Bisnis & Ekonomi

5 Kebiasaan yang Sebaiknya Dihindari Warren Buffett untuk Meraih Kesuksesan

×

5 Kebiasaan yang Sebaiknya Dihindari Warren Buffett untuk Meraih Kesuksesan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 5 Kebiasaan yang Dihindari Warren Buffett demi Meraih Kesuksesan

jurnalistik.co.id – Warren Buffett kerap menekankan bahwa jalan menuju kesuksesan tidak datang hanya dari pilihan investasi yang tepat, tetapi juga dari cara seseorang mengelola waktu. Dalam pandangannya, disiplin menjaga fokus jauh lebih menentukan dibanding upaya mengejar terlalu banyak hal sekaligus.

Ia juga berulang kali menyampaikan pesan itu lewat berbagai surat kepada pemegang saham, wawancara, hingga pidato publik. Intinya, orang yang mampu meraih hasil jangka panjang adalah mereka yang mampu memilih aktivitas yang benar-benar bernilai dan menjauh dari kegiatan yang sekadar menguras energi.

1. Memaksa diri bekerja di luar kompetensi

Buffett memperkenalkan gagasan “lingkaran kompetensi”, yaitu batas bidang yang benar-benar dipahami. Menurutnya, seseorang tidak wajib menjadi ahli di setiap perusahaan atau menguasai semua industri.

Yang lebih penting adalah mengetahui sejauh mana pengetahuan sendiri bisa digunakan untuk menilai peluang. Ia menegaskan bahwa memperluas cakupan terlalu jauh hanya akan membuat energi cepat terkuras.

“Anda tidak harus menjadi ahli di setiap perusahaan, bahkan tidak harus di banyak perusahaan. Anda hanya perlu mampu mengevaluasi perusahaan yang berada dalam lingkaran kompetensi Anda. Ukuran lingkaran itu tidak terlalu penting, tetapi mengetahui batasnya sangatlah penting,” ujar Buffett.

Dengan mendalami beberapa bidang yang memang benar-benar dikuasai, peluang memperoleh hasil yang lebih baik dalam jangka panjang dinilai akan meningkat. Sebaliknya, mengejar terlalu banyak ruang sekaligus membuat seseorang rentan kehilangan arah.

2. Membiarkan “ya” menghabiskan waktu

Buffett justru mengingatkan soal batas dalam menerima setiap peluang dan permintaan. Baginya, perbedaan antara orang yang sukses dan yang benar-benar sukses tampak pada kemampuan untuk berkata “tidak”.

“Perbedaan antara orang sukses dan orang yang benar-benar sukses adalah orang yang benar-benar sukses mengatakan ‘tidak’ pada hampir semua hal,” kata Buffett.

Komitmen kecil yang terasa sepele bisa pelan-pelan mengurangi waktu yang seharusnya dipakai untuk pekerjaan yang lebih penting. Karena itu, keputusan untuk hadir, menerima tugas tambahan, atau memenuhi kewajiban yang tidak selaras dengan tujuan utama perlu diperlakukan secara selektif.

Menghadiri acara yang tidak relevan dan mengambil pekerjaan ekstra karena merasa tidak enak menolak dapat memang terlihat bertanggung jawab. Namun efek jangka panjangnya adalah kesempatan menghasilkan pencapaian yang lebih besar menjadi lebih sempit.

Bagi Buffett, kemampuan mengatakan “tidak” menjaga ruang agar keputusan dan pekerjaan berikutnya benar-benar bernilai. Dengan begitu, fokus tidak mudah terpecah oleh hal-hal yang tidak mendekatkan pada hasil yang diinginkan.

3. Terlalu sibuk tanpa arah

Dalam budaya kerja, kesibukan sering dianggap sebagai tanda produktivitas. Tetapi Buffett memandang aktivitas yang terus-menerus tanpa pertimbangan matang sebagai bentuk kurangnya disiplin.

Ia pernah mengibaratkan kehidupan dan investasi seperti kartu yang hanya memiliki 20 lubang. Gambaran itu menekankan bahwa kesempatan untuk membuat keputusan besar jumlahnya terbatas, sehingga setiap keputusan perlu dipikirkan secara matang.

“Saya pernah mengatakan kepada para mahasiswa bahwa jika setelah lulus mereka hanya memiliki kartu dengan 20 lubang untuk seluruh keputusan investasi dalam hidup, mereka kemungkinan akan menjadi sangat kaya karena akan benar-benar memikirkan setiap keputusan itu,” ujar Buffett.

Karena logika tersebut, Buffett menghabiskan waktunya untuk membaca, berpikir, dan menunggu kesempatan yang tepat. Ia tidak menjadikan tindakan yang serba cepat sebagai kebiasaan utama.

Ia juga pernah menyampaikan bahwa keputusan yang lahir dari kesabaran memiliki tempat dalam mekanisme pasar. “Pasar saham adalah mekanisme yang memindahkan uang dari orang yang tidak sabar kepada mereka yang sabar.”

4. Bertahan pada sesuatu yang sejak awal sulit berhasil

Buffett mengingatkan agar seseorang tidak terus mempertahankan pekerjaan, bisnis, atau situasi yang sejak awal sudah menunjukkan tanda sulit diperbaiki. Dalam banyak kasus, energi untuk memperbaiki yang tidak berjalan baik bisa lebih baik dialihkan.

Ia mencontohkan dengan perumpamaan “perahu bocor”. “Jika Anda berada di perahu yang terus bocor, energi untuk berpindah ke perahu lain kemungkinan jauh lebih bermanfaat daripada terus menambal kebocoran,” kata Buffett.

Menurutnya, orang sukses tidak bertahan dalam kebiasaan membuang tenaga untuk sesuatu yang secara mendasar tidak berjalan dengan semestinya. Mengakhiri kondisi yang merugikan lebih awal bisa membuka kesempatan untuk mengalihkan waktu dan energi ke peluang yang lebih menjanjikan.

Ia juga pernah berpesan, “Hal terpenting jika Anda sudah berada di dalam lubang adalah berhenti menggali.”

5. Membiarkan orang lain menentukan agenda hidup

Buffett sengaja menjaga jadwal hariannya tetap longgar agar tersedia waktu untuk membaca dan berpikir. Ia menilai seseorang perlu mengendalikan penggunaan waktunya sendiri, bukan menyerahkan agenda sepenuhnya kepada orang lain.

“Anda harus mengendalikan waktu Anda sendiri, dan Anda tidak bisa melakukannya jika tidak berani mengatakan ‘tidak’. Jangan biarkan orang lain menentukan agenda hidup Anda,” ujar Buffett.

Buffett juga menilai memenuhi berbagai permintaan yang mendesak dari orang lain memang bisa terasa memuaskan dalam waktu singkat. Namun, kebiasaan itu berpotensi menghilangkan waktu yang diperlukan untuk mengerjakan hal-hal yang benar-benar mendukung tujuan pribadi.

Baginya, waktu luang dalam jadwal bukan ruang kosong yang sia-sia. Justru di momen itu, keputusan-keputusan terbaik sering kali muncul.

Fokus dan disiplin sebagai fondasi

Pesan utama Buffett bukan sekadar mengikuti beragam trik produktivitas. Ia menekankan pentingnya menjaga fokus, memahami batas kemampuan, serta berani meninggalkan hal-hal yang tidak lagi memberi manfaat.

Ia menilai kebiasaan sederhana seperti bersabar, mengatakan “tidak”, dan menggunakan waktu secara disiplin dapat terlihat biasa. Namun ketika dilakukan secara konsisten dari tahun ke tahun, kebiasaan tersebut dapat menjadi landasan kesuksesan yang bertahan lama.