Bisnis & Ekonomi

Survei BI: Penjualan Ritel Melemah, Manado dan Jakarta Tetap Tumbuh

×

Survei BI: Penjualan Ritel Melemah, Manado dan Jakarta Tetap Tumbuh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Survei BI: Penjualan Ritel Lesu, Manado dan Jakarta Masih Tumbuh

jurnalistik.co.id – Pelemahan konsumsi rumah tangga tidak lagi bergerak seragam di seluruh Indonesia. Di balik perlambatan penjualan ritel secara nasional, gambaran di tingkat daerah justru menunjukkan ritme yang berbeda-beda.

Pada Kamis (9/7/2026), Bank Indonesia mempublikasikan Survei Penjualan Eceran (SPE). Survei tersebut mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Mei 2026 sebesar 223,4, atau terkontraksi 3,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Angka pada Mei 2026 relatif stabil dibandingkan kontraksi 3,7 persen pada April 2026. Meski demikian, stabilitas tersebut tidak otomatis berarti pemulihan konsumsi terjadi merata.

Ritel masih tertekan secara nasional, namun pemulihan tak merata

Jika dilihat lebih rinci, terdapat kota yang masih mencatat pertumbuhan penjualan. Pada saat yang sama, sejumlah wilayah lain mulai memperlihatkan perlambatan yang lebih dalam.

Bank sentral menekankan bahwa perbedaan ini memperlihatkan dinamika konsumsi masyarakat semakin dipengaruhi karakteristik ekonomi masing-masing wilayah. Dengan kata lain, tekanan terhadap belanja tidak selalu sama kekuatannya di setiap daerah.

Jakarta bertahan kuat, Bandung mulai melemah

Untuk gambaran spasial pada periode yang dibahas, Jakarta masih menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan penjualan ritel yang kuat. IPR Jakarta tumbuh 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Medan juga masih mencatat pertumbuhan, sebesar 2,1 persen secara tahunan. Sebaliknya, Bandung hanya tumbuh tipis, yakni 0,1 persen secara tahunan.

Rentang hasil antar-kota tersebut menandakan bahwa tekanan terhadap konsumsi belum sepenuhnya merata. Sebagian wilayah tetap mampu mempertahankan aktivitas belanja masyarakat, sementara wilayah lain memasuki fase perlambatan.

Proyeksi Juni: Manado dan Jakarta masih tumbuh, Bandung berkontraksi terdalam

Perbedaan ritme semakin terlihat ketika Bank Indonesia menyampaikan prakiraan penjualan pada Juni 2026. Pertumbuhan tahunan diperkirakan terjadi terutama di Manado, mencapai 15,1 persen.

Setelah Manado, proyeksi pertumbuhan juga datang dari Semarang (termasuk Purwokerto) sebesar 10,7 persen. Jakarta diperkirakan tumbuh 8,9 persen pada Juni 2026.

Di sisi lain, Bandung diperkirakan mengalami kontraksi terdalam, yakni 16,5 persen secara tahunan. Surabaya juga berada pada zona negatif, dengan kontraksi sebesar 1,7 persen.

Sejumlah kota lain menunjukkan pola yang lebih bervariasi. Makassar diperkirakan hanya tumbuh 0,03 persen, sementara Banjarmasin sebesar 0,4 persen dan Denpasar 4,8 persen.

Medan sendiri diproyeksikan tumbuh 5,5 persen pada Juni 2026. Secara keseluruhan, peta prakiraan ini memperlihatkan bahwa perlambatan konsumsi nasional tersusun dari kondisi daerah yang sangat beragam.

Ada wilayah yang masih menikmati pertumbuhan dua digit. Namun, terdapat pula kota yang diperkirakan mengalami kontraksi cukup dalam, sesuai arah pergerakan masing-masing wilayah.

Pergerakan bulanan membaik di tengah kontraksi tahunan

Meski secara tahunan masih terkontraksi, perkembangan bulanan menunjukkan sinyal yang lebih positif. Pada Mei 2026, penjualan eceran turun 1,5 persen dibandingkan April 2026.

Penurunan tersebut dinilai lebih baik ketimbang bulan sebelumnya yang mencapai 11,6 persen. Perbaikan ini disebut dipengaruhi oleh permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Idul Adha, dan Waisak.

Dengan demikian, hasil survei menampilkan dua lapisan pergerakan: kontraksi tahunan yang masih terasa, tetapi penurunan bulanan yang membaik. Dalam kondisi seperti itu, Bank Indonesia melihat bahwa perubahan di tingkat daerah ikut membentuk arah konsumsi secara keseluruhan.

Dalam konteks itulah kinerja ritel menjadi lebih sulit dibaca dari satu angka nasional saja. Indeks Penjualan Riil Mei 2026 yang masih terkontraksi menandakan permintaan belum sepenuhnya pulih, sementara data wilayah menunjukkan ada kota yang relatif bertahan dan ada pula yang justru makin melambat.

Secara ringkas, penjualan ritel bergerak dipengaruhi gabungan faktor tahunan dan dinamika jangka pendek. Perbaikan pada pergerakan bulanan—yang menyempit dari pelemahan April menjadi penurunan Mei—memberi gambaran bahwa momen HBKN mampu menopang penjualan, tetapi tidak cukup untuk menghapus tekanan tahunan yang tetap terjadi pada berbagai daerah.