jurnalistik.co.id – Taman Menteng, Jakarta Pusat, terasa seperti ruang publik yang “bekerja” sepanjang hari. Mulai sejak pagi hingga malam, berbagai aktivitas manusia hadir di lapangan yang menjadi tumpuan kegiatan warga.
Pada Selasa (23/6/2026) malam, sepatu olahraga berdecit di atas permukaan beton terdengar bergantian dengan sorakan yang menyusul dari sudut-sudut lapangan. Suasana berubah ketika sepatu roda mulai meluncur, melewati susunan rintangan kerucut yang dibentangkan memanjang di jalur.
Di satu sisi, seorang peserta terlihat saling berteriak dengan rekannya seolah memberi arahan jarak dan tempo. Sementara itu, musik dari pengeras suara mengalir di ruang taman, mendampingi fokus peserta yang menavigasi lintasan.
Sepatu roda bergelinding melintasi bagian tengah lapangan dan memutar melewati area latihan tanpa terburu-buru. Di area lain, beberapa kursi turut dipenuhi orang-orang yang sekadar beristirahat dan mengamati dinamika latihan.
Meski berhadapan langsung dengan Jalan HOS Cokroaminoto, taman tetap menyisakan jeda yang membuat aktivitas tetap terasa terkendali. Rindangnya pepohonan memberi kesan nyaman sehingga latihan malam tidak sepenuhnya terasa “panas” seperti di ruang terbuka lainnya.
Di antara beberapa sudut taman, salah satu ruang yang paling ramai adalah lintasan sepatu roda yang disediakan. Area ini disebut punya keluasan yang bahkan lebih lebar daripada yang ada di Kawasan Gelora Bung Karno.
Di waktu yang sama, Teman Saling Beroda tampak menggunakan bagian tengah lapangan untuk latihan. Komunitas ini memiliki anggota lebih dari 200 orang, dengan potensi bertambah seiring program pelatihan yang digelar setiap enam bulan sekali di Taman Menteng.
Taman Menteng dipilih sebagai lintasan awal bagi anggota yang baru terjun ke dunia sepatu roda. Pada tahap awal, peserta dipersiapkan agar dapat meroda (rolling) di aspal sebagai media latihan sepatu roda.
“Jadi notabenenya itu kalau teman-teman yang lain kita kan orang-orang pasti rekreasionalnya adalah dengan rolling di jalan raya, kayak di jalan Sudirman. Nah, tapi nggak semua orang aware akan keselamatan atau safety -nya. Makanya dari sana, kami merumuskan untuk ada leveling, jadi enggak sembarangan orang bisa ke jalan raya. Jadi selama belum bisa mencapai level tertentu, kalian harus belajar aja dulu,” jelas pendiri komunitas, Aziz, saat ditemui di Taman Menteng, Selasa (23/6/2026).
Dalam praktiknya, latihan tidak hanya menuntut keterampilan mengendalikan roda, tetapi juga kebiasaan mengikuti tahapan kemampuan. Para peserta terlihat belajar mengatur posisi tubuh dan menguji kontrol saat melewati kerucut yang disusun memanjang.
Komunitas ini bergerak melalui pelatihan kelompok (batch) sejak Juni 2024. Pada tiga batch sebelumnya, jumlah anggota berkisar di angka 40 orang, lalu terjadi lonjakan peminat pada batch keempat menjadi 120 orang anggota.
Aziz mengatakan skema pembinaan seperti itu dipilih agar anggota bisa konsisten dan berkomitmen pada latihan yang diberikan. Menurutnya, perekrutan mentor dan pengajar profesional menjadi bagian penting dari upaya menjaga ritme pembelajaran agar tidak hanya berhenti di jadwal awal.
“Biasanya kan namanya komunitas, orang itu akan naik surut ya. Walaupun ada jadwalnya tapi pasti orangnya tuh hilang gitu. Nah, kalau di Teman Sharing Roda ini tuh harus ada komitmen latihan,” tutur Aziz.
Saat malam makin pekat, terdengar pula derap kaki cepat, tendangan bola, dan sorakan yang saling bersahut-sahutan di tepi lapangan. Riuhnya aktivitas itu berlangsung di bawah langit Jakarta yang semakin gelap, sementara sebagian peserta lain memilih waktu untuk bersandar dan menata napas.
Bagi komunitas sepatu roda, Taman Menteng menjadi tempat berlatih yang memadukan ruang luas, keteduhan pepohonan, dan lintasan yang terstruktur. Dengan sistem leveling dan jadwal pelatihan yang teratur, Teman Saling Beroda berupaya memastikan setiap peserta berkembang secara bertahap sebelum akhirnya meluaskan kemampuan di ruang yang lebih menantang.












