Bisnis & Ekonomi

Investor Asing Tetap Mengakumulasi BBRI dan BBCA Meski IHSG Tertekan Konflik AS–Iran

×

Investor Asing Tetap Mengakumulasi BBRI dan BBCA Meski IHSG Tertekan Konflik AS–Iran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Asing Masih Borong BBRI hingga BBCA Meski IHSG Ditekan Konflik AS-Iran

jurnalistik.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir lebih banyak ditentukan oleh sentimen global ketimbang dinamika domestik. Di tengah dorongan yang sempat muncul dari kebijakan Bank Indonesia, eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran justru menjadi pemicu tekanan pada pasar.

IHSG pada akhir pekan menunjukkan pelemahan, yang menurut analis lebih terkait ketidakpastian geopolitik dibanding keputusan kebijakan moneter di dalam negeri. Dengan demikian, arah pergerakan pasar tampak mengikuti sentimen di luar kendali pelaku pasar nasional.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menilai pelemahan yang terjadi di akhir pekan bukan berakar pada faktor kebijakan moneter domestik. Ia mengaitkannya dengan meningkatnya risiko ketidakpastian akibat konflik geopolitik.

Hari menyebut bahwa penguatan sempat terjadi setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan. Namun, pada Kamis dan Jumat muncul sentimen yang menurutnya tidak terduga, yakni konflik AS dan Iran yang kembali memanas.

“Minggu ini sebenarnya sempat ada sentimen positif dari keputusan BI yang mempertahankan suku bunga. Namun pada Kamis dan Jumat muncul sentimen yang tidak terduga, yakni konflik AS dan Iran kembali memanas,” kata Hari dalam Obrolan Saham Kompas.com, Jumat (24/7/2026).

“Itu berada di luar kontrol domestik dan akhirnya menjadi sentimen negatif bagi pasar,” ujar Hari.

Meski pasar secara umum mengalami tekanan, arus transaksi investor asing tetap menunjukkan pola yang selektif. Pada satu sesi perdagangan, investor asing tercatat melakukan aksi jual dengan nilai Rp 759,46 miliar.

Menurut Hari, adanya aksi jual tersebut tidak otomatis berarti minat investor global terhadap saham unggulan mereda. Sebaliknya, ia menilai investor asing masih melakukan akumulasi pada saham-saham tertentu, terutama dari sektor perbankan dan energi.

“Kalau melihat pergerakan sepekan ini, saham seperti BBRI, BBCA, dan Astra masih diakumulasi oleh investor asing. Selain itu, saham sektor energi seperti ANTM, ADRO, dan ITMG juga masih menarik minat asing,” kata dia.

Ia menjelaskan pilihan investor asing dipengaruhi prospek pada masing-masing sektor. Untuk sektor energi, pertimbangan yang mengemuka berkaitan dengan sentimen kenaikan harga minyak, sedangkan perbankan ditopang oleh prospek kinerja yang dinilai lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

“Mereka melihat sektor energi masih prospektif seiring sentimen kenaikan harga minyak, sementara sektor perbankan ditopang prospek kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun lalu,” lanjut Hari.

Hari menambahkan bahwa kedua sektor tersebut masih menjadi fokus utama pelaku pasar asing saat volatilitas global meningkat. Ia menegaskan bahwa preferensi tersebut muncul sebagai respons terhadap situasi pasar yang bergerak lebih dinamis.

“Kedua sektor tersebut masih menjadi pilihan utama investor asing di tengah tingginya volatilitas pasar global,” tegas dia.

Jika dilihat dari data perdagangan selama periode 20–24 Juli 2026, kinerja pasar secara agregat ditutup menguat pada seluruh indikator utama. Kenaikan tertinggi terlihat pada rata-rata volume transaksi harian yang melonjak 66,88 persen menjadi 43,68 miliar lembar saham, dari 26,17 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.

Selain volume, rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat 41,21 persen menjadi Rp 19,76 triliun. Angka tersebut dibandingkan Rp 13,99 triliun pada pekan sebelumnya, yang menunjukkan aktivitas perdagangan berlangsung lebih aktif.

Frekuensi transaksi harian turut naik 14,4 persen menjadi 2,67 juta kali transaksi. Pencapaian ini berasal dari 2,33 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya, sehingga menggambarkan intensitas transaksi yang lebih tinggi.

Di sisi lain, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tumbuh 1,13 persen menjadi Rp 10.870 triliun. Angka ini bergerak naik dari level Rp 10.749 triliun pada pekan sebelumnya.

IHSG juga mengalami kenaikan tipis. Indeks Harga Saham Gabungan menguat 0,34 persen dan ditutup di level 6.196,43, dibandingkan posisi 6.175,53 pada akhir pekan sebelumnya.

Meski IHSG berada dalam tren menguat secara pekan, investor asing tetap mencatatkan aksi jual bersih (net sell) pada perdagangan harian. Pada hari terakhir penghitungan yang disebut dalam artikel, investor asing membukukan net sell sebesar Rp 1,36 triliun.

Secara akumulatif sepanjang 2026, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp 79,09 triliun. Gambaran ini memperlihatkan bahwa sekalipun ada tekanan di beberapa sesi, aliran modal asing tetap bergerak dengan pola yang berbeda-beda sesuai sektor dan preferensi portofolio.

Dengan latar dinamika global tersebut, perhatian pasar pun mengarah pada saham-saham yang dipandang masih menarik. Dalam penilaian Hari, sektor perbankan dan energi menjadi area yang tetap dibidik investor asing, sejalan dengan pertimbangan prospek kinerja serta sentimen harga komoditas.