudah kecelakaan. Keputusan coroner menegaskan hubungan antara cedera akibat tabrakan dan komplikasi bronchopneumonia yang berkembang setelahnya, sementara penyelidikan kepolisian dinyatakan berakhir tanpa tindakan lanjutan.












