jurnalistik.co.id – Laporan terbaru yang dirilis Binance merinci cara kerja kelompok peretas di balik pencurian bernilai sekitar US$6,3 miliar. Menurut perusahaan, insiden itu tidak terjadi secara spontan, melainkan melalui rangkaian tahapan yang telah disiapkan.
Dalam pembaruan yang terbit pada hari Selasa, Binance menyebut para pelaku menggunakan teknik rekayasa sosial atau social engineering sebagai bagian dari strategi mereka. Dalam laporan yang disebut paling rinci hingga saat ini, Binance juga menguraikan penggunaan wawancara kerja palsu serta perangkat lunak berbahaya.
Bursa kripto tersebut menuduh Korea Utara sebagai dalang peretasan. Binance juga menggambarkan pelanggaran keamanan yang mereka hadapi sebagai “kampanye canggih multi-stage,” yang melibatkan lebih dari satu metode secara berkelanjutan.
Rekayasa sosial lewat perekrutan palsu
Salah satu titik awal yang disebut dalam laporan adalah pendekatan terhadap insinyur Binance melalui platform pencarian kerja. Dalam skenario yang diuraikan, pelaku menyamar sebagai direktur proyek ketika menghubungi calon kandidat.
Setelah terjalin percakapan, karyawan tersebut kemudian menjalani proses wawancara yang berlanjut. Pelaku digambarkan mengklaim dirinya sebagai direktur eksekutif dari perusahaan fiktif melalui aplikasi chat, lalu melanjutkan permintaan berikutnya kepada target.
Pada tahap tersebut, karyawan diminta untuk mengunduh dokumen yang berisi “repositori kode berbahaya.” Langkah unduhan itulah yang menurut laporan menjadi pemicu serangkaian aktivitas yang tidak sah.
Berita Terkait
Binance menegaskan bahwa apa yang terjadi bukanlah insiden tunggal yang berdiri sendiri. Co-CEO Binance, Richard Teng, menyatakan, “Ini bukanlah satu kesalahan atau satu insiden pelanggaran saja. Ini adalah langkah yang dirancang selama berbulan-bulan,” yang menggambarkan pola persiapan yang panjang.
Selain rekayasa sosial berupa perekrutan palsu, laporan juga menyebut serangan disusun dengan lapisan teknik lain. Para penyerang disebut “menggabungkan wawancara rekrutmen palsu, perangkat lunak berbahaya yang menyamar sebagai alat pengembang yang sah, perangkat yang disusupi, dan teknik kecerdasan buatan (AI).”
Rincian ini menempatkan setiap komponen serangan sebagai bagian dari satu rangkaian yang saling melengkapi. Dengan demikian, pendekatan sosial melalui komunikasi dan permintaan dokumen berjalan berdampingan dengan upaya penyamaran perangkat lunak serta adanya perangkat yang sudah menjadi target penyusupan.
Secara keseluruhan, laporan yang sama menggambarkan bahwa aksi peretas dibangun dalam tahapan berlapis dan berlangsung dalam waktu yang tidak singkat. Binance menuturkan bahwa kampanye multi-stage tersebut memakai kombinasi wawancara rekrutmen palsu, repositori kode berbahaya, perangkat lunak yang menyamar sebagai alat pengembang, perangkat yang disusupi, serta penerapan teknik AI.
Dalam penjelasan yang disampaikan, Binance menempatkan tahapan awal sebagai upaya membangun kepercayaan sebelum masuk ke langkah yang lebih berisiko. Setelah komunikasi dibentuk lewat situasi perekrutan, pelaku kemudian mengarahkan target pada rangkaian tindakan berikutnya melalui jalur yang terlihat wajar bagi penerima, sehingga pengawasan internal tidak langsung terpicu.
Pada bagian berikutnya, laporan tersebut menyoroti penyamaran pada perangkat lunak dan aset digital yang dibagikan kepada korban. Dokumen maupun materi yang diminta disebut terkait “repositori” yang memuat kode berbahaya, sementara elemen lain digambarkan sebagai aplikasi yang tampak seperti alat pengembang yang valid. Di lapisan yang lebih lanjut, disebut pula adanya perangkat yang telah lebih dulu disusupi, lalu teknik kecerdasan buatan (AI) dipakai sebagai bagian dari strategi agar proses serangan tetap berjalan terarah.
Gabungan multi-stage itu membuat tindakan peretas dipandang sebagai kampanye yang dirancang secara berkesinambungan, bukan kejadian sesaat. Binance juga menegaskan bahwa narasi yang mereka sampaikan menempatkan berbagai metode—mulai dari pendekatan sosial melalui wawancara kerja palsu hingga penyamaran kode dan penggunaan AI—sebagai satu rangkaian yang saling menguatkan, sehingga upaya pencegahan perlu melihat pola menyeluruh, termasuk aspek proses rekrutmen dan keamanan perangkat.












