Olahraga

Piala Dunia 2026: Di mana salahnya Marcelo Bielsa bersama Uruguay?

×

Piala Dunia 2026: Di mana salahnya Marcelo Bielsa bersama Uruguay?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Where did it gone wrong for Marcelo Bielsa's Uruguay?

jurnalistik.co.id – Uruguay tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kekalahan 1-0 dari Spanyol di Guadalajara, yang sekaligus memastikan mereka mengalami kegagalan beruntun di fase grup. BBC Sport menelusuri apa yang dianggap keliru dalam periode kepelatihan Marcelo Bielsa bersama tim tersebut.

Di momen yang terasa “pas”, akhir masa jabatan Bielsa sebagai pelatih Uruguay dibingkai lewat sebuah refleksi yang keras dan jujur. Usai kekalahan itu, Bielsa menyatakan ia bertanggung jawab atas kekecewaan tersebut, dan menegaskan komitmennya bahwa kontribusi yang tidak menghasilkan hasil tidak akan berakar.

Bielsa mengingatkan, “I am responsible for this disappointment,” sambil merujuk pesan sebelumnya kepada awak media sebelum turnamen, “I am toxic”. Ia menambahkan bahwa bila ditanya bagaimana waktunya bersama tim nasional akan dikenang, periode itu “left nothing behind”, serta “I leave nothing to Uruguayan football, because any contribution I might make to a country where I have worked for three years fails to take root if results aren’t achieved.”

Gambaran yang paling membekas dari tiga tahun masa Bielsa mungkin datang dari pergantian kiper di babak pertama. Ketika kesalahan Fernando Muslera memberi Spanyol keunggulan, Bielsa melakukan substitusi pada momen yang krusial, dan Muslera—yang kembali dari masa pensiun internasional pada Maret atas permintaan Bielsa—mencatat rekor pahit: ia menjadi kiper pertama dalam sejarah yang melakukan tiga kesalahan yang berujung gol dalam satu Piala Dunia.

“Muslera decided to come off at half-time,” kata Bielsa. Pelatih asal 70 tahun itu juga menjelaskan keputusan lain saat pertandingan berlangsung: ia menarik kapten Federico Valverde pada babak kedua karena ingin menambah sosok yang lebih berkarakter fisik untuk serangan. “The decision I took was not to undermine Muslera’s confidence, but rather to maintain it.” Muslera sendiri tercatat menjalani penampilan internasional ke-137—dan kemungkinan penampilan internasional terakhir.

Awal yang menjanjikan, lalu pola yang tidak lagi cukup

Meski krisis performa terlihat jelas sepanjang turnamen ini, Bielsa tak sepenuhnya menutup kisah dengan kerja yang serampangan. Artikel BBC menilai ada momen-momen ketika Uruguay terlihat berada di atas kualitas banyak tim lain, terutama setelah Bielsa mengambil alih sebuah tim yang membutuhkan perubahan generasi pasca Piala Dunia Qatar.

Uruguay disebut mendapat grup yang “well suited” untuk gaya menyerang dinamisnya. Di babak kualifikasi Piala Dunia Amerika Selatan, mereka memulai dengan sangat kuat: menang tandang atas Argentina, mengalahkan Brasil, dan setelah enam putaran mencetak gol hampir dua kali lipat dibanding tim lain mana pun. Namun setelah itu, arah berubah, dengan titik balik yang disebut muncul pada Copa America 2024.

Uruguay memulai Copa America 2024 dengan rentetan gol, tetapi kemudian “hit a wall”. Pada November, mereka dihajar 5-1 oleh Amerika Serikat—dengan Mauricio Pochettino, mantan anak didiknya, menjadi bagian dari cerita itu. Ketika mereka sempat menarik hasil imbang melawan Inggris di Wembley pada bulan Maret, mereka bahkan “barely crossed halfway”, sebuah gambaran yang dianggap tak terpikir untuk tim Bielsa.

BBC Sport lantas menanyakan apakah model Bielsa menjadi terlalu mudah diprediksi. Gaya high-press yang menekan sampai sesak pernah dianggap revolusioner, tetapi kini dinilai sudah menjadi arus utama. Dalam periode persiapan menuju turnamen, Uruguay juga disebut tidak memainkan laga uji coba sebelum Piala Dunia. Alih-alih, mereka menjalani kerja intensif di tempat latihan yang melahirkan sistem baru: Valverde ditempatkan melebar di kanan dan menggunakan dua penyerang.

Sistem itu disebut gagal pada fase awal, karena dihentikan pada babak pertama saat menghadapi Arab Saudi. Setelah keputusan tersebut, Uruguay kembali ke formasi 4-3-3 yang lebih familiar, dan performa mereka membaik. Setelah turun minum, dan juga saat hasil 2-2 melawan Tanjung Verde, Uruguay setidaknya menciptakan peluang. Tetapi artikel menekankan bahwa tanpa dua momen “self-destruction”, mereka seharusnya bisa lolos ke babak 32 besar dengan masih menyisakan satu pertandingan.

Relasi personal, gaya komunikasi, dan suasana ruang ganti

Namun, BBC Sport menganggap persoalan tak bisa dijelaskan hanya lewat taktik. Penjelasan yang lebih meyakinkan justru diarahkan pada hubungan personal. Artikel menyebut bahwa pertemuan selama satu bulan bersama tim pada Copa America 2024 tampak menekan ruang ganti, dan hal itu pula disinggung oleh Luis Suárez saat ia pensiun dari sepak bola internasional.

Suárez menggunakan konferensi pers untuk mengkritik apa yang ia anggap sebagai kurangnya kehangatan Bielsa, perlakuan terhadap pemain, dan suasana kamp yang tegang. Dalam momen penting, tidak ada seorang pun di skuad yang bergerak untuk membantah pernyataan Suárez, bahkan ketika Suárez adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa Uruguay.

Selain itu, BBC Sport menuliskan bahwa Agustin Canobbio—sayap yang kemudian dikartu merah pada menit-menit akhir saat Uruguay kalah dari Spanyol—sebelumnya terlibat perselisihan dengan Bielsa. Titik pecahnya disebut terjadi ketika pelatih mengkritik cara Canobbio duduk. Setelah kekalahan telak oleh Amerika Serikat, Bielsa berbicara terbuka tentang kesulitan dirinya dalam menjalin relasi: ia menggambarkan diri sebagai “toxic perfectionist”.

Hal itu membuka kemungkinan bahwa campuran kepribadian Bielsa yang cenderung jauh dan eksentrik mungkin kurang efektif di era pemain modern yang sering mencari hubungan personal yang lebih kuat dengan pelatihnya. Bielsa sendiri pernah merefleksikan—dengan cara yang khas penuh pertimbangan—bahwa meski ada kemajuan dalam sports science, antusiasme lebih penting daripada persiapan untuk membuat sebuah tim berfungsi.

BBC Sport kemudian menyimpulkan bahwa selama dua tahun terakhir, Bielsa terlihat tidak mampu menanamkan kualitas antusiasme tersebut dalam cukup kadar. Di saat yang sama, ia juga disebut tampak tak sepenuhnya selaras dengan permainan modern. Ia mengkritik jeda hidrasi turnamen sebagai bagian dari “Bielsa-ese”, dengan mengatakan jeda itu “interfere with the culturally constructed conception of interpreting football. They add nothing…”

Bielsa juga menolak terlibat dalam sesi foto resmi Piala Dunia. Setelah fotonya diambil ketika ia menatap lantai, ia berkata, “I’m not a model”. Menurut artikel, prospek bahwa ia akan mundur setelah turnamen justru tidak menghadirkan energi baru di ruang ganti. Uruguay—sebuah negara dengan dampak global yang disebut lebih besar daripada populasi 3,4 juta—diprediksi akan kembali. Sementara itu, untuk Bielsa, satu di antara karier kepelatihan paling menarik di sepak bola, mungkin saja sudah mencapai akhir.