Peristiwa

“Saya Benar-benar Dianggap Manusia” — Cerita Anggi Wahyuda, Pendaki Disabilitas di Gunung Binaia hingga Everest Basecamp

×

“Saya Benar-benar Dianggap Manusia” — Cerita Anggi Wahyuda, Pendaki Disabilitas di Gunung Binaia hingga Everest Basecamp

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

jurnalistik.co.id – Anggi Wahyuda dikenal sebagai influencer disabilitas yang menolak berhenti pada keterbatasan. Sejak 2015, hidupnya berubah setelah kecelakaan tertabrak truk tangki, hingga kaki kanannya harus diamputasi.

Peristiwa itu tidak lantas memadamkan cita-citanya. Justru, perjalanan yang ia tempuh kemudian menjadi cara Anggi membuktikan bahwa dirinya tetap bisa bergerak, berjejaring, dan mengejar banyak mimpi.

Dua tahun pertama setelah kecelakaan menjadi masa yang paling berat. Anggi sempat frustrasi dan merasa takut untuk bertemu orang lain, seolah dunia baru yang ia hadapi terlalu asing.

Namun, ia perlahan menemukan kembali pijakan. Ia mulai mengambil bagian dalam beragam kegiatan, mulai dari komunitas stand up comedy, lalu berkembang sebagai konten kreator, sampai akhirnya memilih aktivitas fisik yang menuntut ketangguhan: mendaki gunung.

Anggi berkecimpung di media sosial sejak 2018. Pada awalnya, kontennya banyak berangkat dari sosial eksperimen, sebelum perlahan bergeser menjadi hobi yang lebih ia tekuni dalam enam tahun belakangan ini, yakni mendaki gunung dan berlari.

Selama rentang waktu itu, Anggi mencatat dirinya telah menaklukkan sekitar 30 gunung di Indonesia. Ia melakukannya dengan satu kaki, tanpa menjadikan kondisi tubuhnya sebagai alasan untuk mundur.

Gunung Binaia, medannya dianggap terlalu sulit

Dari puluhan pendakian tersebut, Gunung Binaia di Maluku menjadi salah satu pengalaman yang tak mudah ia lupakan. Ketinggian gunung itu sekitar 3.027 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan jalur yang terjal dan membutuhkan upaya ekstra karena harus melewati sungai deras.

Bagi Anggi, tantangannya tidak sekadar soal medan, tetapi juga soal kesiapan fisik dan mental. Ia mengatakan tetap yakin bisa mendaki setelah melakukan berbagai persiapan, termasuk berlari, meski ia harus menyesuaikan cara bergeraknya.

Setelah tiba di lokasi, Anggi dan rombongannya tidak bisa langsung memulai pendakian begitu saja. Gunung Binaia, menurut pandangan setempat, masih dianggap sakral sehingga mereka harus meminta izin terlebih dahulu kepada kepala adat.

Dalam keterangannya saat ditemui di kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (15/7/2026), Anggi menyampaikan proses itu bukan sekadar formalitas. Ia menjelaskan bagaimana awalnya masyarakat setempat menunjukkan kekhawatiran.

“Di sana kami memulai pendakian dari desa adat. Awalnya, masyarakat setempat sangat khawatir dan takut mengizinkan saya mendaki karena medannya dianggap sangat sulit,” tutur Anggi.

Untuk mengantongi izin, Anggi dan teman-temannya diwajibkan mengikuti ritual adat lebih dulu. Tujuan ritual itu diarahkan pada keselamatan selama perjalanan, sehingga prosesnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pendakian itu sendiri.

Situasi kemudian sempat terasa menekan ketika mereka mendapatkan saran untuk tidak melanjutkan pendakian. Anggi mengaku kesal karena ia merasa kemampuan dirinya diragukan hanya karena kondisi fisiknya tidak sempurna.

Padahal, menurut Anggi, ia pernah mendaki Gunung Leuser di Aceh. Ia menyebut track Leuser dinilai jauh lebih sulit, dengan ketinggian mencapai 3.404 mdpl dan jalur yang sama-sama menantang.

Pengalaman di Leuser menjadi semacam pembanding yang membuat Anggi tidak mudah menerima penilaian orang lain. Bagi dia, keraguan yang muncul di Binaia terasa seperti hambatan baru yang datang bukan dari kemampuan pendakiannya, melainkan dari cara masyarakat memandang tubuhnya.

Negosiasi panjang hingga izin akhirnya turun

Ketika sempat dilarang mendaki Gunung Binaia, Anggi merasakan dirinya “dibatasi” sebagai penyandang disabilitas. Ia tidak berhenti pada rasa kecewa, tetapi memilih menjalani proses negosiasi yang panjang agar mimpinya tidak terkubur.

Akhirnya, setelah proses itu ditempuh, kepala adat dan warga setempat memberikan izin. Anggi pun mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendakian dan berdiri di puncak Gunung Binaia, sebuah pencapaian yang baginya bermakna lebih dari sekadar capaian fisik.

Baginya, keputusan izin tersebut juga memperlihatkan bahwa keterbatasan tidak otomatis berarti ketidakmampuan. Dengan persiapan yang matang, dukungan komunitas, serta proses adat yang dihormati, Anggi menunjukkan bahwa pendakian bisa menjadi ruang keberanian yang lebih setara.

Di balik setiap langkahnya, ada cerita tentang bagaimana rasa takut dan frustrasi dulu tidak menguasai sepenuhnya. Kini, ia menata hidup lewat hobi yang ia tekuni selama bertahun-tahun, sekaligus memelihara keyakinan bahwa setiap mimpi tetap layak diperjuangkan.