Internasional

Mykhailo Drapatyi Jadi Panglima Tertinggi Ukraina Pengganti Oleksandr Syrskyi

×

Mykhailo Drapatyi Jadi Panglima Tertinggi Ukraina Pengganti Oleksandr Syrskyi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Who is Mykhailo Drapatyi, Ukraine's new commander-in-chief?

jurnalistik.co.id – Presiden Volodymyr Zelensky melakukan pergantian besar di pucuk komando militer Ukraina dengan menunjuk Maj Gen Mykhailo Drapatyi sebagai panglima tertinggi. Drapatyi menggantikan Gen Oleksandr Syrskyi, dan menjadi penerus ketiga sejak invasi Rusia berskala penuh dimulai pada Februari 2022.

Langkah nominasi Drapatyi mendapat sambutan dari kalangan masyarakat sipil maupun militer. Di tengah demonstrasi yang awalnya memberi dukungan pada figur yang dianggap dekat dengannya, yakni mantan menteri pertahanan Mykhailo Fedorov, sorakan perlahan berubah menjadi tuntutan agar Syrskyi dicopot.

Seorang prajurit Ukraina mengatakan kepada BBC, “There’s no better person for this position nowadays in Ukraine.” Menurut penuturan tersebut, dukungan terhadap Drapatyi bertumpu pada rekam jejak pengalaman militer, kemampuan sebagai jenderal lapangan, serta reputasinya di kalangan internal sebagai pemimpin yang “humane and strong”.

Drapatyi menempuh pendidikan di Kharkiv Institute of Tank Troops dan lulus pada 2004. Setelah itu ia memulai karier sebagai perwira letnan, lalu berkembang hingga mendapat perhatian lebih luas pada periode konflik di Ukraina timur.

Sepuluh tahun setelah memulai dinas, namanya makin dikenal ketika sebuah rekaman beredar luas. Dalam video tersebut, kendaraan tempur infanterinya terlihat menghantam dan menembus barikade darurat. Kejadian itu terjadi pada Mei 2014, ketika separatis pro-Rusia telah menguasai sebagian wilayah di timur Ukraina.

Dalam situasi tersebut, batalion Drapatyi memasuki pelabuhan Mariupol untuk membebaskan sandera yang ditahan di kantor polisi setempat. Ia kemudian menceritakan bahwa sebelumnya ia diberi informasi mengenai rintangan berupa barikade setinggi lebih dari satu meter dan diminta menentukan langkah berikutnya. “I said, ‘let’s take it by storm.’ This video flew around the world,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Masih pada tahun yang sama, Drapatyi mendapat pujian atas tindakannya menarik unit-unit Ukraina yang terkurung dari area perbatasan wilayah Luhansk. Setelah beberapa tahun, ia kembali melanjutkan pendidikan untuk pengayaan kemampuan operasional dan strategis pada 2021.

Pada Juni 2021, Drapatyi menerima penghargaan berupa sword of honour sebagai lulusan terbaik. Penghargaan itu diberikan oleh Duta Besar Inggris Melinda Simmons, menandai penguatan jalur pelatihan yang menitikberatkan aspek strategi.

Ketika invasi berskala penuh Rusia dimulai pada Februari 2022, Drapatyi menjabat sebagai wakil komandan pasukan gabungan. Ia memimpin kelompok-kelompok operasi—satuan tugas sementara—di sejumlah sektor garis depan, termasuk upaya mendorong mundur gerak maju pasukan Rusia menuju Kryvyi Rih.

Dalam periode tersebut, ia juga terlibat dalam pembebasan sejumlah permukiman di wilayah Kherson dan Dnipropetrovsk. Dari capaian kepemimpinan di medan, pada 2024 Drapatyi dipercaya memimpin Angkatan Darat Ukraina yang bertempur di wilayah-wilayah konflik paling intens di timur.

Kurang dari setahun kemudian, sebuah lokasi latihan di wilayah Dnipropetrovsk menjadi sasaran serangan rudal Rusia. Dalam insiden tersebut, 12 tentara dilaporkan tewas dan 60 lainnya mengalami luka.

Drapatyi menyerahkan pengunduran diri pada hari yang sama. Ia menyatakan memikul tanggung jawab pribadi atas “conspiracy of silence and impunity” yang, menurut penilaian dirinya, berujung pada kematian para prajurit. Ia menulis, “An army in which commanders bear personal responsibility for the lives of personnel keeps living. An army in which nobody is responsible for a loss dies.”

Keputusan itu dipandang sebagai tanda akuntabilitas personal. Zelensky kemudian memilih menunjuknya sebagai komandan Pasukan Gabungan Angkatan Bersenjata Ukraina, dan keputusan tersebut mendapat pujian luas.

Sejak penunjukan itu, kabar tentang ketegangan antara Drapatyi dan Syrskyi mulai terdengar lebih sering. Pada Juni 2025, seorang perwira yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada media Ukraina bahwa Drapatyi adalah jenderal yang relatif muda, berbakat, dan kerap ditempatkan pada situasi yang sangat sulit.

Perwira tersebut juga menyatakan, “I do not think he has political ambitions. Yet I am sure his ambitions are not confined to the position of commander of the ground forces or the Joint Forces.” Setelah lebih dari setahun berlalu, Syrskyi dinyatakan sudah tidak menjabat, sementara harapan terhadap Drapatyi meningkat.

Mykola Bielieskov, analis senior dari NGO Ukraina Come Back Alive, menilai Drapatyi memiliki reputasi yang kuat di kalangan prajurit, terutama mereka yang bergabung setelah 2022 sebagai warga sipil. Namun ia menekankan bahwa tugas panglima tertinggi tidak hanya soal kemampuan komando di lapangan, melainkan juga soal ruang gerak yang dibatasi banyak faktor.

“The commander-in-chief has a lot of leverage. But war is a combination of government, the president’s office, military suppliers, dependence on [Western] partners… so he’s got a tricky path before him,” kata Bielieskov. Dengan kondisi perang yang masih berlangsung, peluang gencatan senjata dinilai tipis, dan Ukraina menatap musim dingin yang keras.

Salah satu prioritas yang disebut akan menunggu Drapatyi adalah mobilisasi tenaga manusia. Ia juga diperkirakan menghadapi persoalan korupsi yang menyentuh berbagai level dalam struktur militer, dari pejabat terkait proses wajib militer hingga pengadaan pertahanan.

Di saat yang sama, Drapatyi diharapkan memaksimalkan kemajuan teknologi Ukraina serta berkembangnya industri pertahanan berbasis teknologi yang ikut mendorong keberhasilan-keberhasilan terbaru di medan perang. Dalam pesan pertamanya pada jabatan baru, Drapatyi mengakui bahwa tugas tersebut sulit, dan berjanji bekerja “without making loud promises, with responsibility for our decisions, and with respect” bagi mereka yang berada di garis depan.

Banyak pihak menantikan perubahan dari cara memimpin yang sebelumnya dinilai kurang menghargai nyawa manusia demi ofensif yang brutal. Namun Bielieskov mengingatkan agar publik tidak terjebak pada penyederhanaan berlebihan yang bisa berujung pada tuntutan perbaikan menyeluruh dalam waktu yang tidak realistis.

Penilaian itu didukung oleh Oleksiy Kopytko, penasihat senior mantan kementerian dalam negeri. Ia mengingatkan bahwa sebagai panglima tertinggi, dukungan publik bisa berubah cepat, dengan mengatakan, “you are worshipped and loved by all today, not loved by everyone tomorrow, and are guilty of everything the day after tomorrow, with none of your achievements mattering”.

Valery Zaluzhnyi—yang dicopot sebagai kepala Angkatan Bersenjata Ukraina pada 2024—juga memprediksi Drapatyi akan menghadapi masa yang berat. Ia memperingatkan bahwa tantangan yang menunggu lebih sulit daripada yang mungkin dibayangkan Drapatyi, dengan menyatakan, “have a very difficult time. Much harder than he imagines”.

Di sisi lain, di kalangan banyak prajurit dan warga Ukraina muncul rasa antusias terhadap perubahan corak kepemimpinan. Sejumlah orang meyakini bahwa jika Fedorov kembali menempati posisi menteri pertahanan, kombinasi gaya kepemimpinan dirinya dan Drapatyi bisa menjadi “Russia’s worst nightmare”.

Pada saat Drapatyi mengundurkan diri dari jabatan sebelumnya pada 2025, ia menyebut daftar persoalan yang telah ia tangani di Angkatan Darat. Isu-isu itu mencakup reformasi pelatihan tempur, mobilisasi yang dianggap tidak adil, korupsi, serta sistem pengadaan yang dinilai keliru.

Ia juga menyampaikan bahwa akan ada resistensi, tetapi upaya perlu ditingkatkan. Dalam peran barunya, tantangan serupa diperkirakan akan kembali muncul, meski skalanya jauh lebih besar dan berada di bawah pengawasan seluruh negara.