jurnalistik.co.id – Samsung Electronics kembali mengerek harga model kelas menengahnya, Galaxy S26 FE. Perusahaan menetapkan banderol US$700 atau setara sekitar Rp12,4 juta untuk varian yang dibidik sebagai alternatif lebih terjangkau dibanding lini premium.
Harga tersebut diumumkan pada Kamis, dan menjadi kenaikan sebesar US$50 dibanding generasi sebelumnya. Bagi konsumen, perubahan ini terjadi di tengah kebiasaan kenaikan harga yang makin sering menyertai situasi kelangkaan chip memori.
Samsung menjelaskan bahwa Galaxy S26 FE akan dibuka melalui mitra operator terpilih mulai 3 September. Sementara itu, penjualan langsung lewat kanal Samsung dan pengecer lain dijadwalkan mulai 4 September.
Di balik penyesuaian biaya, perubahan paling menonjol ada pada dapur pacu. Untuk menekan agar perangkat tetap berada di titik harga yang ditargetkan, Samsung mengganti chip Qualcomm yang digunakan pada Galaxy S26 standar dengan prosesor Exynos produksi internal.
Samsung memilih Exynos sebagai pengganti Qualcomm dengan penempatan yang pada intinya mengarah pada kemampuan lebih rendah dibanding opsi yang dipakai di model “standar”. Konsekuensinya, perangkat disebut mengalami penurunan spesifikasi dibanding pendahulunya maupun lini yang lebih mahal.
Pergantian komponen ini juga berdampak pada bagian lain, terutama kemampuan kamera. Sistem kamera pada Galaxy S26 FE tidak diarahkan untuk menyamai kualitas gambar yang ditawarkan oleh perangkat Samsung yang berada di kelas harga lebih tinggi.
Berita Terkait
Selain chip dan performa kamera, kapasitas memori turut disesuaikan. Galaxy S26 FE hadir dengan RAM 12GB, sementara fitur kecerdasan buatan (AI) yang disematkan disebut lebih terbatas dibanding varian yang menggunakan konfigurasi lebih mahal.
Dengan konfigurasi seperti itu, Samsung tampaknya menata ulang keseimbangan antara harga dan fitur agar tetap menarik bagi pembeli yang sensitif terhadap biaya. Pada saat yang sama, perusahaan tetap mempertahankan posisi FE sebagai lini yang menawarkan sejumlah karakter premium, meski tidak sepenuhnya menyamai model papan atas.
Langkah mengganti Qualcomm ke Exynos juga menjadi sinyal bahwa strategi komponen Samsung tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan, tetapi juga kalkulasi performa relatif terhadap target pasar. Dalam pemberitaan yang sama, perpindahan ini diposisikan sebagai “downgrade”, sesuai penilaian atas penurunan kemampuan dari konfigurasi sebelumnya.
Kendati demikian, Samsung tetap menempatkan Galaxy S26 FE sebagai perangkat yang relevan untuk pengguna yang mencari ponsel dengan harga lebih ramah, tanpa harus sepenuhnya meninggalkan pengalaman fitur modern. Jadwal rilis bertahap—operator lebih dulu pada 3 September, disusul penjualan langsung pada 4 September—memberi ruang bagi konsumen untuk melihat ketersediaan di kanal masing-masing.
Di tengah tren kenaikan harga yang berulang akibat dinamika pasokan komponen, keputusan Samsung untuk menentukan angka US$700 menunjukkan upaya menjaga “batas psikologis” pembeli. Kenaikan US$50 memang terjadi, namun perusahaan berusaha agar langkah itu tidak berujung pada lonjakan yang lebih tajam, sebagaimana disebut dalam konteks pengumuman.
Untuk calon pembeli, perhatian utama kemungkinan akan berpusat pada tiga hal: performa yang dipengaruhi perpindahan chip ke Exynos, kualitas kamera yang tidak disetarakan dengan model lebih mahal, serta batasan pada memori dan fitur AI. Dengan spesifikasi yang lebih sederhana, Galaxy S26 FE akan mengisi segmen yang menuntut nilai guna tinggi, tetapi tetap menoleransi penyesuaian di bagian-bagian tertentu.
Samsung, pada akhirnya, menempatkan Galaxy S26 FE sebagai produk kompromi yang rasional: menawarkan harga yang masih berada di kisaran menengah, namun mengunci sejumlah elemen agar biaya produksi tetap terkendali. Saat perangkat mulai tersedia pada awal September, pasar akan menguji seberapa kuat daya tarik lini FE di tengah perubahan chip dan penyesuaian fitur yang lebih terasa.












