jurnalistik.co.id – Pakistan menanggapi kekalahan beruntun dari Inggris dengan membuat perubahan besar menjelang pertandingan Tes ketiga dan terakhir di Edgbaston. Langkah itu mencakup pemangkasan tujuh pemain serta pelepasan pelatih kepala Sarfaraz Ahmed.
Dalam dua Tes pertama yang berlangsung timpang, pasukan tamu mengalami dua kekalahan yang membuat posisi mereka di seri semakin sulit. Sejak momen tersebut, Pakistan melakukan perombakan skuad dan staf pendukung untuk laga penutup di Birmingham.
Secara keseluruhan, Pakistan menjatuhkan tujuh pemain dari rombongan yang dibawa pada seri ini dan memanggil tujuh nama baru. Lima di antaranya merupakan pemain yang belum pernah mencicipi debut Test, sementara dua lainnya berstatus pemain yang sudah memiliki pengalaman bermain di format tersebut.
Enam pemain yang dilepas termasuk Muhammad Rizwan, Imam-ul-Haq, Salman Ali Agha, Ali Usman, dan Khurram Shahzad. Dua nama lainnya, Aamir Jamal dan Muhammad Awais Jafar, juga dikirim pulang tanpa sempat tampil.
Menurut rencana yang diumumkan, Pakistan memulai rangkaian perubahan itu untuk memberi tempat kepada pemain-pemain baru. Batters Saim Ayub dan Abdullah Fazal menjadi bagian dari tambahan skuad, dengan pengalaman Test yang sebelumnya sudah pernah mereka miliki.
Selain dua batters tersebut, skuad Pakistan juga diisi oleh Arafat Minhas sebagai spin-bowling all-rounder, Mohammed Imran Jr sebagai fast bowler kidal, serta Said Baig yang mengisi posisi wicketkeeper. Dua all-rounder lain, yakni Mohammad Imran dan Razaullah, turut menerima panggilan untuk Tes ketiga.
Perubahan tidak berhenti pada pemain. Pakistan sekaligus melepas pelatih kepala Sarfaraz Ahmed dan asisten pelatih Umar Gul, yang kemudian digantikan oleh Mike Hesson. Hesson merupakan pelatih khusus tim white-ball, sedangkan Ashley Noffke didatangkan dari pengalaman sebagai mantan pemain seamer Australia.
Pelaksanaan Tes ketiga dimulai pada 9 September. Ini menjadi momen penting bagi Pakistan yang, pada catatan pertandingan sebelumnya, belum pernah meraih kemenangan dalam seri Tes di Inggris selama 30 tahun.
Perombakan setelah dua kekalahan tandang
Di seri ini, Pakistan tidak tampil sesuai harapan pada dua kesempatan awal. Pada Tes pertama di Headingley, mereka kalah dengan selisih besar hingga berakhir āoleh inningā, sementara pada Tes kedua di Lordās mereka menyerah dengan margin 194 run.
Berita Terkait
Dalam total empat kesempatan inning yang mereka jalani, Pakistan selalu tersingkir dengan catatan di bawah 200. Hasil itu memperkuat alasan mengapa perombakan dilakukan secara menyeluruh ketika seri memasuki tahap akhir.
Untuk tim turis yang sedang menjalani satu seri, mengirim pulang tujuh pemain dan melepas pelatih kepala di tengah jalannya rangkaian dianggap langkah yang jarang terjadi. Pakistan juga dikenal memiliki riwayat membuat keputusan yang tidak biasa ketika menghadapi kekalahan.
Salah satu contoh datang dari tur Inggris sebelumnya ke Pakistan pada 2024. Saat tuan rumah menelan kekalahan Tes pertama yang membuat Inggris mencetak total lebih dari 800 run, Pakistan merespons dengan memainkan Tes kedua di pitch yang sama di Multan. Pada periode itu, Pakistan menggunakan pemanas taman dan kipas untuk membantu mengeringkan permukaan agar mendukung perputaran bola.
Dari rangkaian tersebut, Pakistan berhasil memenangkan dua Tes berikutnya sehingga seri berakhir 2-1 untuk mereka. Catatan tersebut kini kembali menjadi latar ketika Pakistan memilih jalur perubahan cepat setelah dua kekalahan.
Sarfaraz dan respons atas kontroversi
Dalam daftar pemain yang dikirim pulang, Salman menjadi salah satu nama yang paling menarik perhatian. Ia sempat memimpin tim pada Tes pertama karena Babar Azam mengalami cedera, sebelum kemudian tidak lagi menjadi pilihan pada Tes kedua.
Nama Imam-ul-Haq juga turut masuk rombongan yang dilepas. Di Lordās, ia menerima kritik karena dinilai tidak berupaya melakukan serangan saat kedua inning berjalan, dengan alasan terkait cedera betis yang dideritanya ketika bertugas di hari pembukaan.
Perombakan pilihan pemain ini muncul setelah tim Pakistan mengelilingi kontroversi pada Tes kedua. Di penghujung hari pertama, ketika makan siang, papan kriket Pakistan sempat mengancam untuk membatalkan sisa pertandingan dan tur karena sebuah wawancara dengan putra Imran Khan yang ditayangkan oleh Sky.
Imran Khanāmantan kapten Pakistan dan mantan perdana menteriāsedang menjalani hukuman penjara selama tiga tahun terkait tuduhan korupsi, sementara ia membantah tuduhan tersebut. Pada akhirnya, Pakistan tetap menyelesaikan pertandingan.
Dalam proses itu, kapten Babar dan pelatih kepala Sarfaraz sama-sama menyatakan tidak mengetahui adanya rencana pemboikotan. Sarfaraz juga disebut menyangkal pengetahuan mengenai ancaman untuk mengakhiri tur yang sebelumnya dilaporkan dalam pemberitaan.
Pakistan juga dijadwalkan bertemu Raja Charles di Clarence House pada pekan ini, menyusul rangkaian kontroversi yang muncul menjelang dan selama Tes di Lordās. Di tengah perubahan personel, jadwal dan persiapan menuju Tes ketiga menjadi fokus utama bagi tim yang kini ingin memperbaiki performa di sisa pertandingan seri.












