jurnalistik.co.id – Piala Dunia 2026 memasuki fase perempat final dengan komposisi yang makin menonjol: enam dari delapan tim yang bertahan berasal dari Eropa. Dominasi ini bukan sekadar kebetulan, melainkan terlihat dari pola performa sejak fase grup hingga babak gugur.
Secara historis, Eropa memang tidak selalu mudah ketika turnamen digelar di luar benua mereka. Sejak 1930, hanya dua tim Eropa yang pernah meraih trofi di Piala Dunia yang berlangsung di luar wilayah benua: Spanyol saat menjuarai edisi di Afrika Selatan pada 2010, dan Jerman yang keluar sebagai juara di Brasil empat tahun berselang.
Kali ini, peluang untuk menambah daftar tersebut terbuka lebar. Di perempat final Piala Dunia 2026, Belgia, Inggris, Prancis, Norwegia, Spanyol, dan Swiss tercatat menjadi enam perwakilan Eropa. Argentina dan Maroko melengkapi dua slot sisanya.
Catatan lain yang membuat situasinya terasa “jarang terjadi” adalah angka keterwakilan. Ini merupakan jumlah tim Eropa terbanyak yang mencapai babak delapan besar pada Piala Dunia yang digelar di luar Eropa sejak 1994. Dengan kata lain, skala keberhasilan mereka di fase ini lebih tinggi dibanding pola yang biasa terlihat di edisi-edisi sebelumnya.
Namun, Eropa tidak langsung tampil dominan sejak awal. Pada fase grup, sempat muncul sorotan: tujuh dari 10 tim Eropa pertama yang menjalani pertandingan grup gagal meraih kemenangan. Kondisi panas di Amerika Utara juga disebut-sebut sebelum turnamen dimulai, dengan sejumlah tim—termasuk Inggris—berada di area bersuhu tinggi untuk beradaptasi.
Meski begitu, para pelatih tidak menjadikan cuaca sebagai satu-satunya penjelasan. Rudi Garcia, manajer Belgia setelah hasil imbang kontra Mesir, mengungkapkan, “Whether it is 10 degrees or 30 degrees, we should have done better,” sementara Murat Yakin menilai Swiss lebih banyak menyia-nyiakan peluang ketimbang terpengaruh kondisi setelah memulai dengan skor 1-1 melawan Qatar.
Seiring turnamen berjalan, laju tim Eropa justru menguat. Pada akhir fase grup, performa mereka saat melawan tim non-Eropa mencatat 17 kemenangan, 12 hasil imbang, dan tujuh kekalahan. Dengan angka seperti itu, sinyal yang terbaca bukan hanya “sekali unggul”, melainkan konsistensi ketika tekanan meningkat.
Di babak gugur, sejumlah negara Eropa juga terlihat mampu membaca situasi saat menghadapi kesulitan. Inggris misalnya menjalani perjalanan berat ke Azteca untuk menghadapi Meksiko di 16 besar, harus berurusan dengan perbedaan ketinggian dan suasana stadion yang tidak bersahabat. Wayne Rooney menilai, “This has shown we have a team capable of winning the World Cup,” lalu menambahkan bahwa keyakinan itu akan memberi dampak besar pada para pemain.
Prancis bergerak lanjut ke delapan besar setelah menyingkirkan Paraguay lewat duel yang disebut berisi “dark arts”. Sementara itu, Belgia menghadapi tantangan tambahan karena bermain dalam atmosfer yang penuh ekspektasi tuan rumah saat berhadapan dengan ko-host USA di 16 besar. Setelah mengatasi hambatan itu, Belgia akan bertemu juara Eropa Spanyol untuk memperebutkan tiket ke semifinal.
Di momen yang sama, Matt Upson memberi penilaian yang menggambarkan betapa beratnya pekerjaan Belgia berikutnya: “It was encouraging signs from Belgium,” katanya, “They are going to need to be good against what is a brilliant Spanish midfield.” Adapun Swiss menuntaskan langkahnya ke perempat final dengan kemenangan adu penalti atas Kolombia.
Berita Terkait
Meski performa di lapangan menjadi kunci, ada pula alasan struktural mengapa Eropa sejak awal tetap terlihat “berpeluang lebih besar”. Eropa memperoleh 16 tempat di Piala Dunia 2026—lebih banyak dibanding kawasan mana pun. Dengan format yang diperluas menjadi 48 tim serta tambahan satu babak gugur, jalur yang harus dilalui memang makin panjang, tetapi hasilnya tetap memperlihatkan dominasi ketika lima kali juara, Brasil, tersingkir, dan tuan rumah bersama Canada, Mexico, serta USA juga semuanya angkat kaki di babak 16 besar.
Dominasi Eropa tampak pula ketika melihat peringkat FIFA. Lima dari delapan tim teratas berasal dari Eropa, dan empat di antaranya sudah mencapai babak delapan besar. Pada 16 besar, Portugal yang berada di peringkat ketujuh juga harus tersingkir setelah dikalahkan Spanyol dalam duel sesama tim Eropa.
Favorit dan kekuatan lini depan
Prancis masuk turnamen dengan status unggulan Piala Dunia, dan sejauh ini mereka diyakini terus memenuhi ekspektasi. Kylian Mbappe termasuk dalam perebutan gelar top skor, dengan tujuh gol. Sejumlah pengamat bahkan menjelang turnamen mengaitkan peluang juara dengan kombinasi daya ledak serangan dan kemampuan beradaptasi di kondisi panas.
Danny Murphy menggambarkan prediksinya dengan nada keyakinan, “It’s hard to look past France with the firepower they have, when you think about extra time in hot weather against tired legs.” Ia menambahkan bahwa pemain seperti Rayan Cherki, Ousmane Dembele, dan Desire Doue tidak semuanya harus menjadi starter, karena mereka bisa menjadi “gamechangers” saat masuk setelah menit ke-70 dalam panas sekitar 30 derajat.
Di kubu yang sama, Gael Clichy juga menyebut kelompok tim yang menurutnya paling siap bersaing. Ia mengatakan, “France, Spain and England are the three for me who will do well.” Mengenai Spanyol, ia menilai tim itu seperti selalu menang di berbagai level usia, namun sebagai orang Prancis ia memilih “going for them to win it.”
Tim kejutan: Norwegia dan Swiss
Meski Prancis, Spanyol, dan Inggris adalah tiga nama yang dianggap paling berpotensi, beberapa negara tetap menonjol melebihi prediksi. Norwegia tampil memanfaatkan momen kembalinya ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1998, dengan Erling Haaland sebagai motor utama. Striker Manchester City itu sudah mencetak tujuh gol sejauh turnamen, dan akan menghadapi Inggris pada hari Sabtu dengan kepercayaan tinggi untuk menambah koleksi gol.
Swiss juga memperlihatkan kedewasaan ketika pertandingan makin sulit. Mereka menjaga ritme meski menghadapi suasana intimidatif dalam kemenangan adu penalti atas Kolombia pada laga terakhir fase 16 besar. Hasil tersebut membuat Swiss mencapai babak delapan besar untuk pertama kalinya sejak 1954, namun tantangannya tidak ringan karena pada laga berikutnya mereka harus bersua Argentina, yang berstatus juara bertahan.
Murat Yakin menyebut momen itu sebagai pencapaian historis: “This is a historic moment,” ujarnya. “We have reached the best ever for the Swiss team but the trip goes on.” Selanjutnya, babak perempat final akan menjadi ujian lanjutan apakah langkah kuat tim-tim Eropa bisa berlanjut sampai melahirkan pemenang yang jarang muncul di luar benua.












