jurnalistik.co.id – Rachel Reeves menegaskan kepada BBC bahwa Perdana Menteri terpilih Andy Burnham perlu datang ke Downing Street dengan persiapan yang matang sejak hari pertama. Menurutnya, pemerintahan di Inggris tidak mudah, dan tantangan serta “shock” bisa datang silih berganti.
Dalam wawancara eksklusif bersama Laura Kuenssberg—yang disebut kemungkinan menjadi interview besar terakhir Reeves saat masih menjadi bendahara—ia meminta agar Burnham dan timnya benar-benar siap menjalankan agenda kebijakan. Reeves menyampaikan, “it is important that when Andy walks through that door he has a worked-through plan, because governing is hard in Britain, and lots of challenges and shocks will come his way”.
Reeves juga menekankan pentingnya kejernihan tujuan. Ia mengatakan tim yang akan masuk ke Downing Street harus “really clear about what they want to achieve”, serta tetap “laser-focused” pada hal-hal yang sejak awal memotivasi dan mendorong Burnham.
Ketika ditanya mengenai berakhirnya masa pemerintahan Sir Keir Starmer, Reeves menjawab dengan nada bahwa masyarakat menuntut perubahan lebih cepat. Ia menyatakan, “People are impatient for change – I’m impatient for change and I totally get that people want to see their lives changed faster.”
Reeves berbicara dari ruang negara No 11 di lantai atas, salah satu kamar bersejarah abad ke-17 yang juga dipakai untuk wawancara pertamanya sebagai chancellor pada Juli 2024. Saat itu, ia tak menyangka dirinya dan tetangga sebelahnya akan harus pindah hanya dalam 24 bulan.
Ia tidak menyebut secara eksplisit siapa yang seharusnya menjadi bendahara berikutnya, atau apakah ia sendiri ingin bertahan. Reeves justru menggarisbawahi bahwa pos chancellor adalah “dream job” baginya, meski timnya tampak tidak mengharapkan untuk tetap berada di No 11.
Dalam penilaian terhadap dua tahun masa jabatannya, Reeves mengatakan ia telah membawa “stability and trust” ke ekonomi. Ia menyebut, “Andy will take over an economy that is much stronger than the one I inherited from the Conservatives just two years ago.”
Reeves ingin menyoroti gambaran besar kebijakan ekonomi yang ia klaim membaik. Ia menyebut biaya pinjaman pemerintah yang menurun, inflasi yang jauh lebih rendah dari puncaknya, meningkatnya investasi infrastruktur seperti jalan dan rel, serta pertumbuhan ekonomi yang bergerak lebih cepat dibanding pesaing terdekat Inggris.
Namun, Reeves juga mengakui masih ada masalah besar yang belum terselesaikan. Inflasi, menurutnya, masih di atas target dan diperkirakan akan naik; pertumbuhan masih lambat. Ia juga mengingatkan, Bank of England telah memperingatkan bahwa suku bunga mungkin perlu kembali dinaikkan.
Berita Terkait
Ia menambahkan bahwa utang negara diproyeksikan lebih tinggi di akhir masa parlemen dibanding saat Labour pertama kali mengambil alih kekuasaan. Reeves juga menekankan tekanan pada daya belanja keluarga dan perusahaan, dengan angka terbaru ONS yang menunjukkan pendapatan disposabel terus turun.
Perdebatan politik dan kritik di No 11
Sejumlah penilaian politik dari tokoh-tokoh internal juga mewarnai pembicaraan. Seorang mantan menteri senior menilai Reeves “had spent a lot of time and energy painting a picture of her grim inheritance in the expectation things would brighten up quickly and she could claim credit”. Ia menambahkan, “By the time she found that things were different, with tight public finances, mushrooming welfare, and the economy stuck in a low-growth trap, she had used up all her political capital and was unable to win the big arguments on welfare reform”.
Penilaian lain menyebut kondisi itu disertai keprihatinan. Mantan menteri senior tersebut mengatakan, “It’s all actually sad because I think her instincts are generally OK, but by the time she figured out the right things to do, it was too late”.
Sementara itu, hubungan Reeves dengan dinamika politik setelah perpindahan ke Downing Street juga disinggung. Starmer sendiri, menurut pernyataan yang disebut dalam wawancara, menunjuk pada keputusan untuk menghapus tunjangan bahan bakar musim dingin bagi jutaan pensiunan—yang kemudian sebagian dibalik—sebagai salah satu kesalahan pemerintahan.
Tokoh senior Labour lain juga mengkritik pendekatan Reeves, dengan kalimat, “She’d underestimated the desire for radical change, and lacked political nous on key decisions like winter fuel.” Reeves, dalam wawancara ini, tidak mengakui bahwa hal tersebut merupakan problem spesifik, dan ia ingin menonjolkan kemajuan yang menurutnya terjadi selama masa jabatannya.
Reeves juga tidak bersedia mengakui bahwa relasinya dengan dunia usaha memburuk setelah ia menaikkan pajak National Insurance untuk pemberi kerja. Seorang sumber dari kalangan City menyebut kenaikan biaya untuk bisnis memberi dampak yang langsung, lalu “led to them laying off staff”. Ia menambahkan, “There was so much goodwill, but it was genuinely staggering – it just went in a few weeks”.
Soal tekanan personal di ruang publik, Reeves menyatakan bahwa salah satu momen tersulit terjadi saat ia terlihat menangis di House of Commons. Ia menggambarkan momen itu sebagai “probably my toughest moment”, dan mengatakan, “Don’t cry on national television. That was probably my toughest moment, or perhaps even tougher, seeing the photos of me crying on national television on the front page of pretty much every newspaper the following day.”
Reeves juga mengaitkan keputusan-keputusannya dengan upaya menghadirkan stabilitas. Ia menyebut perannya sebagai chancellor perempuan telah membangun “a rock of stability and trust”, sambil mengakui bahwa ada momen-momen sulit selama menjabat.
Menjawab pertanyaan apakah ia kecewa karena Burnham dikabarkan telah merencanakan waktunya sebagai PM selama setahun—seperti yang diakui seorang anggota parlemen Labour—Reeves mengatakan ambisi adalah hal yang wajar. Ia menyatakan bahwa Burnham tidak pernah menutup-nutupi keinginannya untuk memimpin Partai Buruh suatu saat, dan ia ingin ia siap agar “I want it to be a success and I am sure he will be.”












