Peristiwa

BMKG Melaporkan 54 Gempa Susulan Usai Gempa NTT Magnitudo 7,7: Tsunami Terpantau di 10 Wilayah hingga 0,94 Meter

×

BMKG Melaporkan 54 Gempa Susulan Usai Gempa NTT Magnitudo 7,7: Tsunami Terpantau di 10 Wilayah hingga 0,94 Meter

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BMKG Catat 54 Gempa Susulan Usai Gempa NTT M 7,7, Tsunami Terdeteksi di 10 Wilayah

jurnalistik.co.id – BMKG Stasiun Geofisika Kupang mencatat 54 gempa susulan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pagi.

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama, data jumlah gempa susulan tersebut disusun berdasarkan pencatatan hingga pukul 07.00 WIB.

Dalam rentang pemantauan itu, Arief menyebut gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.

Arief menjelaskan bahwa rangkaian gempa susulan berkaitan dengan keberadaan sesar aktif di wilayah utara pulau Flores. Ia juga menyinggung keterkaitan pola kejadian serupa dengan peristiwa pada tahun 1992.

“Jadi, memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara pulau Flores. Seperti juga pada tahun 1992. Jadi, ini penyebabnya adalah sesar yang di utara pulau Flores,” kata Arief saat dihubungi Kompas.com, Sabtu.

Ia menambahkan bahwa gempa susulan yang tercatat merupakan kelanjutan peristiwa yang masih dirasakan. “Iya, satu yang untuk gempa dan masih susulan ya, gempa susulannya itu satu yang dirasakan. Satu yang dirasakan. Jadi. Sekarang ini sudah 54 gempa susulan,” tambahnya.

Selain memantau aktivitas seismik, BMKG juga memperoleh hasil pengukuran terkait tsunami dari peralatan pemantau muka air laut dan tsunami gauge yang tersebar di sejumlah lokasi.

Arief menyatakan bahwa konfirmasi tsunami didapat dari data alat, dengan ketinggian yang terukur dalam skala puluhan sentimeter di beberapa titik. Ia menuturkan, secara kasat mata fenomena itu tidak selalu menonjol, kecuali kemungkinan di lokasi tertentu.

“Jadi memang secara kasat mata tidak terlalu terlihat ya, kecuali mungkin di Maurole dan Ende, tapi kita masih belum mendapatkan informasi secara visual,” katanya.

Lebih lanjut, Arief menjelaskan bahwa informasi yang diterima saat ini bersumber dari deteksi peralatan yang memang berada di lokasi pengamatan, bukan dari pengamatan visual langsung.

“Menurut Arief, data yang diperoleh BMKG saat ini berasal dari hasil deteksi peralatan yang berada di lokasi. Pengukuran menunjukkan adanya peningkatan permukaan air laut.”

Ia menyebutkan bahwa peningkatan muka air laut terjadi sesuai ketinggian yang terdeteksi oleh instrumen, sehingga mengindikasikan gelombang tsunami pada sejumlah wilayah dengan nilai yang berbeda-beda.

Berikut hasil pengukuran tsunami yang diterima BMKG: Bakalang, Alor: 0,14 meter; Baubau: 0,30 meter; Bulukumba: 0,54 meter; Dompu: 0,17 meter; Flores Timur: 0,25 meter; Kolaka: 0,23 meter; Labuan Bajo: 0,36 meter; Maurole: 0,94 meter; Kemah Pantai: 0,38 meter; dan Sikka: 0,19 meter.

Arief menegaskan bahwa ketinggian gelombang yang tercatat di sebagian besar lokasi tidak terlalu terlihat oleh pengamat di lapangan. Namun, perubahan permukaan laut tetap terdeteksi oleh alat pemantau.

Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap menjauhi kawasan pesisir. Imbauan ini diberikan terutama karena meskipun angka terukur di banyak titik berada di bawah 0,5 meter, potensi bahaya tetap dapat terjadi di area dekat pantai dan aliran sungai.

Arief menyampaikan bahwa tinggi gelombang yang terdeteksi tidak membuat kondisi dinilai membahayakan secara langsung, tetapi masyarakat diminta melakukan langkah pencegahan dengan menjauh dari pesisir dan muara sungai.

“Memang tidak tidak tidak berbahaya karena ini kan di bawah setengah meter ya, tetapi tetap saja masyarakat harus menjauhi pesisir dan muara sungai atau tepian sungai,” kata Arief.

Ia juga menegaskan bahwa imbauan agar tidak mendekati pantai tidak berhenti hanya karena tsunami sudah terdeteksi. Untuk saat ini, masyarakat tetap diminta tidak mendekati garis pantai.

“Untuk saat ini tapi tetap untuk masyarakat jangan jangan mendekati pantai,” ujarnya.

Dengan rangkaian gempa susulan yang terus tercatat serta adanya konfirmasi tsunami melalui alat pengukur, BMKG mendorong masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dan memprioritaskan keselamatan, terutama di wilayah pesisir yang menjadi zona rentan.