jurnalistik.co.id – Format Piala Dunia yang diperluas membuat ambisi tim nasional Skotlandia pada edisi 2026 sempat terasa lebih dekat, terutama setelah mereka mengakhiri paceklik panjang di turnamen tersebut. Namun, harapan untuk merasakan fase gugur ternyata bergantung pada rangkaian hasil yang sangat tidak biasa di tempat lain.
Di Grup yang dihadapi Skotlandia, undian mereka dinilai “brutally tough”, dengan Brasil dan Maroko masing-masing menempati peringkat 5 dan 6 dalam ranking FIFA. Tidak ada grup lain yang memiliki dua tim peringkat sepuluh teratas sekaligus, sehingga Skotlandia memang sejak awal berada dalam situasi yang rumit.
Tim asuhan Steve Clarke ditargetkan finis di posisi ketiga, dan mereka memang berhasil mengamankan tempat itu. Mereka meraih kemenangan setelah mengalahkan Haiti, sekaligus mempertahankan posisi yang—setidaknya di atas kertas—memberi peluang menuju babak berikutnya.
Tetapi peluang itu tidak serta-merta berujung. Dari 12 tim peringkat ketiga, empat di antaranya gagal melaju, sehingga Skotlandia justru harus menelan kenyataan pahit karena Cape Verde, Ghana, dan Bosnia-Herzegovina terus berlanjut. Dalam skenario yang sama, DR Congo diperkirakan ikut masuk daftar “pot four nations” yang lolos.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan baru mengenai apakah Clarke sudah benar-benar memaksimalkan skuadnya di Amerika Serikat. Kontrak empat tahun memang ia tanda tangani sebelum turnamen, namun ketatnya evaluasi tetap membuat namanya kembali masuk dalam sorotan.
Kritik terhadap Clarke bahkan dibandingkan dengan masa setelah Euro 2024 ketika performa dinilai mengecewakan. Willie Miller—yang pernah tampil di Piala Dunia 1982 dan 1986 untuk Skotlandia—menilai ada penampilan yang tidak sesuai harapan pada tiga laga tersebut.
Menurut Miller, “Over the three games you’re definitely looking at below-par performances.” Ia juga menengok momen Denmark pada November, ketika Skotlandia menang 4-2 untuk mengunci kualifikasi, tetapi perbedaan level itu dianggap tidak tercermin di fase grup Piala Dunia.
Miller menyebut salah satu masalah paling menonjol adalah posisi striker kelas atas. Ia mengatakan “a major issue” terkait kekurangan tersebut, sekaligus menambahkan bahwa ia “uncertain about the logic of a few selections”.
Meski begitu, Miller tidak meniadakan kontribusi Clarke. Ia menegaskan, “He got us there and that’s what the Scotland manager’s job is,” sambil menilai perubahan kunci yang ia lihat adalah tumbuhnya kekompakan yang lebih nyata di dalam skuad. “He has introduced a real togetherness in the squad as well, which wasn’t always the case,” tambahnya.
Clarke sendiri tercatat sebagai manajer terlama Skotlandia, dengan 81 pertandingan di bawah tangannya. Dukungan dari Asosiasi Sepak Bola Skotlandia juga disebut tegas, antara lain karena kas mereka meningkat seiring keterlibatan di tiga dari empat final besar terakhir.
Berikutnya, Euro 2028 akan digelar di Skotlandia bersama Inggris, Wales, dan Republik Irlandia, sehingga tuan rumah memiliki tantangan sekaligus kepentingan besar untuk lolos. “I’m sure he can go again over the next few years if he wants to,” kata Miller, menganggap perpanjangan kontrak sebagai langkah yang “a positive step”.
Meski demikian, evaluasi permainan tetap menyoroti sejumlah aspek yang dinilai merugikan Skotlandia. James McFadden—mantan penyerang—menilai, “The defending was certainly below the standard we’re used to and the errors were costly. “I just feel the players could have shown more.”
Menurutnya, ada hal yang semestinya bisa dibuat lebih baik saat melawan Maroko, terutama keberanian untuk “having a go.” Ia juga menyinggung persepsi mengenai momen penalti dan kartu merah, dengan menyatakan hal itu “nothing to do with the manager and players”.
Namun pada laga menghadapi Brasil, McFadden menyebut Skotlandia “gave them two gifts.” Ia menggambarkan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi menjadi pintu bagi lawan untuk memaksimalkan peluang mereka.
Stephen O’Donnell juga ikut menempatkan hasil dalam perspektif yang lebih realistis. Ia merujuk pada pencapaian Skotlandia, termasuk fakta mereka kembali tampil di Piala Dunia setelah 28 tahun, serta meraih kemenangan pertama sejak 1990.
O’Donnell menyatakan, “I don’t think anyone can realistically be saying we should be getting more than three points.” Ia juga menekankan, “We got beat 4-0 on aggregate by two of the top teams in the world,” dan “There’s no shame in that,” meski ia mengakui ada rasa frustrasi terhadap cara gol-gol tersebut tercipta.
Ia membandingkan perjalanan Cape Verde, yang menurutnya melaju dengan tiga hasil imbang dan memiliki grup yang “far easier than Scotland’s.” Dari sudut pandangnya, kemenangan yang diraih Skotlandia membawa “progression” karena mereka gagal mencatat capaian serupa pada dua turnamen sebelumnya, yaitu Euro 2020 dan Euro 24.
Dalam penilaian yang lebih berorientasi ke masa depan, O’Donnell percaya “there is momentum building” bagi tim nasional. “It’s got to inspire the next generation of players,” ujarnya, serta menyinggung bahwa kritik terhadap gaya permainan bisa saja muncul.
Ia menambahkan, “Whether or not people say we were better in the past, we have won a game at the World Cup and that hasn’t happened for 36 years.” Dengan demikian, O’Donnell melihat progres sejak Steve Clarke mulai menjalankan tugasnya, sambil tetap membuka kemungkinan peningkatan lebih lanjut.
Aspek strategi dan keberanian juga disorot oleh Pat Nevin. Ia menegaskan batas kemampuan tim, mengatakan “We have to understand our limitations,” lalu menilai pelabelan “ultra defensive” tidak sepenuhnya tepat berdasarkan pilihan pemain seperti Ben Gannon-Doak, John McGinn, Scott McTominay, dan Lawrence Shankland.
Nevin justru menyoroti sisi lain: “A lack of conservatism was his downfall to a degree – because we’re not good enough to be that open.” Ia bahkan menyebut, “I’d have gone with a back five for every game,” karena menurutnya Skotlandia yang mencoba menyerang justru “got absolutely found out.”
Di tengah tekanan yang diarahkan kepada Clarke, muncul pula pertanyaan apakah ia akan memutuskan mundur. Nevin menjawab dengan menyebut kemungkinan pikiran untuk pergi memang ada, tetapi ia menilai proses membangun ulang tetap menjadi pekerjaan yang tidak mudah.
Ia menyimpulkan bahwa Clarke tetap bertahan, karena pengalaman-pengalaman tertentu membuatnya “loved what he’s seen in moments.” “I think he’s fallen in love with it and he’ll definitely stick it out,” kata Nevin, sekaligus menekankan bahwa kualitas yang sudah ditunjukkan memberi alasan untuk terus melanjutkan proyek tersebut.
Pada akhirnya, posisi Skotlandia di Grup C dan hasil di tempat lain membuat jalan menuju fase gugur terhenti lebih cepat dari yang diinginkan. Meski demikian, seperti disampaikan beberapa nama di atas, keberhasilan mengakhiri paceklik kemenangan di Piala Dunia, ditambah adanya progres yang mulai terlihat, tetap menjadi fondasi yang bisa dibawa menuju siklus berikutnya.












