Peristiwa

Atap Ambrol, SDN Tanggirejo Grobogan Gelar KBM Bergiliran

×

Atap Ambrol, SDN Tanggirejo Grobogan Gelar KBM Bergiliran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ruang Kelas SDN Tanggirejo Grobogan Ambrol, Siswa Belajar di Mushala dan Bergantian Ruang Kelas

jurnalistik.co.id – Kegiatan belajar mengajar di SDN Tanggirejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terganggu setelah kondisi bangunan beberapa ruang kelas rusak parah hingga bagian atapnya ambrol pada Rabu (15/7/2026).

Kepala SDN Tanggirejo, Juwariyah, menyampaikan bahwa para murid harus berbagi ruang belajar agar proses KBM tetap berjalan dengan aman untuk guru maupun siswa. Sekolah kemudian menerapkan mekanisme pembelajaran darurat demi kenyamanan dan keamanan.

Skema belajar bergiliran di dalam lingkungan sekolah

Pengaturan ruang dilakukan karena tidak semua kelas dapat digunakan secara langsung. Untuk murid kelas 1 dan 2, pembelajaran dilakukan secara bergantian dengan memanfaatkan satu ruangan, yakni ruang kelas 1.

Murid kelas 3 dan 4 menempati ruang kelas 3 yang disekat menggunakan triplek. Sementara itu, murid kelas 5 belajar di mushala, dan murid kelas 6 meminjam ruang kelas 2.

Adapun ruang perpustakaan dimanfaatkan sebagai ruang kerja guru agar aktivitas pendampingan belajar tetap bisa berlangsung di sekolah meski beberapa ruang kelas ditutup. Dengan pembagian tersebut, sekolah berupaya menjaga keberlangsungan kegiatan belajar tanpa mengabaikan faktor keselamatan.

Juwariyah mengatakan pihaknya mengambil langkah untuk menutup bagian bangunan yang dianggap tidak layak dipakai. “Kami memutuskan untuk mengosongkan empat ruang yang kondisi bangunan tidak layak untuk ditempati dan membahayakan,” kata Juwariyah, Rabu.

Menurut Juwariyah, kerusakan pada bangunan empat ruang tersebut meliputi kelas 4, kelas 5, kelas 6, serta ruang guru. Ia menyebut, keempat ruang itu berada berdampingan atau bersambungan dalam satu kompleks, sehingga dampak kerusakan berkembang pada bagian-bagian yang berdekatan.

Juwariyah menjelaskan bahwa kerusakan atap telah terjadi sejak awal 2026. “Atap roboh hingga kerusakan bertahap mulai awal Januari 2026. Dimulai dari kelas 6, kelas 5, ruang guru dan kemudian kelas 4,” ungkap Juwariyah.

Pelaporan kerusakan dan usulan perbaikan

Juwariyah menyampaikan bahwa kondisi bangunan di SDN Tanggirejo sudah dilaporkan kepada Pemkab Grobogan, termasuk ke Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan. Ia berharap proses perbaikan segera berjalan, mengingat gangguan terhadap kegiatan sekolah terus berlangsung.

Ia mengatakan, “Kabarnya akan dilakukan perbaikan segera. Hingga saat ini belum ada petunjuk tindak lanjut kapan akan dipanggil, semoga terwujud,” kata dia. Pernyataan itu menegaskan sekolah masih menunggu kejelasan langkah tindak lanjut terkait penanganan kerusakan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Purnyomo menyatakan pihaknya telah mengecek langsung lokasi SDN Tanggirejo yang mengalami ambrol pada atap ruang kelas. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi bangunan sekaligus menentukan upaya penanganan yang diperlukan.

Purnyomo juga menyebut bahwa Korwilcam Bidang Pendidikan telah melaporkan kondisi tersebut lebih dahulu. Dengan pertimbangan itu, sebelum atap ruang kelas ambrol, pihaknya sudah mengusulkan perbaikan bangunan melalui program revitalisasi sekolah kepada pemerintah pusat.

Namun, menurut Purnyomo, kondisi di lapangan tidak menunggu rencana program berjalan. “Usulan untuk revitalisasi sebenarnya sudah kami ajukan. Namun, sebelum program tersebut terealisasi, atap dua ruang kelas lebih dulu ambrol,” kata dia. Ia menekankan bahwa keterlambatan realisasi program membuat sekolah menghadapi kebutuhan penanganan yang lebih cepat akibat kerusakan yang terus berkembang.

Lebih lanjut, Dinas Pendidikan Grobogan akan mengusulkan penanganan kerusakan atap ruang kelas ke Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) agar dapat diprioritaskan dalam APBD Perubahan Grobogan. “Kami berharap salah satu dari ikhtiar ini dapat segera membuahkan hasil sehingga kerusakan gedung bisa segera ditangani. Yang terpenting, proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman, nyaman, dan kondusif bagi para siswa,” pungkas Purnyomo.