jurnalistik.co.id – TAIPEI — Angkatan udara Taiwan menangguhkan seluruh penerbangan latihan pesawat T-34 setelah satu unit jatuh pada Selasa (2/6/2026) dan menewaskan dua pilot di dalamnya. Kecelakaan itu terjadi saat pesawat sedang menjalani latihan simulasi kegagalan mesin, lalu menghantam area di ujung utara landasan pacu Pangkalan Udara Gangshan, Kaohsiung.
Menurut laporan AFP yang dikutip pada Selasa, pesawat baling-baling bermesin tunggal itu jatuh pada pukul 08.08 pagi waktu setempat. Insiden terjadi sekitar 20 menit setelah lepas landas, sehingga militer Taiwan kini menahan seluruh penerbangan latihan sejenis sambil menunggu hasil penyelidikan.
Untuk memastikan penyebab jatuhnya pesawat secara utuh, militer Taiwan telah membentuk satuan tugas investigasi khusus. Langkah ini diambil karena kecelakaan tersebut terjadi di tengah sesi latihan yang semestinya berlangsung terkontrol dan tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan sebelum pesawat jatuh.
Tak ada tanda gangguan sebelum kecelakaan
Inspektur Jenderal Angkatan Udara Taiwan, Mayor Jenderal Chiang Yi-cheng, mengatakan kedua pilot yang tewas merupakan perwira senior berpangkat letnan kolonel. Ia menegaskan, sejauh yang tercatat, tidak ada laporan kejanggalan teknis dari awak sebelum kecelakaan itu terjadi.
Menurut Chiang, tidak ada komunikasi radio yang menunjukkan kondisi abnormal selama penerbangan berlangsung. “Sepanjang penerbangan tidak ada komunikasi radio yang tidak normal sebelum kecelakaan terjadi,” kata Chiang dalam konferensi pers.
Pernyataan itu membuat dugaan awal mengenai faktor penyebab kecelakaan masih terbuka. Namun, untuk saat ini, otoritas militer Taiwan memilih berhati-hati dan menghentikan sementara penerbangan latihan pesawat T-34 sampai investigasi selesai dilakukan.
Duka dari istana kepresidenan
Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga para korban. Ia menilai keduanya telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalankan tugas, sekaligus memberikan pengabdian besar bagi pertahanan wilayah udara Taiwan.
Dalam respons resminya, Lai juga menyematkan gelar pahlawan kepada kedua penerbang tersebut. Penghormatan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, pengorbanan, dan tugas mereka dalam menjaga kedaulatan udara Taiwan.
Kecelakaan ini menambah sorotan terhadap keselamatan latihan militer Taiwan yang dalam beberapa bulan terakhir memang mendapat perhatian lebih. Pemerintah dan militer kini dituntut untuk mengurai apakah insiden tersebut murni disebabkan faktor teknis, prosedur latihan, atau ada penyebab lain yang belum terungkap.
Pesawat latih utama sejak 1984
Menurut situs Kementerian Pertahanan Taiwan, pesawat baling-baling bermesin tunggal Beechcraft digunakan sebagai pesawat latih utama bagi para pilot Taiwan. Pesawat-pesawat itu pertama kali dikirim ke Taiwan pada tahun 1984 dan telah menjadi bagian penting dalam pelatihan penerbang militer selama puluhan tahun.
Insiden ini juga mengingatkan publik pada kecelakaan lain yang dialami angkatan udara Taiwan pada Januari lalu. Saat itu, sebuah jet tempur F-16 jatuh ke laut di lepas pantai timur Taiwan ketika menjalani misi latihan rutin. Pilot diyakini sempat melontarkan diri dari pesawat, tetapi hingga kini belum ditemukan.
Rangkaian kejadian tersebut memperkuat perhatian terhadap keamanan penerbangan militer Taiwan, terutama dalam misi latihan rutin yang menuntut konsentrasi tinggi dan kesiapan teknis penuh. Dengan investigasi yang masih berjalan, militer Taiwan kini berada dalam tekanan untuk segera menemukan penyebab pasti jatuhnya pesawat T-34 itu, sekaligus memastikan keselamatan latihan ke depan tetap terjaga.
Hingga hasil penyelidikan diumumkan, penghentian sementara latihan T-34 menjadi langkah kehati-hatian yang dipilih militer Taiwan untuk mencegah risiko serupa. Keputusan itu juga menunjukkan bahwa fokus utama saat ini bukan sekadar melanjutkan jadwal penerbangan, melainkan memastikan setiap aspek latihan benar-benar aman sebelum kembali dijalankan.
Di tengah duka atas jatuhnya korban jiwa, perhatian publik kini tertuju pada temuan tim investigasi yang dibentuk khusus. Hasil kerja satuan tugas tersebut akan menjadi dasar penting bagi militer Taiwan untuk menilai apakah ada perbaikan prosedur, pengecekan teknis tambahan, atau penyesuaian lain yang perlu dilakukan pada latihan berikutnya.







