jurnalistik.co.id – Program Resiliensi untuk Industri Masa Depan (PRIMA) 2026 yang dijalankan KEK Industropolis Batang memperluas cakupan peserta hingga 756 siswa dan taruna. Langkah ini dipaparkan sebagai bagian dari upaya memperkuat keterhubungan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri di kawasan tersebut.
Program PRIMA ditutup pada Jumat (3/7/2026). Perluasan jumlah peserta juga disebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan dunia pendidikan dan pelaku industri terhadap skema yang diterapkan oleh KEK Industropolis Batang.
Dalam fase awal pelaksanaan, PRIMA 2026 melibatkan lima Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan total 130 siswa. Pada tahun berjalan, cakupannya ditingkatkan menjadi delapan SMK dengan 160 peserta inti.
Selain perluasan melalui SMK yang menjadi bagian skema utama, terdapat pula pengajuan partisipasi secara mandiri. SMK Negeri 1 Batang terpantau ikut serta dengan 360 peserta, sedangkan Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal melibatkan 106 peserta.
Dengan tambahan tersebut, total cakupan PRIMA mencapai 756 siswa dan taruna. Angka ini sekaligus menegaskan bahwa program tidak berhenti pada tahap perintisan, tetapi berkembang menjadi lebih luas dalam menjangkau institusi pendidikan vokasi di sekitar kawasan.
Penguatan kesiapan tenaga kerja lokal
KEK Industropolis Batang menyiapkan PRIMA sebagai upaya membangun kesiapan tenaga kerja lokal sebelum para peserta memasuki dunia industri. Program ini juga diposisikan untuk mendukung iklim investasi di kawasan ekonomi khusus tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, menyampaikan bahwa lompatan kuantitas yang terjadi pada 2026 dibarengi dengan keterlibatan kualitas yang lebih dalam. Ia menilai perluasan peserta menjadi cerminan komitmen program terhadap hubungan yang nyata antara sekolah dan industri.
Indri menyatakan, “Sesuai komitmen kami bahwa membangun manusia adalah warisan utama, lompatan kuantitas ini kami barengi dengan keterlibatan kualitas yang mendalam. Guru-guru SMK kini tidak lagi sekadar mendampingi dari pinggir lapangan. Mereka terlibat langsung sebagai bagian dari kepanitiaan, berinteraksi dan menyerap kebutuhan nyata dari para HR tenant global kami. Kami percaya, guru yang memahami kebutuhan industri secara presisi akan melahirkan lulusan yang jauh lebih siap kerja,” ujar Indri dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).
Menurut Indri, keterlibatan guru dalam pelaksanaan program menjadi salah satu penguatan metode pembelajaran. Peran yang tidak hanya bersifat pendampingan, tetapi juga terlibat dalam struktur kegiatan, membuat proses pembelajaran diklaim lebih relevan dengan kebutuhan nyata di industri.
Berita Terkait
Ia menambahkan bahwa guru berinteraksi langsung dengan praktisi sumber daya manusia (human resources/HR) dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan industri. Interaksi semacam ini disebut membantu peserta memahami konteks kerja dan kebutuhan kompetensi yang dicari industri.
Kolaborasi pendidikan dan industri
KEK Industropolis Batang menyebut PRIMA dirancang untuk mengintegrasikan kurikulum pendidikan vokasi dengan ekosistem industri modern. Program ini menjadi bagian dari visi kawasan untuk membangun sumber daya manusia yang siap mendukung pertumbuhan investasi.
Dalam pelaksanaannya, PRIMA melibatkan mitra industri sebagai ruang kolaborasi. Di antaranya adalah PT KCC Glass Indonesia dan PT Wavin Manufacturing Indonesia, yang terlibat dalam proses pembelajaran bersama peserta.
Peserta juga mendapatkan kesempatan mengikuti kunjungan langsung ke lini produksi perusahaan. Kegiatan ini dipakai sebagai bagian dari pengenalan terhadap proses industri, sehingga peserta dapat menautkan materi pembelajaran dengan praktik kerja yang ditemui di lapangan.
Selain praktisi industri, program turut melibatkan psikolog dari Universitas Diponegoro. Pendampingan berbasis psikologi tersebut disebut sebagai komponen untuk mendukung proses pembelajaran dan pembentukan kesiapan peserta.
Program ini juga melibatkan pelatih kedisiplinan dari TNI dalam rangkaian pembelajaran. Dengan adanya unsur tersebut, KEK Industropolis Batang menekankan bahwa PRIMA tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga pada pembentukan sikap dan kedisiplinan.
Sistem tenaga kerja terampil yang berkelanjutan
KEK Industropolis Batang menyampaikan bahwa pelaksanaan PRIMA secara berkala menjadi bagian dari upaya membangun sistem penyediaan tenaga kerja terampil yang berkelanjutan. Program dipandang sebagai langkah untuk menjaga kesinambungan pasokan SDM yang siap memasuki lingkungan industri.
Kawasan tersebut menilai keberadaan PRIMA memberikan kepastian mengenai ketersediaan sumber daya manusia bagi para investor yang akan berinvestasi di Batang. Dengan demikian, program tidak hanya menjadi agenda pendidikan, tetapi juga menjadi jembatan yang memudahkan industri dalam memperoleh tenaga yang sesuai dengan kebutuhan.
Perluasan jumlah peserta hingga 756 siswa dan taruna pada PRIMA 2026 menjadi indikator bahwa kolaborasi pendidikan–industri yang dibangun KEK Industropolis Batang terus menemukan bentuknya. Dalam pelaksanaannya, keterlibatan guru, interaksi HR, kunjungan lini produksi, serta dukungan psikolog dan pelatih kedisiplinan dipaparkan sebagai faktor yang menjaga program tetap berjalan dalam kerangka keterhubungan yang lebih kuat.












