Olahraga

Wimbledon 2026: Strategi Arthur Fery untuk melaju ke semifinal dengan mengatasi Flavio Cobolli

×

Wimbledon 2026: Strategi Arthur Fery untuk melaju ke semifinal dengan mengatasi Flavio Cobolli

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wimbledon 2026: What Arthur Fery must do to beat Flavio Cobolli and reach SW19 semi-finals

jurnalistik.co.id – Arthur Fery bersiap menempuh langkah besar di Wimbledon 2026. Petenis berusia 23 tahun itu menargetkan tempat di semifinal saat menghadapi Flavio Cobolli pada Rabu, setelah memastikan diri lolos ke perempat final.

Fery datang dengan status yang jauh dari unggulan: ia berada di peringkat 114 dunia. Namun, ia menunjukkan alasan untuk diperhitungkan, termasuk ketika ia mengalahkan Grigor Dimitrov di babak 16 besar.

Adapun Cobolli, 24 tahun, berangkat dengan catatan kuat di rumput. Ia adalah unggulan kesembilan Italia, berstatus runner-up di French Open bulan lalu, dan tahun lalu sudah merasakan perempat final Wimbledon. Di tengah peta kekuatan itu, analis BBC Sport Jamie Murray menempatkan Fery tetap sebagai pihak tertinggal dengan catatan pengalaman tingkat atas yang berbeda.

Fery harus memaksimalkan kecepatan dan permainan voli

Tinggi 5ft 9in Fery kerap menjadi bahan pembahasan karena umumnya petenis yang lebih tinggi lebih sering diuntungkan di lapangan rumput. Wimbledon juga sering “menguntungkan” mereka yang mengandalkan servis cepat, tetapi Fery perlu senjata lain untuk mengamankan poin-poinnya.

Salah satu kekuatan paling nyata ada pada mobilitas dan agresivitas saat bola memberi kesempatan untuk maju. Dimitrov, lewat pelatihnya Jamie Delgado, menilai Fery mampu menjaga ritme poin dan membuat permainan tidak mudah selesai untuk lawan. Delgado mengatakan, “Arthur is one of the best at retrieving balls and staying in the points,” dan menambahkan, “When you’re that height, your timing has to be really good – which Arthur’s is. He can hit the ball at different heights and mix the pace well.”

Di turnamen ini, kemampuan tersebut terlihat dari data voli Fery. Ia memenangkan 127 dari 201 voli yang ia mainkan di Wimbledon tahun ini. Selain itu, Fery mengantongi 78% poin dari pola serve and volley, serta 63% poin secara keseluruhan saat berada di net—persentase tertinggi kedua di undian putra.

Jamie Murray juga menempatkan performa tersebut sebagai salah satu fondasi terbesar kampanye Fery. Ia menyebut, “That’s been one of his biggest strengths this tournament. He’s played over 200 points which finished at the net and won a very high percentage.”

Ambil waktu dari servis kedua Cobolli lewat pola “crush and rush”

Dari sisi tempo, Fery digambarkan sebagai penggerak terbaik di antara para perempat finalis putra. Ia bahkan disebut sedikit berada di depan Cobolli dan unggulan teratas Jannik Sinner dalam urusan pergerakan dan kemampuan mengubah posisi.

Untuk menghadapi Cobolli, Murray mengusulkan strategi yang menekankan ritme: “crush and rush”. Intinya adalah kembali menyerang servis kedua secara agresif, lalu bergerak cepat ke net agar petenis nomor 10 dunia itu tidak punya ruang untuk menata tembakan berikutnya.

Murray menjelaskan mekanismenya: “Returning serve and coming forward forces an opponent to come up with a passing shot straight off the return of serve.” Menurutnya, pendekatan itu membantu “menetralisir” kapasitas Cobolli untuk berputar di lapangan dan merebut poin. Murray menambahkan, “By implementing this strategy, it will neutralise Cobolli’s ability to move around the court and steal points.”

Cobolli sendiri sedang berada di musim terbaik dalam kariernya. Ia meraih gelar ATP Tour ketiga, melaju ke final major pertamanya, dan menembus top 10 dunia. Meski begitu, ia juga sempat menunjukkan kerentanan—ia kehilangan set di tiga putaran awal sebelum meningkatkan level dan menyapu bersih Alex de Minaur, unggulan kelima Australia.

Dalam konteks itu, Alex Ward—pelatih nasional putra LTA yang membantu Fery—menegaskan kebutuhan untuk menekan. Ia berkata, “Arthur needs to put Cobolli under a lot of pressure and stop him using his forehand.”

Ward juga menambahkan detail yang berkaitan dengan arah permainan Cobolli: “He can use his backhand down the line because Cobolli likes to use his forehand from the backhand corner quite a lot.” Artinya, Fery harus menata posisi dan membaca kecenderungan itu sejak bola pertama permainan.

Tunjukkan bahwa Fery layak ada di perempat final

Selain teknik, ada faktor mental yang menjadi bagian besar dari profil Fery di Wimbledon. Mereka yang mengenal Fery menggambarkannya sebagai sosok yang penuh keyakinan diri. Ia bahkan konsisten “bangkit” ketika tertinggal satu set: Fery melakukan itu di semua empat kemenangan yang ia catat menuju perempat final.

Ia juga terlihat nyaman secara emosional pada debutnya di Centre Court. Dalam laga melawan Dimitrov, Fery memanfaatkan dukungan penonton tuan rumah pada fase-fase akhir untuk menambah energi—dan ia bisa kembali merasakan atmosfer itu di depan sekitar 15.000 pendukung setia.

Kyle Edmund, mantan nomor satu Inggris yang mencapai semifinal Australian Open 2018, merangkum cara Fery bersikap. Edmund mengatakan, “Arthur does not look afraid of any situation,” lalu menambahkan, “You see the way he conducts himself and the way he walks – it is like he belongs there.”

Modal pernah mengalahkan Cobolli di level major

Keyakinan Fery juga punya pijakan dari pertemuan mereka di turnamen major tahun ini. Di Australian Open pada Januari, Fery mengalahkan Cobolli dalam set langsung pada debut Slam pertamanya sebagai pemain luar negeri. Laga itu juga dibantu oleh kondisi Cobolli yang sedang mengalami masalah perut.

Konsekuensi dari kemenangan seperti itu dijelaskan oleh pelatih Fery Jeroen Benard. Benard mengatakan kepada BBC Sport: “Beating a top player boosts self-esteem and it is also important in the sense he knows what he can expect from an opponent like Cobolli.” Ia menambahkan keterhubungan pengalaman mereka: “They have played each in juniors, they have played each other this year, so he knows who he is.”

Namun, Benard juga menekankan bahwa Cobolli tidak akan datang tanpa motivasi balas dendam. Ia menutup penilaiannya dengan kalimat, “But Cobolli knows who we are – and wants to take revenge.”

Ketenangan di luar lapangan

Fery tumbuh tidak jauh dari All England Club, sehingga dukungan dan kenyamanan kampung halaman menjadi bagian dari ritme turnamen. Ia diketahui tinggal bersama keluarganya selama Wimbledon, sementara hal-hal lain di kubunya tetap relatif sama.

Benard menyebut tim mereka menikmati obrolan tentang sepak bola dan musik sebelum akhirnya fokus pada pekerjaan tenis. Di lapangan Fery tampak dingin, tenang, dan serius; tetapi rekan sesama pemain Inggris Felix Gill menggambarkan sisi lain Fery sebagai “silly” dan “hilarious”.

Benard menggambarkan kebiasaan harian itu dengan detail: “Every morning when he gets treated we’re watching World Cup highlights and we talk about day to day stuff – it’s nothing different than if we are playing a Challenger in Croatia,” lalu menambahkan, “He’s really good fun to be around. We joke a lot. He’s just a normal 23-year-old who happens to be very good at sport.”

Bila Fery mampu menggabungkan mobilitas, ketajaman di net, dan tekanan berkelanjutan terhadap servis kedua Cobolli, ia punya peluang besar untuk merangkum seluruh modal itu menjadi satu tujuan: melangkah dari perempat final menuju semifinal Wimbledon tahun ini.