jurnalistik.co.id – Apple kini memasuki babak baru dalam strategi perangkat komputasinya setelah pergantian pucuk pimpinan. Di bawah kepemimpinan CEO baru John Ternus, perusahaan akhirnya merilis MacBook Pro pertama dengan layar sentuh, sebuah langkah yang selama bertahun-tahun tidak masuk dalam rencana mereka.
Perkenalan perangkat tersebut dilakukan Apple dalam sebuah acara di Los Angeles. Dalam peluncuran ini, Apple menghadirkan panel organic light-emitting diode (OLED) pada MacBook Pro, sekaligus mengumumkan kembalinya logo bercahaya di bagian belakang laptop.
Bagi Apple, perubahan ini juga terkait langsung dengan transisi kepemimpinan. Ternus mengambil alih posisi CEO pada awal September setelah lama menjabat sebagai eksekutif perangkat keras di perusahaan tersebut. Setelah peralihan itu, Apple menunjukkan ritme peluncuran produk yang lebih agresif, mulai dari iPhone lipat Duo pada September hingga perangkat pusat kendali rumah pintar di New York pada Oktober.
Dalam keterangan yang dikutip dari Reuters, Ternus menyampaikan, “Begini, kami mencintai Mac, dan itulah alasan mengapa begitu banyak dari kami menemukan jalan ke Apple sejak awal. Dan Mac tidak pernah lebih baik dari sekarang, serta tidak pernah lebih kuat.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa layar sentuh diposisikan sebagai peningkatan pengalaman Mac, bukan sekadar mengikuti tren industri.
Keputusan menampilkan layar sentuh pada MacBook Pro juga mengakhiri sikap Apple yang sebelumnya cenderung menolak pendekatan tersebut. Pada 2010, pendiri Apple Steve Jobs pernah menyebut layar sentuh pada laptop sangat buruk dari sisi ergonomi. Dua tahun setelahnya, Tim Cook menyamakan penggabungan laptop dan layar sentuh dengan menyatukan pemanggang roti dan lemari es.
Sementara itu, di luar ekosistem Apple, laptop berbasis Windows telah menawarkan layar sentuh selama lebih dari satu dekade. Moor Insights & Strategy, lewat analis Anshel Sag, menilai perubahan Apple merupakan sesuatu yang tidak terelakkan. Sag menyatakan, “Saya yakin mereka sejak awal selalu salah karena menolak teknologi layar sentuh, dan sekarang kenyataan mulai memaksa perubahan itu terjadi. Beberapa hal memang tidak bisa dihindari.”
Berita Terkait
Secara produk, Apple menetapkan harga awal untuk MacBook Pro layar sentuh mulai US$ 2.899 untuk varian 14 inci yang ditenagai chip M5 Pro. Untuk model 16 inci dengan chip M5 Max, banderolnya dimulai dari US$ 4.799.
Pemesanan awal dibuka pada 28 Oktober, sedangkan penjualan dijadwalkan mulai 6 November 2026. Dengan rentang harga tersebut, Apple tampaknya mencoba memperluas daya tarik MacBook Pro bagi segmen kreator yang membutuhkan kualitas tampilan tinggi, sekaligus mempertimbangkan kebiasaan pengguna yang sudah terbiasa berinteraksi lewat sentuhan.
Kebutuhan tersebut sejalan dengan penilaian IDC. Kepala Riset Perangkat dan Konsumen IDC, Tom Mainelli, menilai laptop layar sentuh ini menyasar kreator, desainer, dan fotografer yang memerlukan layar berkualitas tinggi serta nyaman menggunakan perangkat berbasis sentuhan. Apple juga dikabarkan mendesain ulang sasis untuk mengalihkan udara panas dari layar, guna membantu menjaga performa panel.
Selain optimasi desain, Apple memanfaatkan chip M5 untuk mengurangi risiko burn-in, yakni bekas gambar permanen yang dapat muncul pada layar OLED. Langkah teknis ini menjadi bagian penting mengingat karakter OLED yang lebih rentan terhadap fenomena tersebut bila perangkat digunakan dalam pola tertentu.
Namun, dari sisi komersial, harga tetap menjadi tantangan. IDC mencatat pengiriman laptop layar sentuh global mencapai 33,4 juta unit pada 2025, naik 22% dibanding tahun sebelumnya. Angka itu setara 16% dari total pengiriman laptop, tetapi harga jual rata-ratanya hanya sekitar US$ 1.009 atau setara Rp17 juta, jauh lebih rendah dibanding MacBook Pro terbaru yang ditawarkan Apple.
Persaingan juga memberi tekanan. Lenovo, HP, dan Dell telah lama menyediakan perangkat dengan rentang harga yang lebih terjangkau, sehingga calon pengguna yang mempertimbangkan biaya akan lebih mudah menemukan alternatif di luar ekosistem Apple. Meski begitu, ekspansi lini produk dan rentang harga yang lebih lebar menunjukkan adanya upaya Ternus untuk menjangkau konsumen yang lebih sensitif terhadap harga tanpa sepenuhnya meninggalkan pelanggan premium.
Dengan layar OLED sentuh, logo belakang yang kembali bercahaya, serta penyesuaian desain untuk manajemen panas, MacBook Pro generasi ini dapat dibaca sebagai upaya Apple merombak strategi yang selama ini dianggap kaku terkait interaksi sentuh. Di sisi lain, sederet angka dari IDC mengisyaratkan bahwa keberhasilan produk layar sentuh Apple tidak hanya soal teknologi, tetapi juga seberapa kuat perusahaan menahan jarak harga dari pasar yang sudah matang.












