jurnalistik.co.id – Seorang keluarga warga Inggris yang sedang berlibur di Bedar menceritakan detik-detik “mengerikan” saat harus melarikan diri dari kebakaran hutan yang disebut sebagai salah satu yang paling mematikan di Spanyol.
Lucinda Curtois menggambarkan situasi yang mereka hadapi sebagai pengalaman yang sulit dilupakan, terutama karena kondisi di sekitar mereka berubah begitu cepat dan menutup peluang untuk bergerak dengan aman.
Menurut keterangan otoritas Spanyol, kebakaran tersebut menewaskan 12 orang di desa setempat—di antaranya empat warga Inggris—sementara 23 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Lucinda menyebut keluarga mereka awalnya sama sekali tidak mempersiapkan kemungkinan terburuk. Ia mengatakan kedatangan mereka bukan untuk menghadapi bencana sebesar itu, melainkan untuk beraktivitas seperti rutinitas perjalanan liburan.
Lucinda tiba di Spanyol bersama pasangan, Riyaz Cheytan, serta dua anak remaja mereka pada hari Kamis. Ia menuturkan bahwa pada awalnya mereka tidak menduga akan bertemu situasi yang mengarah pada pengepungan api.
“They were not ‘expecting to hit a wall of fire’,” ujarnya, merujuk pada ketidaknyamanan dan ketakutan yang muncul ketika api mulai mendekat dan ruang gerak makin menyempit.
Dalam perkembangannya, Lucinda kemudian mengetahui bahwa ada orang-orang yang sangat dekat dengan keluarganya justru menjadi korban. Ia mengatakan beberapa sahabat keluarga mereka kehilangan nyawa dalam kejadian itu.
“They later found out that some close family friends had lost their lives,” kata Lucinda dalam penuturannya, menekankan bahwa kabar tersebut baru mereka terima setelah situasi mulai mereda dan informasi bisa dikumpulkan.
Ia juga menceritakan satu detail yang membuatnya sulit memahami apa yang terjadi: para sahabat tersebut dilaporkan memilih meninggalkan rumah dengan berjalan kaki.
“They left their home on foot, I don’t know why,” ucap Lucinda. Ia mengakui ketidakpastiannya, karena ia tidak melihat langsung alasan keputusan tersebut saat kejadian berlangsung.
Berita Terkait
Lucinda kemudian mencoba menafsirkan kemungkinan yang paling masuk akal berdasarkan kondisi yang ia dengar dan hubungkan dengan letak tempat tinggal para korban.
“I can only presume it was probably because their road was cut off because they live out in the countryside,” lanjutnya. Ia berpendapat akses jalan mungkin terputus, terutama karena para sahabat itu tinggal di wilayah pedesaan.
Cerita Lucinda memperlihatkan bagaimana bencana kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada api, tetapi juga pada perubahan jalur dan keputusan darurat yang harus diambil dalam waktu singkat.
Bagi keluarga yang mengalami langsung proses evakuasi, yang paling terasa adalah benturan antara rencana perjalanan dan kenyataan lapangan saat api bergerak cepat. Dalam kondisi tersebut, banyak hal yang awalnya tampak “terlalu jauh untuk terjadi” justru berubah menjadi ancaman yang nyata.
Di tengah laporan korban dan daftar orang yang masih hilang, kesaksian Lucinda menambah gambaran tentang kerentanan situasi di desa-desa yang berada di dekat area terdampak.
Sementara otoritas Spanyol mencatat jumlah korban tewas dan status 23 orang yang hilang, keluarga-keluarga yang selamat seperti Lucinda tetap berusaha memahami rangkaian peristiwa—termasuk bagaimana seharusnya mereka bersiap, serta mengapa sejumlah orang akhirnya tidak bisa menyelamatkan diri.
Ia juga menekankan bahwa apa yang mereka rasakan bukan hanya rasa takut saat api makin dekat, tetapi juga kebingungan ketika setiap pilihan mendadak terasa terbatas. Ketika keadaan bergerak lebih cepat dari bayangan, keluarga tersebut harus menyesuaikan diri tanpa waktu untuk merenung panjang.
Lucinda mengatakan bahwa bagi mereka, hari liburan yang awalnya diisi kegiatan biasa berubah menjadi situasi darurat yang memaksa penilaian instan. Di momen seperti itu, rencana yang sudah disusun sebelumnya tidak lagi sejalan dengan kondisi lapangan yang berubah dari menit ke menit.
Selain kehilangan, ia menyoroti cara informasi tentang korban akhirnya terkumpul setelah situasi mereda. Keterangan yang kemudian diketahui mengenai nasib sahabat-sahabat dekat membuat keseluruhan kejadian semakin sulit dipahami, terutama karena keputusan untuk pergi berjalan kaki tidak bisa ia saksikan langsung pada saat yang sama.
Menurut pengamatan Lucinda, kemungkinan besar pemilihan rute tersebut terkait kondisi akses di sekitar tempat tinggal para korban. Dengan latar wilayah pedesaan, ia menduga jalan bisa saja terputus sehingga opsi yang tersisa menjadi lebih sempit, dan akhirnya berdampak pada keputusan darurat yang mereka ambil.












