jurnalistik.co.id – Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun di China ditahan setelah mengemudikan mobilnya sendiri di jalan tol selama lebih dari enam jam. Kejadian ini berawal dari temuan petugas tol terhadap anak tersebut pada 15 Juni.
Bocah itu, yang bernama Luo, berasal dari daerah otonom Guangxi Zhuang. Petugas tol melihat perawakannya yang dinilai tidak biasa dan kemudian menghentikannya saat berada di jalan tol.
Dalam pemeriksaan awal, Luo mengaku sebagai orang dewasa. Ia menyatakan dirinya mengalami dwarfisme atau kerdil, sehingga menurutnya ia dapat mengendarai kendaraan.
Namun, polisi menilai pengakuan tersebut tidak sesuai dengan status usianya. Setelah ditelusuri lebih jauh, aparat menyimpulkan Luo tetaplah anak dan tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan surat izin mengemudi berdasarkan hukum China.
Awalnya Mengaku Sedang Mengantar Keluarga
Kepada petugas, Luo mengatakan bahwa ia sedang mengemudikan mobil milik bibinya untuk menuju rumah neneknya. Versi itu kemudian dipertanyakan setelah polisi melakukan kontak lebih lanjut.
Ketika polisi menghubungi ayah Luo, diketahui sang ayah ternyata tidak menyadari bahwa anaknya bisa mengemudi. Informasi tersebut membuat penyelidikan mengarah pada kemungkinan lain terkait asal mobil yang dikendarai.
Polisi juga mengonfirmasi bahwa kendaraan yang digunakan Luo sebenarnya merupakan milik tetangganya. Tetangga itu baru menyadari mobilnya hilang ketika polisi menghubungi dan memberi tahu kejadian tersebut.
Mengemudi 6 Jam, Gunakan Sandal
Selama proses penelusuran, polisi mencatat Luo telah berkendara di jalan tol selama lebih dari enam jam sebelum akhirnya diberhentikan. Dalam penghentian tersebut, Luo juga diketahui mengenakan sandal, yang dinilai sebagai pelanggaran keselamatan berkendara menurut aturan lalu lintas.
Pihak berwenang menyatakan Luo meninggalkan rumah sekitar pukul 4 pagi. Setelah itu, ia memasuki jalan raya kira-kira 45 menit kemudian dan langsung melanjutkan perjalanan di jalur tol.
Menurut keterangan, Luo masuk ke jalan tol setelah mencuri kunci kendaraan dari tetangganya. Mobil kemudian dikendarainya tanpa terdeteksi oleh petugas jalan tol selama periode yang panjang tersebut.
Perhentian akhirnya terjadi ketika uang yang disiapkan Luo dalam amplop merah untuk membayar biaya tol habis. Amplop itu berisi “uang keberuntungan”, namun pada titik tertentu dana tersebut sudah tidak lagi cukup sehingga Luo akhirnya tertangkap.
Alasan Mencoba, Orang Tua Dipanggil
Kepada polisi, Luo mengatakan ia ingin mencari sensasi. Ia mengaku belajar mengemudi sendiri dan pernah mengemudi sendirian di jalan umum sebelumnya.
Polisi lalu lintas menegaskan tindakan tersebut sangat berbahaya. Mereka menilai ada risiko yang signifikan terhadap keselamatan jalan raya akibat seorang anak mengemudikan kendaraan tanpa persyaratan dan pengalaman yang sesuai.
Akibat insiden ini, polisi memanggil orang tua Luo dan pemilik mobil ke kantor polisi. Di lokasi pemeriksaan, Luo diberi penjelasan mengenai aturan keselamatan lalu lintas serta bahaya mengemudi bagi anak di bawah umur.
Pihak berwenang juga mengeluarkan peringatan kepada wali anak tersebut. Dalam peringatan itu, polisi menyoroti kelalaian yang diduga terjadi karena tidak memastikan pengawasan dan edukasi keselamatan bagi anak.
Selain itu, polisi mendesak pihak keluarga untuk memahami tanggung jawab perwalian mereka dengan serius. Aparat juga mendorong perlunya pendidikan tentang keselamatan lalu lintas serta kesadaran hukum bagi masyarakat, terutama dalam upaya mencegah kejadian serupa.
Untuk mencegah pengulangan, tetangga yang mobilnya dipakai Luo juga diberi nasihat. Polisi menekankan pentingnya pengamanan kunci kendaraan dengan benar agar tidak mudah diambil atau digunakan tanpa izin.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana kesenjangan antara klaim dan realitas usia dapat memunculkan situasi berbahaya di jalan. Di saat yang sama, tindakan pengawasan keluarga dan pengamanan aset kendaraan menjadi titik penting yang ditekankan aparat dalam penanganan perkara.
Dengan latar tersebut, polisi berharap kejadian ini menjadi pelajaran, baik bagi wali anak maupun pemilik kendaraan. Edukasi yang tepat dan pengendalian risiko diyakini dapat mengurangi bahaya yang mengancam keselamatan pengguna jalan lain.












