jurnalistik.co.id – Suasana malam di Miami, Jumat, terasa seperti ruang tunggu menjelang akhir yang tak pasti. Di sebuah bar di East Flagler Street, musik menyala sementara perhatian tertuju pada satu hal: harapan Piala Dunia Skotlandia.
Scott Mullen, dari BBC Sport Scotland, menggambarkan Miami dengan detail yang hidup. Lampu di sekitar layar sempat berkedip, seperti mengiringi figur-figur yang muncul di momen-momen permainan.
Kylian Mbappé terlihat “melayang” di bayang-bayang, hanya tampak ketika nomor 10 pada punggungnya menyala dengan warna putih. Lamine Yamal, hanya beberapa yard dari posisinya, terus mengamati suasana tanpa banyak bicara.
Di sisi lain keramaian, empat pemain asal Kolombia berkumpul rapat, berdiskusi tentang taktik dan merencanakan langkah berikutnya. Sementara itu, Erling Haaland membawa sepiring keripik lalu kembali ke Mrs Haaland di tengah hiruk-pikuk asap mesin asap dan kebisingan bar.
Di ujung ruangan, sebuah layar proyektor besar menampilkan pertandingan: Belgia melawan Selandia Baru. Pertarungan itu menjadi laga besar pada malam penultimate babak grup. Musik terus ditingkatkan, gelas-gelas bir bergetar, dan di banyak televisi kecil lain, pertandingan Mesir berhadapan dengan Iran turut berlangsung.
Bagi lima orang Skotlandia yang duduk di pusat lantai, keramaian bukan penentu. Mereka terlihat paling “menonjol” justru karena pergerakan mereka cenderung tertahan—pikirannya tertuju pada hasil yang belum pasti, sementara suara pesta mengalir di sekelilingnya.
Semua harapan itu bersandar pada skenario yang tipis. Pelatih Skotlandia, Steve Clarke, disebut sudah “menyerah” pada kemungkinan timnya lolos dari grup, namun lima orang ini tidak menunjukkan tanda menyerah yang sama.
Mereka digambarkan berada dalam kombinasi yang menyulitkan: kegagalan memanfaatkan peluang dan kebiasaan merusak ritme sendiri. Dalam narasi itu, mereka “butuh snooker”—bahkan digambarkan perlu bantuan yang mustahil: bermain dalam keadaan diborgol mata, tanpa bola cue.
Secara peluang, Skotlandia perlu empat tim peringkat ketiga menyelesaikan laga dengan tiga poin dan selisih gol lebih buruk dari -3, atau dengan poin yang lebih sedikit. Hingga kemenangan Spanyol pada bagian awal malam di Miami, pola yang terjadi justru berlawanan dengan kebutuhan Skotlandia.
Ketika Mesir mulai unggul, arah peluang ikut bergeser. Setelah itu, skenario Skotlandia menjadi semakin menuntut: mereka tampaknya memerlukan dua kemenangan dari tiga grup yang masih belum pasti pada hari Sabtu berikutnya.
Mesir membuka lewat Mahmoud Saber. Namun sembilan menit berselang, ketegangan berubah ketika Iran menyamakan kedudukan, membuat suasana di meja yang menunggu ikut terpotong.
Musik digambarkan seakan makin keras saat permainan berlangsung, seiring meningkatnya ketegangan bagi kelompok Skotlandia itu. Ruangan ikut seperti bergoyang mengikuti irama pertandingan yang kian panas.
Di tengah keramaian, narasi menyebut Lionel Messi bergerak dalam “gerak lambat”, dengan kedua lengannya berayun seolah menahan arus yang tak terlihat. Mohamed Salah kemudian meninggalkan lapangan, sementara Mesir makin mundur; suasana di meja Skotlandia tetap tegang hingga babak kedua.
Beberapa momen lain datang di dekat bar. Seorang pria membagikan Piala Piala Dunia yang hanya “sebagian” disadari oleh para pria berkilt dan rekan-rekannya—mereka tetap memusatkan mata pada laga yang diproyeksikan dari Seattle.
Dj-lah yang kemudian memutar lagu “Freed From Desire”. Ketika bait kedua mulai, mereka hanya memperlihatkan kilatan kesenangan singkat—sebelum kembali ditelan ketegangan saat dorongan Iran untuk merebut kemenangan semakin kuat.
Di momen-momen tersebut, Mehdi Taremi membuat kepanikan yang nyata. Penonton di meja bawah sampai terdengar seperti terkejut, dan detik-detik akhir terasa seperti “ruang penyiksaan” tartan yang tertutup oleh keramaian.
Shoja Khalilzadeh kemudian menemukan gol untuk Iran pada menit-menit akhir. Kepala-kepala ditenggelamkan ke tangan, sementara Messi kembali dalam gambaran gerakan lambatnya.
Ada momen yang memunculkan tanya “offside?”, tetapi pada akhirnya permainan berakhir imbang. Dengan hasil itu, Skotlandia digambarkan masih harus mendapatkan semua yang mereka butuhkan dari tiga grup sekaligus—sebuah probabilitas yang disebut hanya 0,07% agar pesta Piala Dunia mereka terus berlanjut.
Ketika jam mencapai 01:00, Mbappé sudah pergi. “Tiga Lamine Yamal” lama sejak meninggalkan keramaian, sementara bar mulai mengosong dan bangsa-bangsa besar meninggalkan tempat itu satu per satu.
Ironinya tidak luput dibaca. Pada akhirnya, lima orang Skotlandia tetap berdiri, lalu melangkah keluar ke malam Florida yang panas dan lembap untuk melanjutkan sisa waktu mereka dalam pesta Piala Dunia—meski semuanya bisa saja segera berakhir.










