jurnalistik.co.id – Penyelidikan independen yang menyoroti hasil pendidikan anak kelas pekerja kulit putih di Inggris menyimpulkan bahwa sistem yang ada belum bekerja untuk kelompok tersebut. Tim menyatakan reformasi besar diperlukan agar kesempatan belajar dan masa depan mereka tidak terus tertinggal.
Penyelidikan ini dibentuk pada musim panas lalu untuk menelaah mengapa anak kelas pekerja kulit putih menjadi kelompok besar berperforma terendah di sekolah-sekolah di Inggris. Para penyusun laporan menilai kebijakan yang berjalan selama ini tidak memberi dampak perbaikan yang berarti dan berkelanjutan.
Salah satu pimpinan bersama penyelidikan, Baroness Estelle Morris, mengatakan tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada sekolah. Menurutnya, kondisi tersebut juga bukan disebabkan kurangnya aspirasi maupun usaha dari anak-anak muda.
âOnce-in-a-generation reforms are needed to fix an education system that âis not serving the interests of white working-class childrenâ,â demikian kesimpulan penyelidikan. Ia menilai sistem pendidikan tidak selaras dengan kebutuhan dan kepentingan kelompok yang ditelitinya.
Di bagian lain, Menteri Pendidikan Inggris, Bridget Phillipson, menyebut bahwa generasi telah ârobbed of opportunityâ. Ia juga menegaskan, âThe communities in this report are my communities. I know what theyâve given this country and what this country has failed to give back,â ujarnya.
Penyelidikan dengan nama Independent Inquiry into White Working Class Educational Outcomes ini dikomisi oleh Star Academies, sebuah multi-academy trust, serta didukung oleh Department for Education. Tim menyampaikan hasil setelah berbicara dengan ribuan anak muda dan orang tua, sekaligus melibatkan ratusan guru.
Selain wawancara, penyelidikan juga menganalisis data pendidikan mengenai siswa kulit putih kelas pekerja. Riset satu tahun itu menyoroti 1,25 juta anak muda di Inggris yang berstatus white British dan menerima free school meals.
Temuan: kesenjangan antara harapan dan yang ditawarkan sekolah
Laporan menyatakan muncul keyakinan yang makin besar di keluarga kelas pekerja kulit putih bahwa sistem pendidikan saat ini tidak menjamin keberhasilan masa depan. Dalam pandangan penyelidikan, ada jarak antara apa yang anak dan orang tua inginkan terkait karier, dengan apa yang mampu disediakan sekolah.
Baroness Morris menyebut bahwa tidak ada inisiatif yang dijalankan selama 30 tahun terakhir berhasil meningkatkan kinerja anak kelas pekerja kulit putih secara signifikan maupun berkelanjutan. âThere was a disconnect between what the children and their parents want in terms of careers and what their schools can offer them,â demikian inti penilaiannya.
Penyelidikan juga menyoroti cara sistem menekankan jalur akademik menuju pendidikan tinggi. Namun, menurut laporan, banyak keluarga justru menempatkan nilai lebih besar pada pengalaman sosial di sekolah. Mereka juga ingin opsi vokasional yang berkualitasâtermasuk program magang/apprenticeshipsâyang tersedia di wilayah mereka.
Baroness Morris menambahkan bahwa pindah ke jenjang menengah (secondary education) menjadi momen kunci ketika sebagian siswa mulai menjauh dari kegiatan sekolah. Salah satu contoh yang muncul dalam laporan adalah Stephen, yang kini berusia 16 tahun, tetapi keluar dari sekolah tiga tahun lalu.
Stephen sempat meninggalkan sekolah saat usia 13 tahun dan menghabiskan tiga tahun berikutnya tanpa pendidikan. Ia mengatakan bahwa bila sistem lebih berorientasi pada pendidikan vokasional, ia mungkin akan bertahan. âI feel like schools need to engage in more practical work because, at least for me, the written work didn’t work,â ujarnya.
Stephen menambahkan, âSo if they engaged in more practical work, that would help people who couldn’t really complete school because it would help them learn actual skills that are useful for them.â Ia lalu mengikuti program empat minggu di Preston yang dijalankan oleh charity Spear.
Dalam penjelasan laporan, Spear mendukung anak muda untuk kembali ke pekerjaan atau pendidikan, serta melakukan pendampingan selama enam bulan. Dengan dukungan itu, Stephen mengejar mimpinya menjadi penata/barber dan mulai menjalani kursus perguruan (college course) pada bulan September.
Rekomendasi: dari dukungan usia dini hingga pembatasan penggunaan ponsel
Laporan menyerukan perubahan menyeluruh, mulai dari dukungan yang lebih kuat di usia dini, peningkatan dukungan kesehatan mental, hingga pembatasan penggunaan smartphone di sekolah. Tim juga menyatakan rekomendasi yang disusun mencakup berbagai aspek dukungan dari sisi mobilitas hingga akses layanan belajar.
Dalam dokumen itu disebutkan ada 24 rekomendasi, termasuk: pemberian akses gratis transportasi publik lokal untuk semua anak muda hingga usia 21 tahun; perbaikan akses ke pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan; perluasan free childcare 30 jam bagi semua keluarga kurang beruntung, bukan hanya keluarga yang bekerja.
Penyelidikan juga menilai membaca dengan kelancaran (reading fluency) di sekolah dasar perlu menjadi prioritas nasional bagi anak kelas pekerja kulit putih. Selain itu, laporan mengusulkan ekspansi besar program apprenticeships agar semua anak muda yang menginginkannya dapat memperoleh magang berkualitas di wilayah mereka.
Baroness Morrisâyang pernah menjadi Secretary of State for Education pada pemerintahan Tony Blair (Labour) pada 2001 hingga 2002âjuga menegaskan batasan data. Ia menyebut data penyelidikan tidak memasukkan keluarga berpenghasilan rendah yang tidak menerima free school meals, sehingga diperlukan definisi yang lebih luas.
âIronically some of the changes we’ll bring in for this group will benefit all children,â ujarnya. Pernyataan itu menekankan bahwa perbaikan yang ditujukan untuk kelompok tertentu diharapkan memberi manfaat lebih luas bagi anak-anak lain.
Kekuatan komunitas dan arah kebijakan pemerintah
Laporan menyebut bahwa anak-anak, keluarga, dan komunitas berbicara dengan kuat tentang kegembiraan, kebanggaan, humor, identitas, serta rasa kebersamaan yang datang dari menjadi bagian dari kelas pekerja kulit putih. âThe task is not to change these communities, but to build an education system that better recognises, values and builds upon the strengths already within them,â kata Baroness Morris.
Phillipson menyatakan bahwa laporan ini memperlihatkan skala tantangan, tetapi juga menegaskan adanya perubahan arah kebijakan. âFor the first time in a long time white working-class children have a government that will fight for them,â katanya, sebelum menambahkan rencana seperti âFrom lifting the two-children limit, to more opportunities through sport and the arts, to breathing new life into family services.â
Dengan demikian, penyelidikan menutup dengan pesan bahwa perbaikan tidak cukup dilakukan lewat langkah terpisah di tingkat sekolah, melainkan menuntut perombakan pendekatan agar sistem pendidikan benar-benar mengakui dan mendukung kekuatan yang telah ada di dalam komunitas kelas pekerja kulit putih.











