Hukum & Kriminal

Perjuangan Harry melawan pers: apakah akhirnya menemui jalan buntu?

×

Perjuangan Harry melawan pers: apakah akhirnya menemui jalan buntu?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Has Harry's war with the press finally run out of road?

jurnalistik.co.id – Pangeran Harry (Adipati Sussex) dan enam penggugat lain menghadapi vonis telak di High Court terkait gugatan privasi terhadap Associated Newspapers, penerbit Daily Mail dan Mail on Sunday.

Hakim Mr Justice Nicklin menilai kelompok penggugat tidak mampu membuktikan dugaan pengumpulan informasi secara melanggar hukum yang mereka ajukan terhadap pihak penerbit.

Dengan demikian, pembelaan Associated Newspapers yang menyatakan tidak ada perbuatan salah dinyatakan “berhasil”.

Bagi Harry dan para penggugatnya, rangkaian proses panjang itu kini berujung pada putusan yang disebut sebagai hambatan besar untuk klaim mereka.

Dalam keterangan yang dirilis tak lama setelah putusan, Pangeran Harry bersama Baroness Lawrence menggambarkan hasil tersebut sebagai “whitewash”.

Pihak kuasa hukum Harry juga belum menyebut adanya upaya banding pada saat putusan itu diumumkan.

Peristiwa ini menjadi penanda fase akhir dari perkara yang selama ini dikenal terkait “hacking scandal”.

Putusan Nicklin datang setelah penilaian terhadap bukti yang diajukan oleh Duke of Sussex dan ko-penggugatnya.

Perjuangan panjang yang tak kunjung reda

Perjalanan Harry dalam saga ini dimulai jauh sebelum putusan hari Selasa itu.

Ia merupakan bagian dari daftar ponsel kerajaan yang ditemukan polisi pernah di-hack oleh penyelidik swasta Glenn Mulcaire pada 2007, yang berujung pada vonis untuk Mulcaire dan juga Clive Goodman, koresponden kerajaan News of the World.

Investigasi Guardian pada 2009 kemudian mengangkat kemungkinan peretasan ponsel lain telah terjadi, termasuk kasus penyelidik swasta yang dikaitkan dengan peretasan ponsel milik remaja Milly Dowler.

Setelah rangkaian itu terkuak, News of the World ditutup, sementara jurnalis senior dan editor Andy Coulson dinyatakan bersalah dalam persidangan pidana pada 2014.

Setelahnya, gelombang tuntutan perdata dilancarkan terhadap News Group (mencakup News of the World dan The Sun) dan Mirror Group Newspapers (Daily dan Sunday Mirror).

Beberapa penyelesaian di luar pengadilan disebut menelan biaya hingga ratusan juta poundsterling serta disertai permintaan maaf yang berulang.

Dari waktu ke waktu, publik melihat bahwa terdapat dugaan penggunaan teknik pengumpulan informasi yang melanggar hukum dalam skala besar.

Dalam proses yang dipersoalkan, sejumlah figur publik—beserta kerabat dan relasi mereka—disebut mengalami pelanggaran privasi secara berkala.

Harry sempat diberi saran oleh pihak Istana agar tidak terlibat langsung dalam persoalan tersebut.

Ia kemudian bertahan di luar perkara hingga bertemu David Sherborne, pengacara yang memimpin tuntutan Harry terhadap tiga penerbit besar.

Strategi Harry berubah ketika ia akhirnya memutuskan membawa perkara ke pengadilan dan memberikan kesaksian sendiri.

Selama persidangan, ia disebut kadang terlihat menahan emosi hingga meneteskan air mata, namun tetap menunjukkan kemarahan di ruang saksi.

Ketenaran Harry membuat skandal itu tetap menjadi headline lebih dari satu dekade setelah awalnya muncul.

Ia juga bergabung dengan sejumlah nama terkenal, termasuk aktris Elizabeth Hurley dan Sadie Frost, penyanyi Sir Elton John beserta suaminya David Furnish, mantan menteri Liberal Democrat Sir Simon Hughes, serta Baroness Lawrence.

Baroness Lawrence dikenal karena putranya, Stephen, dibunuh pada 1993.

Dalam pertempuran hukum sebelumnya, Harry pernah memenangkan perkara melawan Mirror Group di pengadilan, sementara melawan News Group berujung pada penyelesaian di luar pengadilan dengan ganti rugi dan permintaan maaf.

Namun, Associated Newspapers dipandang sebagai “titik terlalu jauh” yang membuat peluang Harry kali ini menyempit.

Hakim Nicklin menilai bukti yang diajukan tidak mencapai standar yang diperlukan untuk membuktikan klaim mereka.

Kenapa kali ini lebih sulit dimenangkan

Penerbit menegaskan, pada tahun 2011 di Leveson Inquiry terkait standar pers, bahwa tidak ada pelanggaran yang dilakukan oleh media mereka.

Dalam pandangan lawan, strategi “serba atau tidak sama sekali” semacam itu berpotensi membuat pihak penerbit lebih rentan jika muncul bukti sekecil apa pun tentang aktivitas melanggar hukum.

Hasil perkara menunjukkan bahwa bahkan bukti sekecil itu pun tidak dinilai cukup untuk mendukung tuduhan dalam kasus Associated Newspapers.

Kasus ini juga disebut menjadi perhatian firma hukum lain yang menilai cara bagaimana pendekatan untuk menuntut penerbit tersebut akan diambil ke depan.

BBC menyampaikan bahwa calon penggugat potensial termasuk “the usual suspects” yang sebelumnya sudah memenangkan perkara melawan surat kabar lain.

BBC juga menyebut adanya satu figur publik yang terhubung dengan keluarga kerajaan, meski kelanjutan tindakan hukum mereka setelah putusan hari Selasa masih harus dilihat.

Menurut penilaian hakim, persyaratan yang diberlakukan pada perkara ini membuat peluang penggugat semakin berat.

Nicklin meminta bukti yang membuktikan secara meyakinkan bahwa setiap cerita yang dipersoalkan didapat melalui cara yang melanggar hukum, bukan sekadar mengandalkan “generic evidence” terkait “propensity” jurnalis melanggar aturan.

Hakim juga menyebut cara pengumpulan bukti berada pada wilayah yang dipertanyakan.

Beberapa dokumen dan saksi kunci dikatakan diperoleh dengan imbalan uang dari Graham Johnson, mantan jurnalis peretas yang kemudian menjadi kampanye untuk standar pers.

Johnson mengaku membayar penyelidik swasta untuk memperoleh informasi, dan menyatakan ia melakukannya agar bisa menulis berita daring tentang skandal tersebut.

Namun, penggunaan informasi itu sebagai bukti kemudian dinilai “unconvincing”, terutama karena hakim menilai Johnson mengetahui tujuannya tidak hanya untuk jurnalistik, tetapi juga untuk memenangkan perkara.

Dalam konteks itu, salah satu penyelidik swasta, Gavin Burrows, dikatakan tampak menyerahkan dua pernyataan yang bertentangan.

Salah satu pernyataan menyebut ia melakukan aktivitas melanggar hukum secara luas untuk koran Mail, sementara pernyataan lain menyatakan ia tidak melakukan hal demikian.

Bagi hakim, pertentangan dua pernyataan itu membuat keduanya saling meniadakan.

Karena itu, Nicklin memutuskan tidak dapat bersandar pada isi yang disampaikan Burrows.

Peran Baroness Lawrence dan respons pihak penerbit

Selain alur proses hukum yang sudah berlangsung lama, muncul peristiwa yang membawa Baroness Lawrence masuk ke inti sengketa.

Baroness Lawrence mengatakan kepada BBC bahwa Pangeran Harry dan pengacaranya datang kepadanya dengan kemungkinan bukti, lalu menyarankan agar ia ikut bergabung dalam pertempuran hukum tersebut.

Graham Johnson—yang disebut dekat dengan tim hukum Baroness Lawrence—menegaskan bahwa Baroness Lawrence tidak akan “diarahkan” oleh “hotshot lawyers”.

Pada video pernyataan hari Selasa, editor Daily Mail, Paul Dacre, juga menyampaikan reaksi yang keras terhadap sikap Baroness Lawrence.

Paul Dacre mengatakan: “Why Baroness Lawrence, for whom we have always had profound respect and sympathy, chose to turn on the paper and the brilliant reporter who campaigned for justice for her son for over two decades is something I will never understand.”

Secara umum, ia menambahkan bahwa kasus tersebut “raises profoundly disturbing questions about the conduct of elements of the legal profession”.

Dalam pertarungan akhir saga ini, penerbit dengan “suara media” yang kuat dipandang masih mampu terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Namun, bagi Harry dan para penggugatnya, putusan Nicklin menutup satu tahap penting sekaligus mempertanyakan arah berikutnya untuk klaim-klaim mereka.

Di sisi lain, penentuan apakah tindakan hukum lain akan berlanjut setelah putusan tersebut tetap menjadi pertanyaan terbuka.

Yang pasti, panjangnya sejarah tuntutan perdata terkait pengumpulan informasi melanggar hukum kini memasuki titik yang makin sulit untuk ditembus.