Politik & Parlemen

Piddington di Oxfordshire memilih keluar dari Inggris terkait rencana suaka

×

Piddington di Oxfordshire memilih keluar dari Inggris terkait rencana suaka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Piddington in Oxfordshire votes to leave UK over asylum plans

jurnalistik.co.id – Sebuah desa di Oxfordshire, Piddington, menggelar referendum simbolis untuk menolak rencana penampungan pencari suaka di dekat wilayah mereka, dan memilih untuk ā€œkeluarā€ dari Inggris.

Langkah itu muncul sebagai bentuk protes terhadap usulan dari Home Office terkait rencana menampung lebih dari 1.000 migran di sebuah pangkalan militer yang sudah tidak digunakan, tepatnya di MoD Bicester.

Piddington berada di dekat Bicester, dan referendum diselenggarakan pada hari Selasa melalui tempat pemungutan suara yang dibuat di luar gedung balai desa, yang selama ini menjadi pusat kegiatan komunitas.

Dalam agenda yang diumumkan untuk warga, referendum tersebut meminta penduduk desa mengambil posisi atas rencana menampung hingga 1.256 pencari suaka pria di area sekitar Bicester.

Sebanyak 350 warga diundang untuk menggunakan hak suara dalam kotak pemungutan yang disediakan di lokasi tersebut. Pengumuman BBC mencatat bahwa pemungutan berlangsung dengan mekanisme sederhana di lingkungan desa.

Dari total 312 suara yang masuk, hasilnya menunjukkan mayoritas besar warga memilih untuk keluar dari kesatuan Inggris. Sebanyak 285 suara menyatakan pilihan ā€œleaveā€, sementara 26 suara lainnya menolak keputusan tersebut.

Selain dua opsi utama, terdapat juga satu kertas suara yang dinyatakan rusak atau tidak sah (spoiled), sehingga tidak dihitung sepenuhnya ke salah satu kategori pilihan.

Referendum ini dikatakan diselenggarakan oleh dewan paroki setempat, yang mendorong warga untuk menyampaikan sikap mereka melalui pemungutan suara publik yang bersifat simbolis.

Menurut laporan, tindakan warga Piddington diposisikan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana penempatan para pencari suaka pria di lokasi yang disebut MoD Bicester, yang rencananya berada pada jarak dekat dari wilayah desa.

BBC melaporkan bahwa artikel ini dipublikasikan pada 16 September 2026 pukul 07:08 BST dan masih dalam pembaruan, dengan rincian tambahan yang dijanjikan akan dirilis segera setelah proses informasi lanjutan.

Secara keseluruhan, referendum di Piddington memperlihatkan bagaimana komunitas lokal menggunakan saluran simbolis untuk menyatakan ketidaksetujuan atas kebijakan nasional yang dianggap akan membawa perubahan signifikan di lingkungan sekitar mereka.

Dengan persentase dukungan yang tinggi—285 dari 312 suara untuk pilihan keluar—hasil pemungutan tersebut menjadi indikator kuat bahwa sebagian besar warga desa menolak skema penampungan yang diusulkan pemerintah.

Usulan yang memicu referendum ini berangkat dari rencana tingkat pemerintah melalui Home Office untuk menampung lebih dari 1.000 pencari suaka di sebuah pangkalan militer yang sudah tidak lagi dipakai, yaitu MoD Bicester. Di Piddington yang letaknya berdekatan dengan Bicester, warga kemudian menyusun referendum simbolis sebagai cara menyalurkan penolakan mereka secara langsung, sekaligus menegaskan bahwa komunitas ingin menyatakan sikap atas kebijakan yang dinilai akan membawa perubahan di lingkungan sekitar.

Pelaksanaan pemungutan suara dilakukan pada hari Selasa dengan tata cara yang dibuat sedekat mungkin dengan rutinitas komunitas desa. Kotak suara disiapkan di luar gedung balai desa, tempat yang selama ini menjadi titik kumpul berbagai kegiatan warga. Dalam pengumuman untuk warga, referendum ini meminta penduduk memberikan pandangan atas rencana penempatan hingga 1.256 pencari suaka pria di area yang berada di sekitar Bicester, sehingga keputusan yang diambil mencerminkan respon lokal terhadap rencana tersebut.

Meski pemungutan berlangsung melalui mekanisme sederhana, jumlah partisipasi menunjukkan keterlibatan yang cukup luas: pengundangan diberikan kepada 350 warga, sementara total suara yang masuk mencapai 312. Dari seluruh suara yang tercatat, mayoritas besar memilih opsi ā€œleaveā€, yakni 285 suara. Sementara itu, 26 suara memilih menolak keputusan keluar, dan ada satu kertas yang dinyatakan rusak atau tidak sah sehingga tidak sepenuhnya masuk ke kategori pilihan utama.

Menurut penjelasan, referendum ini digagas oleh dewan paroki setempat dan sengaja dibentuk sebagai ruang ekspresi simbolis di depan publik, bukan sekadar diskusi. Laporan BBC menyebutkan bahwa artikel ini dimuat pada 16 September 2026 pukul 07:08 BST dan masih mengalami pembaruan, dengan rincian tambahan yang akan dirilis segera setelah proses informasi lanjutan selesai. Secara keseluruhan, hasil suara—285 dari 312—memberi sinyal kuat tentang dominasi penolakan warga terhadap skema penampungan yang diajukan, sekaligus menunjukkan bagaimana komunitas lokal memanfaatkan kanal simbolis untuk menyampaikan ketidaksetujuan terhadap kebijakan nasional yang dianggap akan berdampak dekat pada wilayah mereka.