Peristiwa

Melki Laka Lena Pastikan Kupang Siap Jadi Tuan Rumah PeSONas II 2026

×

Melki Laka Lena Pastikan Kupang Siap Jadi Tuan Rumah PeSONas II 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gubernur NTT Pastikan Kupang Siap Jadi Tuan Rumah PeSONas II 2026

jurnalistik.co.id – Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena memastikan Kota Kupang telah siap menjadi tuan rumah PeSONas II 2026 yang berlangsung pada 13–18 Oktober 2026.

Ia menekankan, persiapan Pemerintah Provinsi NTT tidak berhenti pada kesiapan arena pertandingan dan fasilitas pendukung. Penyelenggaraan juga diarahkan untuk membentuk lingkungan yang inklusif.

Dengan pendekatan itu, para atlet penyandang disabilitas intelektual diharapkan merasa dihargai dan diperlakukan sebagai pribadi yang setara.

Persiapan arena dan fasilitas, sekaligus membangun lingkungan

Melki menyebut pemerintah daerah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk pelaksanaan PeSONas II. Menurutnya, tugas tuan rumah mencakup penguatan aspek teknis, namun juga memastikan kenyamanan seluruh peserta dan pendampingnya.

Ia menuturkan, pemerintah menyiapkan “hati, masyarakat, lingkungan, dan ruang” bagi setiap atlet, termasuk bagi pihak yang hadir menemani atlet selama kegiatan di Kupang berlangsung.

Dalam acara Charity Night Special Olympics Indonesia (SOIna) di Kementerian Sosial, Jakarta, pada Rabu (15/7/2026), Melki menjelaskan bahwa menjadi tuan rumah berarti menyediakan lebih dari sekadar pertandingan, penginapan, dan pembukaan.

“Sebagai Tuan Rumah, kami tidak hanya menyiapkan pertandingan, penginapan atau pembukaan. Tetapi sebagai tuan rumah kami juga menyiapkan hati, menyiapkan masyarakat, menyiapkan lingkungan, dan menyiapkan ruang untuk setiap atlet dan juga semua yang nanti hadir menemani para atlet di Kupang, NTT dihargai sebagai pribadi yang unggul,” ujar Melki.

Bagi Melki, bagian lingkungan yang inklusif itu menjadi rangkaian penting yang sejajar dengan persiapan arena dan fasilitas. Ia memandang setiap elemen penyelenggaraan perlu memberi rasa dihargai bagi atlet.

PeSONas II diposisikan sebagai komitmen membangun masyarakat inklusif

Melki menyatakan, kepercayaan untuk menjadi tuan rumah PeSONas II 2026 adalah kehormatan sekaligus amanah. Ia menyampaikan penyelenggaraan ini disambut Pemerintah Provinsi NTT dengan rasa syukur dan tanggung jawab.

Ia menegaskan, PeSONas II bukan sekadar ajang olahraga empat tahunan. Menurutnya, acara itu merupakan momentum untuk menunjukkan komitmen Indonesia dalam membangun masyarakat yang inklusif.

“PeSONas II bukan sekadar ajang olahraga empat tahunan, melainkan momentum untuk menunjukkan komitmen Indonesia dalam membangun masyarakat yang inklusif,” katanya.

Melki juga menyampaikan pandangannya bahwa PeSONas adalah pernyataan tentang arah gerak Indonesia dalam memperluas ruang penerimaan terhadap sesama. Ia mengutip prinsip “melihat kemampuan sebelum melihat keterbatasan” serta “membuka ruang sebelum memberi penilaian”.

“Yang melihat kemampuan sebelum melihat keterbatasan, yang membuka ruang sebelum memberi penilaian,” kata Melki.

Ia menegaskan, NTT ingin menjadi rumah yang nyaman bagi peserta dan menunjukkan bahwa inklusi tidak berhenti pada slogan. Melki menyampaikan komitmen tersebut akan dibuktikan melalui cara memperlakukan manusia sebagai sesama manusia.

“Kami di NTT mempersiapkan ini sebagai sebuah rumah, di mana semua tamu yang datang akan dihargai dan rumah yang memperlihatkan bahwa inklusi bukan sekadar slogan, tetapi akan kita buktikan dengan memperlakukan manusia sebagai sesama manusia,” katanya.

PeSONas II 2026 dijadwalkan diikuti sedikitnya 23 provinsi dengan melibatkan 908 atlet dan 386 pelatih. Acara ini mempertandingkan tujuh cabang olahraga di Kota Kupang.

Melki menyebut persiapan tersebut dimaksudkan agar Kupang mampu menampung rangkaian kegiatan dengan dukungan yang utuh. Ia juga berharap pelaksanaan PeSONas II memberi pengalaman penyelenggaraan yang mencerminkan prinsip inklusi di tengah masyarakat.

Ia menambahkan, prinsip penghargaan bagi semua tamu menjadi ukuran kesiapan tuan rumah. Kupang, kata Melki, akan menempatkan atlet dan pendamping sebagai sesama manusia yang layak dihargai.