jurnalistik.co.id – Bangaki pesawat kargo Boeing 737 milik maskapai K2 Airways yang jatuh di Laut Arab lepas pantai Pakistan akhirnya ditemukan setelah operasi pencarian dan penyelamatan berlangsung sekitar 12 jam. Meski bangkai telah ditemukan, penyebab pasti insiden dengan registrasi AP-BOI masih belum dapat dipastikan.
Pada fase berikutnya, penyelidik masih melakukan evakuasi dan analisis perangkat perekam penerbangan atau black box. Data yang tersimpan di perangkat tersebut, termasuk rekaman percakapan di kokpit, dipandang menjadi bagian penting untuk menentukan rangkaian peristiwa sebelum pesawat menghilang dari radar.
Sejumlah pakar penerbangan menekankan bahwa kesimpulan terlalu dini tanpa bukti fisik dari lokasi kejadian dan hasil pembacaan black box. Karena itu, fokus investigasi saat ini berada pada beberapa kemungkinan penyebab yang muncul dari data pelacakan penerbangan, foto bangkai, serta informasi yang diperoleh dari otoritas setempat.
Mark Stephens, analis keselamatan penerbangan yang pernah menerbangkan Boeing 737 untuk Delta Air Lines, menyebut sejumlah dugaan yang masih dibahas. Menurutnya, kemungkinan penyebab meliputi gangguan pada sistem kendali penerbangan, kesalahan penataan muatan atau cargo misload, serta masalah pada mesin. Ia juga menyebut kemungkinan kesalahan manusia, baik saat pesawat berada di udara maupun ketika pesawat berada di darat.
Dalam daftar kemungkinan tersebut, dugaan sabotase juga tidak langsung dikesampingkan. Namun, Stephens tetap menempatkan seluruh skenario sebagai hipotesis yang akan diuji lebih lanjut melalui proses penyelidikan resmi dan pemeriksaan teknis.
Insiden ini terkait penerbangan kargo dengan nomor KTA1732 yang terbang dari Sharjah, Uni Emirat Arab, menuju Karachi, Pakistan. Sekitar pertengahan perjalanan, ketika pesawat berada pada ketinggian sekitar 35.000 kaki, awak pesawat dilaporkan melaporkan kepada pengatur lalu lintas udara bahwa sistem navigasi mengalami gangguan.
Setelah laporan tersebut, pesawat kemudian mengalami perubahan ketinggian yang tidak normal selama sekitar tiga menit. Menjelang akhir rangkaian tersebut, pesawat menghilang dari radar, sehingga penyelidik kini menelaah pola manuver dan perubahan ketinggian yang terjadi sebelum insiden.
Berita Terkait
Data dari Flightradar24 menunjukkan bahwa pesawat sempat turun terlebih dahulu, lalu kembali naik, sebelum akhirnya menukik dengan kecepatan sekitar 22.400 kaki per menit. Laju penurunan itu disebut jauh lebih tinggi dibandingkan profil penerbangan normal saat jelajah atau cruise, sehingga menjadi salah satu aspek yang dinilai penting dalam pemeriksaan investigasi.
Pakar keselamatan penerbangan juga menyoroti bahwa pola perubahan ketinggian tersebut akan menjadi bagian yang akan diteliti penyidik untuk memahami apakah ada indikasi gangguan sistem atau faktor lain. Pada tahap ini, seluruh kemungkinan masih terbuka hingga bukti fisik di bangkai pesawat dan black box berhasil dianalisis secara menyeluruh.
Insiden ini juga ditegaskan tidak berkaitan dengan persoalan yang pernah menimpa Boeing 737 Max. Pesawat yang jatuh merupakan Boeing 737 seri 400, yaitu generasi lama yang mulai beroperasi pada 1999 sebagai pesawat penumpang sebelum dikonversi menjadi pesawat kargo pada 2011.
Selain itu, pesawat yang mengalami insiden bukan varian 737 Max yang sempat mengalami dua kecelakaan fatal pada 2018 dan 2019. Dua kecelakaan tersebut dikaitkan dengan masalah sistem MCAS, sehingga karakter masalah teknis pada pesawat yang jatuh dalam kasus ini tidak disamakan begitu saja.
Informasi di situs resmi K2 Airways menyebut Boeing 737 tersebut mulai dioperasikan pada 2024 melalui skema sewa, dan merupakan satu-satunya pesawat dalam armada maskapai tersebut. Dengan demikian, investigasi juga akan melihat konteks operasional maskapai, termasuk kondisi pesawat dan rekam jejak layanan sebelum insiden terjadi.
Temuan ini kembali menyoroti catatan keselamatan penerbangan Pakistan yang dalam dua dekade terakhir mengalami sejumlah kecelakaan pesawat besar. Hingga saat ini, otoritas Pakistan masih melanjutkan proses investigasi untuk memastikan penyebab jatuhnya pesawat tersebut secara akurat berdasarkan data yang diperoleh dari lokasi kejadian dan perangkat perekam.
Dengan bangkai yang sudah ditemukan dan rencana analisis black box yang sedang berjalan, langkah berikutnya menjadi penentuan rangkaian kejadian yang mendahului hilangnya pesawat dari radar. Sementara itu, berbagai dugaan yang meliputi aspek teknis, kesalahan operasional, hingga kemungkinan lain tetap berada dalam jalur pemeriksaan, sampai bukti yang relevan dapat mengerucutkan satu jawaban yang paling dapat dipertanggungjawabkan.












