jurnalistik.co.id – Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota dan Provinsi Gorontalo menguatkan edukasi kesiapsiagaan bencana sejak dini melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) bertajuk HUYULA.
Kegiatan berlangsung di Rumah Pintar, Kelurahan Tanjung Kramat, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, pada Kamis (20/8/2026). Program ini dirancang untuk membantu anak-anak pesisir memahami langkah yang tepat saat bencana terjadi, sekaligus mengenalkan kesiapsiagaan melalui pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka.
Secara spesifik, PKM-PM HUYULA mengangkat judul “Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Anak Pesisir Tanjung Kramat melalui Pendekatan Huyula Berbasis Edukasi Interaktif dengan Pemanfaatan Alih Guna Sampah Plastik Pantai”. Upaya ini dilakukan dengan menghadirkan ruang belajar interaktif, agar materi kebencanaan lebih mudah dicerna sejak usia dini.
Tanjung Kramat dipilih karena merupakan wilayah yang memiliki potensi berbagai ancaman bencana, seperti gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor. Karena itu, anak-anak perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar agar mampu mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat.
Tim PKM-PM HUYULA dibimbing oleh dr. Abdi Dzul Ikram Hasanuddin, S.Ked., M.Biomed. Di sisi pelaksanaan, tim mahasiswa diketuai Nurul Fauziah Sabir, dengan dukungan Siti Muthia Sulaeman, Muh Hafizh Afriyad Lamusu, Rayhan Ramadhan Ali, serta Amanda Nuraini P. Zakaria dari Program Studi Ilmu Lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, HUYULA mengangkat nilai kearifan lokal Gorontalo, yang mengedepankan semangat gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian. Edukasi kebencanaan dikemas melalui permainan, praktik, dan simulasi agar anak-anak memahami materi tanpa terasa seperti proses yang formal.
Rangkaian edukasi dan praktik kesiapsiagaan
Sejumlah kegiatan disusun untuk memperkuat pemahaman anak-anak, mulai dari menjaga kebersihan pesisir, mengenali titik rawan dan ruang aman, memetakan jalur evakuasi, hingga membentuk Pojok Siaga. Dengan pola tersebut, anak-anak diajak tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga berlatih mengenali lingkungan dan menyiapkan respons yang sesuai.
Berita Terkait
- Cegah Karhutla, Bhabinkamtibmas Desa Buata Aipda Fadli Sunge Lakukan Imbauan Keliling
- Dua Pekerja Dievakuasi dari Terowongan Proyek Hydropower Trishuli 3A di Nepal, Lebih dari Sepekan Setelah Banjir Bandang
- Kotoran manusia dan sisa makanan busuk ditemukan di Bannau Brycheiniog: otoritas sebut “no justification”
Program juga menghadirkan pembuatan tas emergensi serta permainan edukasi mitigasi gempa dan tsunami. Pada bagian lain, anak-anak mempraktikkan pembuatan maket kawasan rawan longsor dengan memanfaatkan bahan daur ulang, sebagai cara agar pengetahuan kebencanaan dapat dipelajari secara konkret.
Pembelajaran dilengkapi simulasi digital menggunakan Minecraft, latihan pertolongan sederhana, komunikasi darurat, serta praktik evakuasi dan penyelamatan korban. Pendekatan berlapis ini diarahkan agar keterampilan yang dipelajari bisa terhubung dengan tindakan nyata saat situasi darurat berlangsung.
Salah satu kegiatan penting digelar melalui Simulasi Siaga bersama BPBD Provinsi Gorontalo dan BPBD Kota Gorontalo pada 20 Agustus 2026. Dalam simulasi tersebut, anak-anak Rumah Pintar mempraktikkan pengetahuan yang telah mereka dapatkan selama mengikuti rangkaian Program HUYULA.
Harapan program bagi anak-anak pesisir
Ketua Tim PKM-PM HUYULA, Nurul Fauziah Sabir, menyampaikan bahwa program dibuat agar edukasi kebencanaan dapat diterima anak-anak dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. “Melalui HUYULA, kami ingin anak-anak pesisir tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga memiliki keterampilan dan keberanian untuk mengambil tindakan yang tepat,” ujar Nurul.
Selain menekankan kesiapsiagaan bencana, program ini juga mengajak anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan pesisir. Sampah plastik yang ditemukan di kawasan pantai dimanfaatkan kembali sebagai bahan untuk membuat media pembelajaran, sehingga kepedulian lingkungan berjalan beriringan dengan edukasi kebencanaan.
Untuk menjaga keberlanjutan, tim HUYULA membentuk Duta Siaga Bencana dari anak-anak Rumah Pintar. Mereka diharapkan dapat menjadi agen edukasi sebaya dan membagikan pengetahuan kebencanaan kepada anak-anak lainnya, agar dampak program tidak berhenti pada saat kegiatan berlangsung.
Hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta setelah mengikuti rangkaian kegiatan. Program ini juga menghasilkan berbagai media edukasi, seperti tas emergensi, board game bencana, serta maket tiga dimensi.
Melalui kolaborasi mahasiswa UNG, Rumah Pintar Tanjung Kramat, dan BPBD Kota serta Provinsi Gorontalo, Program HUYULA diharapkan dapat menumbuhkan budaya sadar bencana sejak usia dini serta membentuk anak-anak pesisir yang lebih siap dan tangguh menghadapi bencana.









