jurnalistik.co.id – Perselisihan antara puluhan orangtua siswa dan pihak SD Inpres Doyo Baru Sentani yang berujung pada skorsing massal akhirnya selesai melalui mediasi yang difasilitasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura. Dalam pertemuan itu, sanksi terhadap puluhan murid resmi dicabut setelah semua pihak sepakat mencari jalan damai.
Mediasi dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura, Amelia Ondikleuw. Pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan Kementerian Hukum dan HAM, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Papua, jajaran sekolah, serta puluhan orangtua siswa yang terdampak skorsing.
Di ruang mediasi, Kepala Sekolah SD Inpres Doyo Baru, Grace Mehue, memaparkan alasan pemberian sanksi itu. Menurut dia, sekolah menyoroti sejumlah persoalan yang dianggap sudah berlangsung cukup lama di lingkungan belajar anak-anak.
Sejumlah alasan yang disampaikan antara lain tingkat kedisiplinan siswa yang dinilai masih sangat kurang, tingginya intensitas siswa terlambat masuk kelas, kebiasaan meninggalkan sekolah dalam waktu lama tanpa keterangan, serta minimnya partisipasi orangtua dalam menghadiri rapat-rapat yang digelar sekolah.
Di sisi lain, orangtua murid mempertanyakan keabsahan keputusan skorsing yang diambil sekolah. Mereka menilai aturan sanksi itu tidak tercantum dalam draf tata tertib resmi sekolah sehingga keputusan tersebut dianggap sepihak.
Orangtua juga menyampaikan keberatan karena ada anak-anak yang sebenarnya mengikuti acara halalbihalal, tetapi tetap ikut dijatuhi sanksi skorsing. Keberatan itu membuat forum mediasi sempat berlangsung panas sebelum akhirnya mengerucut pada kesepakatan bersama.
Pada akhirnya, semua pihak sepakat agar skorsing dicabut total. Dengan keputusan itu, para siswa dipastikan bisa kembali mengikuti aktivitas sekolah seperti biasa mulai Senin.
“Hasil pertemuan atau mediasi yang dilakukan, disepakati bahwa skorsing untuk siswa dicabut dan mulai Senin nanti anak-anak sudah bisa mengikuti aktivitas sekolah dengan normal,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura, Amelia Ondikleuw kepada wartawan, Minggu (24/5/2026) sore.
Poin perjanjian baru untuk orangtua dan sekolah
Selain pembatalan sanksi, sekolah dan orangtua siswa juga menyepakati sejumlah poin komitmen yang akan ditandatangani bersama. Poin-poin itu nantinya dijadikan panduan bagi guru dan orangtua dalam pelaksanaan aktivitas belajar mengajar ke depan.
Amelia menyebut Dinas Pendidikan akan ikut memantau pelaksanaan poin-poin yang sudah disepakati. Menurut dia, kesepakatan itu diharapkan menjadi pegangan bersama agar hubungan sekolah dan orangtua berjalan lebih baik.
“Tadi ada juga beberapa poin perjanjian yang dibuat oleh sekolah dan nantinya ditandatangani oleh orangtua. Poin-poin itu nantinya akan menjadi panduan bagi guru dan orangtua siswa dalam pelaksanaan aktivitas belajar mengajar kedepannya. Sementara kami dari dinas akan memantau poin-poin yang disepakati bersama itu,” jelas Amelia Ondikleuw.
Amelia juga menegaskan bahwa skorsing yang sempat dikeluarkan sekolah bukan semata-mata dipicu ketidakhadiran siswa dalam acara halalbihalal. Menurut dia, keputusan itu merupakan akumulasi dari persoalan kedisiplinan siswa yang sudah lama menjadi perhatian.
“Jadi pemberian skorsing karena ketidakhadiran di acara halal bihalal itu bukan pemicu utama. Tapi karena ada faktor lain seperti kurangnya disiplin siswa, sering terlambat hingga ketidakhadiran siswa di sekolah dalam waktu lama,” beber Amelia Ondikleuw.
Evaluasi kekurangan guru
Dalam kesempatan itu, Dinas Pendidikan Jayapura juga menyoroti keluhan soal kekurangan tenaga pengajar di SD Inpres Doyo Baru. Amelia mengatakan pihaknya sudah mencatat persoalan tersebut dan akan berupaya mencari solusi terbaik dalam waktu dekat.
“Terkait kekurangan guru di sini kita sudah catat dan kita upayakan. Memang untuk memindahkan guru itu tidak mudah, tapi kita akan upayakan untuk memenuhi kebutuhan guru di sini,” kata Amelia Ondikleuw.
Dengan dicabutnya skorsing dan adanya poin-poin komitmen baru, mediasi ini diharapkan menjadi awal perbaikan hubungan antara sekolah, siswa, dan orangtua. Dinas Pendidikan pun berharap aktivitas belajar mengajar di SD Inpres Doyo Baru Sentani bisa kembali berjalan lebih kondusif.






