Olahraga

Piala Dunia 2026: Pilihan momen terbaik dan pemain fase grup versi jurnalis BBC

×

Piala Dunia 2026: Pilihan momen terbaik dan pemain fase grup versi jurnalis BBC

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: BBC reporters pick best moments and players of group stage

jurnalistik.co.id – Fase grup Piala Dunia 2026 telah berakhir. Setelah 72 pertandingan digelar di tiga negara, 48 tim yang lolos akhirnya tersaring menjadi 32 peserta babak berikutnya.

Pada waktu yang sama, sejumlah bintang memecahkan catatan penting di panggung terbesar sepak bola, sementara wajah-wajah baru ikut muncul. Di tengah dinamika itu, tim reporter BBC Sport dari Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko merangkum pilihan mereka untuk tim, pemain, serta momen terbaik sejauh ini.

Tim terbaik: Prancis

Untuk kategori tim terbaik, Prancis menjadi jawaban paling konsisten dalam pilihan para jurnalis BBC. Ian Dennis menilai mereka tampil meyakinkan karena untuk pertama kalinya sejak menjuarai Piala Dunia pada 1998, Prancis bisa meraih tiga kemenangan beruntun di fase grup.

Namun, menurutnya Prancis “tidak sempurna” sehingga masih ada ruang perbaikan saat mereka semakin kuat di bawah Didier Deschamps. “Didier Deschamps seek a third successive World Cup final” juga ditegaskan sebagai konteks target mereka, sejalan dengan upaya mencapai final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

John Murray justru mengakui Prancis terlihat paling solid sejak awal, tetapi ia mengingatkan pola yang kerap menentukan perjalanan tim. Ia menegaskan, “I don’t think there’s too much doubt it’s been France,” lalu menambahkan, “it’s not how you start, it’s how you finish,” serta meyakini Spanyol tidak akan jauh tertinggal.

Phil McNulty menyoroti daya ledak Prancis, terutama saat serangan mereka “click” dengan Kylian Mbappé, Michael Olise, dan Ousmane Dembélé. Ia juga melihat kekuatan skuad Deschamps sebagai faktor yang membuat Prancis berpotensi sangat sulit dihentikan.

John Bennett menguatkan penilaian tersebut dengan narasi perjalanan Prancis di grup. Ia menyebut Prancis sempat memulai kurang rapi saat melawan Senegal, tetapi “exploded into life” ketika Olise dipindahkan ke posisi nomor 10, sehingga permainan mereka berakselerasi.

Dalam pandangannya, “Their front four is frightening,” dengan Desire Doue atau Bradley Barcola, sementara Mbappé terlihat seperti “the happiest” yang pernah ia saksikan di turnamen besar. Ia juga memuji William Saliba sebagai salah satu bek terbaik di turnamen serta peran Adrien Rabiot yang, menurutnya, kurang disorot namun mampu menghubungkan permainan dengan brilian.

Alex Howell menilai Prancis juga terlihat akan “take some stopping” berkat kombinasi lini depan yang tajam dan kedalaman skuat untuk rotasi sepanjang turnamen. Ia menegaskan Mbappé sudah “already firing” dan ketika kembali berada dalam ritme penuh, Prancis akan semakin menekan.

Liz Conway, meski menolak meninggalkan Spanyol, tetap menempatkan Prancis sebagai tim yang layak diperhitungkan. Ia menyatakan ia “said Spain from the start and I’m going to stick with them,” karena tim asuhan mereka belum mencapai puncak performa, namun masih menyimpan potensi besar lewat kembalinya Lamine Yamal dan Nico Williams dari cedera.

Conway juga melihat turnamen yang panjang akan membuat momentum Spanyol terus bertumbuh. Ia bahkan menyebut kemungkinan bertemu Prancis di semifinal sebagai “huge test,” namun jika mampu melewati laga itu, Spanyol menurutnya bisa melangkah lebih jauh.

Gary Rose mengingatkan bahwa sorotan pada fase grup Piala Dunia 2026 juga tak bisa dilepaskan dari Lionel Messi. Ia menilai sudah “rightly so” Messi jadi sorotan berkat “six goals from three games,” tetapi menurutnya akan tidak adil jika mengatakan Argentina hanya bergantung pada Messi seorang diri.

Ia menjelaskan Argentina seperti “a collection of brilliant individuals” yang bermain sebagai tim, dan hasilnya nyata: tiga kemenangan, tanpa kebobolan, serta lima gol yang tercipta. Karena itu, Rose menilai Argentina telah “hit the ground running” dan bakal menjadi lawan yang sulit dihadapi.

Neil Johnston sempat membandingkan Prancis dan Brasil dari pengamatan fase grup. Ia menutup pilihannya dengan memilih “Les Bleus,” dengan alasan Prancis berada dalam kondisi “hit the ground running,” Mbappé berada dalam performa “impeccable,” dan Olise menunjukkan permainan yang “teasing” sekaligus menggoda pertahanan lawan.

Pemain terbaik: Lionel Messi dan Michael Olise

Untuk kategori pemain terbaik, Lionel Messi menjadi nama yang paling sering muncul dalam pilihan jurnalis BBC. Ian Dennis menggambarkan Messi sebagai sosok yang tetap “evergreen,” usia 39 tahun, dan selalu membuatnya menikmati permainan berkat skill, kesadaran, dan kecerdasan yang terus menghasilkan dampak di panggung terbesar.

John Murray menyatakan ia sepakat “It has to be Lionel Messi,” mengingat angka enam gol pada titik ini. Ia juga menghubungkan momentum itu dengan kemungkinan Messi menatap satu rekor yang sangat terkenal dan panjang umurnya, yaitu catatan Just Fontaine yang mencetak 13 gol pada Piala Dunia 1958.

Phil McNulty menambahkan bahwa meski turnamen ini menampilkan nama-nama besar lain seperti Harry Kane, Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, Erling Haaland, dan Cristiano Ronaldo, Messi tetap tampil dengan kualitas yang menentukan jalannya kompetisi.

Sementara itu, John Bennett menulis bahwa setelah mengikuti Prancis di AS, pilihannya awalnya justru Mbappé. Tetapi ia akhirnya memilih Ayyoub Bouaddi dari Maroko—saat menyaksikan pertandingan pertamanya di New Jersey—karena ia tak henti mengawasi pemain tersebut.

Bennett menekankan, Bouaddi membuatnya berkali-kali memeriksa usia pemain karena pergerakan, keputusan, dan kemampuan umpan yang menurutnya “incredible for an 18-year-old.” Ia bahkan mengaku sempat berkata kepada rekan BBC-nya bahwa Bouaddi mengingatkannya pada Patrick Vieira.

Alex Howell menilai Michael Olise mengalami perkembangan yang lain, dan menunjukkan kapasitasnya di Piala Dunia ini. Ia melihat Olise bermain di tim Prancis yang berkualitas dan merasa pemain itu berpeluang memberi dampak besar sepanjang turnamen.

Liz Conway juga menegaskan Messi dengan ulang sorotan jumlah gol pada fase grup, “Six goals in three World Cup games.” Ia menambahkan sisi lain yang ia anggap mengagumkan: kerendahan hati Messi saat berhadapan dengan pers di luar lapangan, serta “an aura” yang membuat setiap kemunculannya terasa spesial.

Gary Rose sempat membahas bahwa memilih pencetak gol mungkin tampak mudah, mengingat Mbappé, Messi, dan Haaland sedang melakukan hal terbaiknya. Tetapi ia menegaskan pilihannya kini jatuh pada Michael Olise, karena peran Olise dinilai krusial dalam kemenangan Prancis sejauh ini.

Rose menyebut Olise menghasilkan penampilan setara “player-of-the-match” pada kemenangan 3-1 Prancis atas Senegal, lalu memberikan “two assists” saat Prancis menghantam Irak 3-0. Di sisi lain, Neil Johnston menambahkan bahwa Messi, Ronaldo, Mbappé, Vinícius Jr, dan Haaland sama-sama hadir dan tampil menarik untuk disaksikan.

Pada momen yang sama, perhatian pada Mbappé juga dibingkai dari sisi perjalanan kariernya. Mbappé, yang harus menyaksikan mantan klubnya Paris St-Germain meraih dua gelar Champions League beruntun sejak ia meninggalkan PSG dan pindah ke Real Madrid, dinilai tetap bertekad membawa Prancis menuju gelar dunia ketiga.

Pertandingan terbaik

Memasuki pilihan laga terbaik, Ian Dennis mengarah ke Ecuador 2-1 Jerman sebagai pertandingan yang memiliki “a real sense of jeopardy.” Ia menilai laga pertama fase grup itu benar-benar terasa menentukan, karena Ecuador seolah bermain “win or bust” dan membalas dengan keberanian saat fans menciptakan atmosfer yang luar biasa.

Dennis menambahkan bahwa Ecuador tampil bold dengan bangkit dari ketertinggalan. Meski pertahanan di akhir laga penuh tekanan dan chaos, mereka tetap mampu memastikan tiket ke babak gugur.

John Murray memilih England 4-2 Croatia sebagai pertandingan paling ia nikmati. Ia menilai pertandingan itu terasa seperti laga knockout, sekaligus membuktikan kemampuan menyerang yang memang ada di dalam skuad.

Phil McNulty juga mengangkat Uruguay 2-2 Cape Verde, dengan menggambarkan laga itu sebagai pertemuan yang menyajikan cerita lengkap. Cape Verde sempat memimpin, lalu tersusul, sebelum akhirnya menyamakan kedudukan.

John Bennett menambahkan warna yang ia ingat dari tayangan, meski ia tidak menyaksikan langsung dari stadion. Ia mengaitkan kenangan itu dengan perjalanan Cape Verde yang membekas setelah menempati jejak yang mirip saat menjalani fase perempat final di Piala Afrika untuk periode 2013 dan 2023.

Bennett menyinggung Kevin Pina membuat sejarah lewat gol pertama Cape Verde di Piala Dunia, termasuk melalui free-kick jarak jauh. Ia juga menggarisbawahi kebangkitan Cape Verde dari ketertinggalan 2-1, lalu momen chaos ketika kedua tim sama-sama mendapat peluang untuk menang.

Ia bahkan menyebut kamera berulang kali menyorot Luis Suárez di tribun, seolah melewati seluruh emosi yang mungkin timbul dan terlihat sangat ingin pengalaman itu segera berakhir—sebuah penggambaran suasana yang membuat laga terasa semakin hidup.

Alex Howell kembali menegaskan England 4-2 Croatia dari sisi performa babak kedua. Menurutnya, pertunjukan yang ditunjukkan Inggris memperlihatkan “how the Three Lions could play when they’re at their best,” dengan permainan menyerang mengalir yang ia sebut sebagai “arguably the best 45 minutes of this tournament.”

Liz Conway menyoroti Argentina 3-0 Algeria, menggambarkan atmosfer yang dibentuk oleh senja di Kansas. Ia menekankan Lionel Messi mencetak hat-trick Piala Dunia pertamanya, menyamai rekor gol sepanjang sejarah Piala Dunia lewat gol ke-16, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain terhebat.

Conway juga menambahkan, para pendukung Argentina telah merayakan lebih dulu sebelum kick-off, dan atmosfer stadion terasa “phenomenal” ketika semua menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan sejarah.

Gary Rose memilih Netherlands 2-2 Japan dan menekankan meski ada banyak hasil imbang di turnamen ini, tidak semua pertandingan terasa membosankan. Ia menyebut laga itu menyenangkan karena Jepang mampu dua kali bangkit dari ketertinggalan sebelum menorehkan gol penentu di menit-menit akhir.

Neil Johnston menutup dengan England 4-2 Croatia dari pengalamannya menonton di sports bar di Philadelphia. Ia menggambarkan gol yang terus tercipta, banyaknya suporter Brasil di tempat tersebut, dan bahkan sorak dukungan untuk finishing yang dilakukan Three Lions.