jurnalistik.co.id – Tes penentu di Trent Bridge memasuki hari ketiga dengan ritme yang terus berubah, membuat peluang England makin menipis. Di akhir permainan, New Zealand mencapai 120-3 dan memegang keunggulan 204, setelah sempat terjadi kebuntuan yang berujung pada lonjakan drama di papan skor.
Partai Rothesay Test di Trent Bridge memperlihatkan betapa cepat kondisi lapangan beralih. Setelah dua hari sebelumnya terlihat relatif datar, permukaan mulai “membongkar diri” dan memberi efek yang membuat bola datang dengan karakter yang tidak lagi seragam.
New Zealand menutup innings pertama mereka dengan 438, dipimpin Devon Conway 157 dan Tom Latham 151. Sementara itu, untuk England, Ben Stokes mencatat 4-70, tetapi tim tuan rumah harus menerima kenyataan bahwa mereka masih tertinggal sebelum memulai fase lanjut.
England kemudian meraih 354. Reece Duckett mencetak 113 dan Jacob Bethell 74, sedangkan Nathan Smith mengakhiri innings dengan 4-91. Hasil tersebut membuat England terseret ke posisi 84 di belakang pada innings pertama, sebelum hari ketiga benar-benar menguji ketahanan mereka.
Mulai babak hari ketiga, England punya kesempatan untuk memangkas jarak ke angka 438, namun tiga wicket kunci jatuh dalam rentang enam overs awal. Joe Root keluar untuk 21, Jacob Bethell tetap berhenti di 74 tanpa menambah skor dari semalam, lalu Jamie Smith hanya mampu membuat satu angka. Setelah itu, enam wicket berikutnya memang tidak terjadi secara berurutan, tetapi penutupan innings berlangsung pahit: England kehilangan tiga wicket terakhir hanya dalam empat run dan akhirnya tersingkir sebagai 354 all out.
Di kubu tamu, Zak Foulkes menjadi salah satu faktor yang langsung mengubah arah laga. Ia masuk pada Jumat sebagai concussion sub untuk Blair Tickner dan kemudian mengambil tiga wicket yang jatuh pada hari Sabtu, termasuk ketika menghapus Brook serta Ben Stokes dari permainan.
Perubahan lapangan yang membuat laga makin sulit tidak hanya terlihat dari angka, tetapi juga dari tempo pertandingan. Pada dua hari pertama, hanya 12 wicket yang jatuh, namun pada hari Sabtu saja 11 wicket tercatat menyusul, sejalan dengan panas yang “membakar” permukaan.
Menjelang pertandingan, kapten Ben Stokes menyebut timnya berada dalam kondisi tekanan paling tinggi, “highest pressure”, dibandingkan titik lain dalam empat tahun masa jabatannya. England kemudian bersua dengan New Zealand yang kehilangan tiga pemain kunci, yakni Matt Henry, Kyle Jamieson, dan Glenn Phillips, namun tetap saja tantangannya terasa berat saat keunggulan New Zealand melebar.
Memori England di Trent Bridge pada 2022 menjadi pengingat yang kontras. Saat itu mereka meraih kemenangan yang sangat bersejarah melawan New Zealand di tempat yang sama, tetapi dengan kondisi lapangan yang jauh berbeda—sebuah momen yang sering dihubungkan dengan kelahiran Bazball. Kali ini, narasinya berpotensi berakhir berbeda, terutama jika England gagal membalikkan situasi dalam match ini dan seri.
Upaya England menemukan jalan melalui pukulan awal juga tidak sepenuhnya sia-sia, terutama setelah sesi teh. Jofra Archer memberi dorongan besar bagi penonton ketika ia menekan lini atas New Zealand: pada bola terakhir di over pertama, ia mengunci Tom Latham di area shin, lalu memaksa perubahan arah setelah sentuhan yang membuat kapten tamu tersentak.
Archer kemudian membuat Devon Conway dipukul hingga mengenai helmet, dan empat bola berselang left-hander tersebut harus berhenti di second slip. Ravindra masuk di nomor empat dengan niat melakukan serangan balik, sementara Henry Nicholls mendapat tekanan langsung dari Josh Tongue, termasuk ketika terjadi peluang yang menguji koordinasi Brook di wide slip sebelum akhirnya Gus Atkinson menciptakan nick berikutnya.
Pada titik tertentu, New Zealand sudah memimpin 135 dengan tujuh wicket masih tersisa. Daryl Mitchell hadir untuk menggali ketahanan bersama Ravindra, tetapi laju skor Ravindra melambat sehingga England tidak segera mendapatkan momen pemulihan penuh. Ben Stokes sempat melancarkan spell enam-over, namun tidak membawa hasil yang menentukan, sementara Shoaib Bashir hampir meraih peluang besar saat mencoba menangkap Mitchell dalam sapuan sebelum jeda penutupan permainan.
Ravindra dan Mitchell akhirnya bertahan tanpa kehilangan wicket, dengan kemitraan mereka bernilai 69. Keduanya berakhir di situasi akhir hari ketiga dengan Ravindra 60* dan Mitchell 26 n.o., sehingga New Zealand punya ruang lebih lebar untuk mengendalikan seri, baik secara pertandingan maupun secara psikologis.
Bagian yang paling menyulitkan England datang ketika mereka mulai tersapu oleh “opening burst” dari New Zealand setelah memiliki peluang untuk mengambil posisi. Delapan bola setelah mulai, Root jatuh lbw ke Nathan Smith, dalam kondisi Tom Blundell sebagai wicketkeeper berdiri sangat dekat stumps, dan keputusan itu adalah call yang kembali menegaskan pola di tiga innings beruntun ketika Root terjebak leg before terhadap seamer dengan keeper up.
Tak lama kemudian, Bethell protes pada bola dari Will O’Rourke yang sebenarnya bisa ditinggalkan, lalu ujungnya menjadi edge ke second slip. Jamie Smith juga terseret oleh skenario yang sama: ia terjebak menekan tembakan ke Nathan yang memiliki nama serupa, sekaligus memperpanjang catatan buruknya dengan dua masalah sekaligus—gagal menambah angka dan sejumlah tangkapan tak mampu menjadi poin.
Stokes kemudian tampil untuk pertama kalinya sejak dinyatakan tidak tersedia untuk Test kedua, dan kedatangannya disambut standing ovation. Ia sempat menambah 56 bersama Brook, sebelum menjadi korban pertama Foulkes dengan bola yang “mencabik” kembali ke arah stumps. England lalu berada dalam posisi 148 di bawah, dengan harapan bertumpu pada Brook.
Brook bertahan dengan cara yang terukur, menyelesaikan 58 dengan 80 bola, sebelum akhirnya tumbang oleh bola tajam dari Foulkes yang mengarah in lalu kemudian lurus kembali. Setelah itu, Atkinson bertahan selama dua jam, terlebih dahulu bersama Brook dan kemudian bersama Archer.
Ketika Archer menghadang bola second new ball ke arah slip dan memaksa reli keluar dari Smith, England segera kehilangan kendali. Dengan keadaan New Zealand yang berakhir 120-3, hari ketiga di Trent Bridge benar-benar menjadi penentu: bukan hanya karena angka, tetapi karena cara lapangan mengunci ritme permainan dan menempatkan England dalam posisi yang semakin terdesak.











