jurnalistik.co.id – Martha Lillard, yang disebut sebagai pasien polio terakhir di Amerika Serikat yang tetap menggunakan iron lung, berpulang pada usia 78 tahun. Keluarganya menyampaikan bahwa ia tidak pernah membiarkan alat medis itu mengendalikan hidupnya.
Cindy McVey, saudara Martha Lillard, mengatakan kepada BBC bahwa Martha menjalani kehidupan dengan iron lung selama bertahun-tahun. Perangkat besar dari logam itu melingkari tubuhnya untuk membantu pernapasan, sementara tekadnya justru mendorongnya tetap bergerak, berkarya, dan membangun rutinitas yang bermakna.
Martha meninggal pada 26 Juni, seperti yang disampaikan McVey. Dalam catatan penyebab kematian secara resmi, ia tercatat mengalami post-polio syndrome dan chronic pulmonary failure, namun McVey mengaitkan kepergian sang saudara dengan efek long Covid-19.
Iron lung dan caranya bekerja
Iron lung menggunakan sistem tekanan negatif. Dengan bantuan motor, bagian “bellow” perangkat menyedot udara keluar dari silinder, sehingga tercipta ruang hampa di sekitar tubuh pasien dan paru-paru dapat mengembang untuk menerima udara. Ketika udara dilepaskan kembali, proses yang sama berjalan terbalik hingga paru-paru dapat kembali mengempis.
Menurut cerita keluarga, Martha menggunakan mesin tersebut selama 73 tahun. Ia tidak hanya bertahan, tetapi juga menyesuaikan banyak aspek hidupnya agar tetap mandiri dan sejajar dengan aktivitas sehari-hari orang seusianya.
Tidak takut, justru merasa “terisi”
McVey menuturkan bahwa Martha tidak merasa tidak nyaman berada di dalam iron lung seperti yang dialami sebagian anak lain penderita polio. “It recharged her and made her feel better,” ujar McVey, menggambarkan bahwa iron lung bagi Martha bukan sekadar beban medis, melainkan sesuatu yang memberinya energi untuk menjalani hari-harinya.
Ketika Martha didiagnosis pada pertengahan 1950-an, perhatian keluarga tersedot oleh penyakit yang saat itu dianggap tidak dapat disembuhkan. Bahkan Martha sendiri, saat berusia lima tahun, sudah memahami dan khawatir: “Martha woke up and she couldn’t lift her head off the pillow, she said she knew right away that she had polio, because she heard so much about it,” kata McVey.
Mandiri: bisa masuk-keluar dan belajar mengemudi
Fokus pemulihan datang setelah perawatan di rumah sakit. Martha menjalani physical therapy, occupational therapy, dan water therapy, dengan tujuan mempertahankan kekuatan yang ia miliki—hingga akhirnya ia dapat memakai sebagian fungsi pada lengan kirinya serta menggunakan kakinya.
Keluarga menegaskan bahwa tekad Martha tidak berhenti pada aspek rehabilitasi fisik. Mereka juga bekerja agar Martha bisa menjalani hidup selayaknya orang lain, termasuk merancang kebutuhan agar ia tetap dapat berada di luar iron lung sesuai kemampuannya.
Berita Terkait
McVey menyebut bahwa paman dan kakek Martha membuat suatu contraption yang dapat membuka iron lung, memungkinkan Martha hidup sendirian serta bisa masuk dan keluar dari perangkat tersebut. “She could do things most iron lung patients couldn’t do,” tambah McVey.
Upaya serupa dilakukan agar Martha tetap bisa berkendara. Sebuah kendaraan dimodifikasi sehingga roda dapat ditempatkan pada posisi yang duduk di pangkuannya dan bisa dijangkau olehnya. McVey juga menjelaskan bahwa turn signals dipasang di lantai agar aksesnya mudah untuk Martha yang memiliki keterbatasan mobilitas lengan.
Martha dikenal sebagai pribadi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga intelektual. McVey menggambarkan hamparan lanskap yang ia lukis secara detail, sekaligus kebiasaannya mengajukan banyak pertanyaan kepada perangkat Alexa.
Suasana hari-hari dan kehidupan bersama
Martha menghabiskan waktu berbincang dengan pasangan yang telah lebih dari 20 tahun mendampinginya. McVey mengatakan bahwa Baha Salh pindah ke Amerika Serikat dari Mesir tahun ini setelah memperoleh visa, dan menikahi Martha pada bulan Februari.
Bagi keluarga, gambaran Martha selama puluhan tahun dalam iron lung bukan hanya soal bertahan hidup, melainkan tentang cara ia tetap memiliki pilihan. McVey menekankan bahwa Martha berupaya mencari jalan—atau setidaknya membuat penyesuaian—agar tetap bisa mengisi hari dengan aktivitas yang ia sukai.
Polio, vaksin, dan kekhawatiran soal vaksin opsional
Polio terutama menyerang anak-anak dan menyebabkan banyak gangguan fisik pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, termasuk membunuh serta melukai sejumlah besar anak. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut bahwa “one in 200 polio infections leads to irreversible paralysis”, sementara di antara mereka yang mengalami kelumpuhan, “5-10% die when their breathing muscles become immobilised.”
Vaksin polio mulai tersedia pada tahun 1955. Di Amerika Serikat, polio dinyatakan telah dieliminasi pada 1979, artinya penyakit ini tidak lagi menyebar secara rutin dalam populasi, seiring kampanye vaksinasi yang dilakukan secara nasional.
Namun belakangan, menurut cerita McVey, keraguan terhadap vaksin makin meningkat. Ia menyinggung pernyataan dari pemerintahan Trump yang mengarah pada gagasan agar lebih banyak vaksin menjadi “optional.” Kirk Milhoan, ketua Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) di Centers for Disease Control and Prevention, sebelumnya menyampaikan bahwa vaksin polio sebaiknya bisa bersifat opsional.
McVey menanggapi dengan cemas. Ia berkata melalui air mata, “Polio is terrible”. Ia menambahkan, “The disease disfigures, disables and leaves people trapped. We had it under control here and now we have all these people who aren’t vaccinating their children.”
Menurut McVey, sebagian orang mungkin sudah tidak lagi menyimpan ingatan yang cukup dekat tentang seberapa serius polio. Ia berkata, “They may think there’s problems with the vaccine, but there’s a whole lot more problems if they don’t vaccinate.”
Martha sendiri, kata McVey, terkena polio setahun sebelum vaksin tersedia. “I had a friend who got to test that vaccine the year Martha got polio,” ujar McVey, lalu menutup dengan kalimat, “It was that close.”












