Peristiwa

Gempa M 7,7 Guncang Mbay, Nagekeo: Warga Panik dan Mengungsi, Peringatan Tsunami Belum Dicabut

×

Gempa M 7,7 Guncang Mbay, Nagekeo: Warga Panik dan Mengungsi, Peringatan Tsunami Belum Dicabut

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kesaksian Warga Mbay Nagekeo Rasakan Gempa: Goyangnya Ngeri Punya!

jurnalistik.co.id – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Guncangan terasa hingga membuat warga di wilayah Mbay panik dan segera bergegas keluar rumah.

Menurut keterangan BMKG, kekuatan awal gempa sempat dicatat magnitudo 7,0. Namun setelah pemutakhiran parameter, magnitudo diperbarui menjadi 7,7. Gempa terjadi pada pagi hari itu dengan titik pusat sekitar 30 kilometer timur laut Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.

Di Mbay, sejumlah warga mengaku terbangun ketika tidur masih melanda. Mira (45) menceritakan ia awalnya tengah beristirahat bersama anak-anaknya, sebelum merasakan getaran yang kian memburuk.

“Saya awalnya lagi tidur. Lalu terbangun karena merasa, kok tempat tidur saya itu goyangnya ngeri punya,” ujarnya kepada Kompas.com.

Begitu sadar ada gempa, Mira langsung membangunkan anak-anaknya. Ia memilih segera mengajak mereka keluar karena khawatir bangunan yang ditempati bisa roboh.

“Ketika mau keluar, ternyata pintu kamar saya terkunci. Ya akhirnya saya buka paksa saja, langsung teriak, gempa, gempa, gempa,” kata Mira.

Suasana darurat juga membuat kepanikan menyebar cepat antaranggota rumah. Mira kemudian melihat anggota keluarganya berada di luar, sementara sebagian lainnya masih menunggu situasi reda.

Ia menggambarkan momen ketika guncangan masih terasa kuat, sehingga mereka menempelkan satu sama lain untuk saling memberi ketenangan. “Karena situasinya itu masih goyang betul. Kakak saya pelukan dengan keluarganya empat orang. Saya bilang, ayo lari, lari, karena takut rumah roboh,” tambahnya.

Setelah sempat memastikan kondisi di sekitar rumah, Mira bersama keluarganya berlari menuju area yang lebih tinggi. Tempat tujuan yang disebutnya adalah Danga, yang berada di wilayah dengan topografi lebih menjauh dari garis pantai.

Selain harus menghadapi kepanikan, Mira juga mendapati bangunan tempat tinggalnya mengalami kerusakan. Salah satu bagian yang ia sebut rusak adalah jendela di bagian belakang rumah.

Namun, saat itu Mira belum sempat memeriksa kerusakan lainnya. Ia memilih fokus untuk mengungsi dan menjauh dari bangunan, mengikuti langkah keselamatan karena guncangan belum sepenuhnya berhenti.

Hingga informasi ini disampaikan, warga Mbay yang mengungsi masih bertahan di lokasi yang lebih tinggi. Mereka bertahan sembari menunggu kondisi dinyatakan aman.

BMKG juga mengeluarkan rekomendasi evakuasi kepada pemerintah daerah pada sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak tsunami. Rekomendasi tersebut mencakup Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Manggarai Barat bagian utara, Sikka bagian utara, serta Ende bagian utara.

Langkah antisipasi tidak hanya berlaku di area NTT, karena rekomendasi evakuasi juga mencakup sejumlah wilayah di Sulawesi dan Kepulauan Selayar. Warga di wilayah pesisir diimbau mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.

Warga juga diminta memantau informasi resmi BMKG terkait perkembangan peringatan dini tsunami. Pada saat yang sama, peringatan tsunami disebut belum dicabut, sehingga evakuasi dan pengawasan informasi dinilai tetap diperlukan.

Dalam situasi seperti ini, keputusan berpindah ke tempat lebih tinggi menjadi bagian penting dari respons awal masyarakat. Cerita Mira memperlihatkan bagaimana waktu respons yang cepat—termasuk membangunkan anak-anak dan mencari jalan keluar—dapat membantu mengurangi risiko ketika bangunan berpotensi mengalami kerusakan.

Meski guncangan gempa sudah terjadi, getaran susulan dan kekhawatiran terhadap kemungkinan dampak lanjutan tetap menjadi pertimbangan utama bagi warga yang masih bertahan di pengungsian. Hingga ada pembaruan resmi, aktivitas pemantauan dan kesiapsiagaan tetap menjadi fokus mereka.

Setelah berhasil meninggalkan rumah, Mira dan keluarganya memilih tidak langsung kembali ke dalam bangunan. Mereka melanjutkan langkah keselamatan sambil menunggu situasi benar-benar lebih tenang, karena guncangan disebut belum sepenuhnya berhenti dan kekhawatiran terhadap kemungkinan kerusakan masih ada.

Di lokasi pengungsian, warga lain juga tampak mengikuti pola yang sama: bertahan di tempat yang lebih tinggi sambil terus memantau arahan resmi. Imbauan BMKG mengenai potensi terdampak tsunami membuat evakuasi tetap dipertahankan, termasuk pemantauan informasi peringatan dini, agar masyarakat di wilayah pesisir bisa menyesuaikan tindakan sesuai perkembangan terbaru.