jurnalistik.co.id – Otoritas Taman Nasional Bannau Brycheiniog mengungkap temuan yang menguap seperti peringatan keras di kawasan mereka: kotoran manusia dan sisa makanan yang sudah membusuk ditemukan tertinggal setelah akhir pekan libur bank.
Insiden ini disebut terjadi di area wisata alam selatan Wales, dekat Llyn y Fan Fawr, di bagian barat taman. Temuan itu mencakup makanan yang tertutup belatung, serta bangunan/kemah yang ditinggalkan.
Dalam pernyataannya, pihak taman menyebut tidak ada alasan untuk tindakan itu. Mereka juga menilai ada “change in attitude” di kalangan pengunjung di lokasi-lokasi indahnya, yang kemudian memicu meningkatnya pembuangan sampah dan sampah yang ditinggalkan begitu saja.
Otoritas taman menyatakan, “Unfortunately, across this summer, it’s not been unusual,” dan menyebut kejadian tersebut sebagai “one of the worst” yang pernah mereka lihat. Penilaian itu muncul setelah rangkaian kebakaran liar yang berlangsung lama di wilayah tersebut.
Di akun media sosial, pihak taman menyampaikan penegasan yang langsung. Mereka menulis, “This is not wild camping. This is fly-tipping and littering.” Pernyataan itu merujuk pada penemuan di lapangan yang melibatkan sebuah tenda yang “full of kit”.
Menurut penuturan otoritas, seorang petugas (warden) menghabiskan akhir pekan libur bank untuk membersihkan tenda tersebut, yang berisi kursi, sebuah barbeque (BBQ), serta dua kantong berisi makanan yang dipenuhi belatung. Selain itu, petugas juga menemukan kotoran manusia di lokasi.
Pihak taman menambahkan imbauan agar pengunjung bertindak bertanggung jawab: “When out enjoying nature, respect your surroundings. Leave no trace and take everything back home with you. There is no justification for this behaviour.” Pesan itu menempatkan prinsip “leave no trace” sebagai inti dari etika kunjungan ke alam.
Bronwyn Larry, kepala komunikasi untuk otoritas taman nasional, mengatakan ini bukan pertama kalinya para warden menemukan “abandoned ‘wild camps’”. Meski begitu, ia menilai situasi tampak “increasing”, dengan dampak yang semakin mengganggu pemandangan.
Ia menggambarkan bahwa orang datang ke area tersebut untuk menikmati pemandangan yang indah dan sudut pandang yang bagus, tetapi kini mereka berhadapan dengan sampah. Menurutnya, perubahan itu “disturbing” karena merusak kualitas pengalaman di lokasi yang seharusnya menjadi ruang rekreasi.
Berita Terkait
Larry juga mengatakan pihaknya kesulitan memahami bagaimana cara berdiskusi dengan pengunjung terkait masalah ini, karena pergeseran menuju lebih banyak kasus pembuangan liar terasa “baffling”. Ia menekankan bahwa ini tidak terbatas pada taman mereka saja; ia menyebut pola yang serupa tampak terjadi di taman nasional lain juga.
Dalam penjelasannya, otoritas menyampaikan mereka terus mengirim pesan seputar The Countryside Code, termasuk pengingat agar pengunjung membawa pulang semua yang mereka bawa. Larry menggambarkan kebiasaan tersebut sebagai “second nature” bagi mereka yang memahami aturan berkunjung.
Sejumlah pihak sebelumnya sempat mengaitkan kenaikan kasus pembuangan liar dengan peran media sosial. Tempat yang dianggap “Instagrammable” disebut dapat menarik wisatawan yang kemudian didorong untuk meneliti dan menghormati area yang dikunjungi.
Namun Larry menyampaikan bahwa banyak “influencers” juga datang ke lokasi tersebut, dan secara umum pesan mereka “generally … around visiting responsibly” karena mereka ingin semuanya tetap terasa baik. Karena itu, ia mengatakan, “So it’s really difficult to understand where this change of attitude is coming from.”
Mengenai akhir pekan libur bank tersebut, pihak taman menilai kejadian itu sebagai “one of the worst examples that we have come across”. Walau demikian, mereka menyatakan bahwa menemukan BBQ yang dibuang, kaleng minuman (beer cans), dan makanan yang membusuk bukanlah hal yang sepenuhnya mengejutkan.
Larry menjelaskan logikanya dengan kalimat yang tegas: “Logic says it’s lighter to carry back once you’ve eaten and drank it all than it is to carry it out there.” Ia juga mengulang ajakan agar pengunjung datang untuk bersenang-senang, tetapi tetap menjaga jejak: “Come and have a nice time, but leave no trace.”
Menurutnya, frasa “leave no trace” yang tercantum dalam kode etik berkunjung telah lama dikaitkan dengan tempat-tempat keindahan, tetapi tetap relevan hingga hari ini. Ia juga menegaskan bahwa The Countryside Code menyatakan membuang sampah sembarangan serta melakukan pembuangan barang/rongsokan merupakan tindak pidana: “dropping litter and dumping rubbish are criminal offences”.
Ia menambahkan bahwa para warden sempat menjalankan tugas mendukung upaya pemadam kebakaran liar. Setelah itu, “the first rainy weekend” justru diisi dengan aktivitas membersihkan “abandoned wild camps”. Situasi tersebut, menurutnya, tidak berhenti pada tampilan yang berantakan.
“It has a knock-on effect on wildlife,” ujar Larry. Ia menegaskan masih ada risiko kebakaran, pencemaran dapat mengotori air, dan dampaknya “affects everything, not just it looking nice.” Dengan kata lain, sampah yang ditinggalkan bukan sekadar masalah kebersihan visual, melainkan persoalan lingkungan yang luas.
Dengan temuan kotoran manusia, makanan berbelatung, serta perangkat kemah yang ditinggalkan, otoritas taman nasional menutup peringatan itu dengan pesan bahwa perilaku seperti “fly-tipping and littering” tidak punya pembenaran. Mereka meminta pengunjung mempraktikkan etika “leave no trace” secara nyata—bukan hanya ketika cuaca mendukung, melainkan setiap kali berada di alam.












