jurnalistik.co.id – Seorang ibu, Ayten Bicer, mengalami detik-detik putus asa saat feri yang mereka tumpangi terbalik di perairan Siprus Utara pada Minggu. Dia kehilangan pegangan saat putrinya, Miray (12), terlepas dan tenggelam, sementara enam tewas lainnya juga dilaporkan dalam insiden yang menewaskan delapan orang.
Menurut keterangan keluarga, Miray dan adiknya, Memhet Asaf (6), termasuk dari total 20 orang yang masih hilang setelah kapal tenggelam. Di sisi lain, Ayten dan suaminya, Hayri Bicer, selamat dan kini menunggu kabar dari pelabuhan Kyrenia, sementara tim penyelamat terus melakukan pencarian.
Ayten menceritakan bahwa ia sempat menangkap kaki anaknya, tetapi sepatu putrinya berlumur minyak mesin dari kapal yang terbalik. Ia kemudian tergelincir dan terlepas dari genggaman.
“She was saying, ‘Don’t let go’. And I didn’t let go of my daughter. I swear, I didn’t let her go,” kata Ayten kepada wartawan sambil menangis. Ia menuturkan, kejadian itu berlangsung cepat dan seluruh permukaan tampak licin.
Ayten menambahkan, “Bicer said a suitcase fell on top of her, which forced her daughter from her grip.” Dari ceritanya, ia bisa memegang kaki putri, tetapi “It was slippery everywhere. It was like oil. She slipped out of my hand,” ujarnya. Ia menggambarkan minyak yang mengotori area kejadian membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
Bagi Ayten dan Hayri, perjalanan ini seharusnya menjadi kepulangan setelah liburan di pulau Mediterania. Hayri kemudian menyampaikan bahwa keluarga mereka tidak sempat melakukan tindakan yang cukup untuk menyelamatkan anak-anaknya.
Hayri berkata, “We couldn’t intervene, we lost our children.” Ia menegaskan kehilangan yang dialami keluarga saat insiden terjadi, dengan menyebut, “Two of my three children are gone. We left them. We are leaving them on this island as we go.”
Feri tersebut, yang membawa 259 penumpang dan delapan kru, berlayar dari kota pesisir Kyrenia. Kapal berangkat sekitar pukul 12:30 waktu setempat (09:30 GMT) menuju kota Tasucu di Turki, setelah jadwal sebelumnya tertunda karena badai besar yang melanda pulau tersebut.
Pada Minggu, kondisi laut masih dilaporkan tidak tenang. Sejumlah saksi menyebut feri ber-bagian lambung ganda (double-hulled) sempat terdampak keras sebelum akhirnya menghantam permukaan laut, dan sebagian haluan kapal mengalami kerusakan pada benturan.
Perdana Menteri Turkish Republic of Northern Cyprus (TRNC), Ăśnal Ăśstel, yang hanya diakui oleh Turki, mengatakan kapal terkena dua gelombang sebelum terbalik. Ia menyatakan bahwa saat kapten kapal berupaya pulih dari gelombang pertama, gelombang kedua menghantam dan kapal mulai kemasukan air.
Berita Terkait
Pihak berwenang juga menyebut kapal telah sepenuhnya tenggelam dan kini berada pada kedalaman 514 meter (1.686ft). Di permukaan, masih ada serpihan yang mengapung, termasuk koper roda berwarna hitam dan selembar baja yang diduga terlepas dari feri.
Upaya teknis dilakukan untuk memahami kronologi kejadian. Otoritas berusaha memulihkan perekam data (black box recorder) untuk membantu menentukan apa yang terjadi sebelum kapal tenggelam.
Sementara proses pencarian berlangsung, TRNC juga menyiapkan bantuan tambahan. Tufan Erhurman, Presiden TRNC, mengatakan akan ada kapal yang tiba dari Turki pada Selasa untuk mendukung operasi pencarian.
Di bidang medis, otoritas setempat menyebut 19 penumpang sedang dirawat di rumah sakit di Siprus Utara. Sementara itu, laporan juga menyebut delapan kru termasuk kapten, dan satu pria lain telah ditangkap secara formal pada Senin.
Mereka akan ditahan selama tiga hari, sementara surat perintah penangkapan dikeluarkan untuk beberapa orang lainnya. Langkah ini menunjukkan adanya proses pemeriksaan setelah insiden kapal yang memakan korban jiwa tersebut.
TRNC kemudian memulai masa berkabung nasional selama tiga hari sejak Senin. Pengumuman duka ini menjadi respons atas korban tewas dan keluarga yang masih menunggu kabar mengenai kerabat mereka.
Dari sisi informasi operasional, feri tersebut tercatat sebagai kapal berkecepatan tinggi dengan panjang 40 meter dan lebar 10 meter, sebagaimana disebut Marine Traffic. Kapal berlayar dengan bendera Turki, dan dioperasikan oleh Filo Denizcilik, perusahaan yang mengendalikan kapal penumpang yang mengalami kecelakaan.
Pihak Filo Denizcilik menyatakan mereka “deeply saddened by the tragic accident.” Pernyataan itu muncul di tengah proses pencarian yang belum selesai sepenuhnya, karena masih ada 20 orang yang dilaporkan hilang.
TRNC sendiri mengendalikan sepertiga utara pulau Siprus, sebuah wilayah yang terpisah sejak 1974. Dalam situasi yang melibatkan tragedi di perairan tersebut, keluarga-keluarga yang kehilangan anggota menunggu jawaban, sementara penyelamatan masih bergantung pada pemulihan bukti dan pencarian di lokasi bangkai kapal.
Bagi Ayten dan Hayri Bicer, pencarian itu juga berarti menunggu nama-nama yang mereka sebut dengan rasa takut dan harapan. Saat kru dan otoritas bekerja untuk memeriksa penyebab serta menemukan korban yang hilang, dua anak mereka—Miray dan Memhet Asaf—masih belum kembali.












