jurnalistik.co.id – Ponsel lipat pertama Apple, iPhone Duo, ternyata tidak lolos uji ketahanan yang dilakukan Zack Nelson di kanal YouTube JerryRigEverything. Pengujian itu menyoroti masalah pada area engsel dan dampak tekukan terhadap komponen layar bagian dalam.
Nelson melakukan rangkaian tes untuk melihat seberapa jauh perangkat mampu bertahan saat terkena kondisi ekstrem. Hasilnya memperlihatkan bahwa desain engsel—yang menggunakan titanium—memiliki titik lemah ketika perangkat dipaksa menghadapi paparan kotoran dalam skenario tertentu.
Menurut laporan Gizmochina yang dikutip dari rangkaian pengujian tersebut, sertifikasi IP68 pada iPhone Duo tidak otomatis berarti engselnya bebas gangguan saat perangkat mengalami paparan debu atau kotoran dalam kondisi yang sangat menekan. Dengan kata lain, ketahanan terhadap air dan debu tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan engsel menghadapi material abrasif ketika perangkat dipaksa bekerja berulang.
Pengujiannya diawali dengan perlakuan pada bagian perangkat yang terhubung dengan engsel. Nelson menimbun iPhone Duo menggunakan pasir, tanah, dan kotoran sebelum perangkat dibuka dan ditutup.
Material-material tersebut kemudian masuk melalui sejumlah celah pada engsel titanium. Dari temuan ini, terlihat bahwa celah pada mekanisme lipat tetap memberi ruang bagi partikel untuk terselip, sehingga kerja bagian penutup perangkat tidak berjalan seperti seharusnya dalam kondisi normal.
Pada titik ini, mekanisme magnet yang berperan saat kedua sisi ponsel bertemu juga tidak mampu membawa perangkat ke posisi tertutup sempurna. Akibatnya, iPhone Duo tidak sepenuhnya rapat setelah dibuka-tutup dalam kondisi engsel telah terisi material kotoran.
Temuan tentang engsel menjadi salah satu bagian paling menentukan dalam tes ketahanan. Penguji menekankan bahwa partikel yang tertinggal bisa mengganggu cara penutup bekerja, dan gangguan tersebut tidak hanya bersifat sementara, tetapi memengaruhi kemampuan perangkat kembali ke kondisi awal.
Setelah pengujian terkait paparan kotoran pada engsel, Nelson melanjutkan dengan uji tekuk. Pada skenario ini, perangkat dibengkokkan berlawanan dengan arah lipatan aslinya.
Dalam pengamatan yang dilaporkan, rangka ponsel tetap bertahan pada tahap awal pengujian tekuk. Perangkat tidak langsung patah, sehingga bodi luar masih terlihat mampu menahan gaya yang diberikan dalam kondisi tersebut.
Berita Terkait
Namun, fokus kerusakan justru muncul pada layar fleksibel di bagian dalam. Saat iPhone Duo ditekuk berlawanan arah lipatannya, layar AMOLED fleksibel mengalami kerusakan permanen.
Kerusakan permanen pada layar menjadi sorotan utama karena ini berarti fungsi tampilan tidak sekadar terganggu sesaat. Dampaknya bersifat jangka panjang, yang pada praktiknya mengurangi nilai pakai perangkat lipat ketika terjadi tekukan ekstrem di luar arah normal.
Secara keseluruhan, hasil uji ketahanan iPhone Duo memperlihatkan pola masalah yang saling terkait antara engsel dan struktur internal. Pertama, paparan kotoran ekstrem dapat masuk melalui celah engsel titanium dan mengganggu kerja mekanisme penutup.
Kedua, saat perangkat mengalami tekanan tekuk yang tidak sesuai arah lipatan, komponen layar fleksibel di dalam menerima dampak lebih serius hingga dinyatakan mengalami kerusakan permanen. Ini menunjukkan bahwa ketahanan fisik tidak cukup hanya bergantung pada rangka yang tampak masih utuh.
Nelson juga menampilkan rangkaian pengujian sebagai bentuk verifikasi langsung terhadap ketahanan material dan mekanisme kerja perangkat. Dengan pendekatan seperti ini, aspek yang sering tidak terlihat pada evaluasi standar—misalnya perilaku engsel ketika partikel abrasif menumpuk—menjadi lebih jelas.
Dari sisi interpretasi, laporan yang dirujuk menegaskan bahwa klaim sertifikasi seperti IP68 tidak otomatis menjamin kinerja engsel tetap mulus pada skenario ekstrem yang melibatkan pasir dan kotoran. Dalam pengujian ini, gangguan bukan datang dari air semata, melainkan dari material padat yang dapat terselip pada titik-titik celah.
Proses uji yang dimulai dari penimbunan material sebelum perangkat dibuka dan ditutup memberi gambaran bahwa engsel tidak diuji dalam kondisi “bersih”. Pengujian juga memperlihatkan bahwa mekanisme penutup tidak dapat mengatasi masalah ketika partikel menghambat pergerakan yang semestinya presisi.
Pada tahap tekuk, pilihan sudut dan arah tekukan—yakni berlawanan dengan arah lipatan—menjadi kunci dalam memahami mengapa layar mengalami kerusakan permanen. Meskipun rangka tidak langsung patah, layar internal tetap menerima beban yang akhirnya melampaui batas ketahanan komponennya.
Dengan demikian, pengujian Zack Nelson di JerryRigEverything merangkum dua kelemahan yang paling menonjol: pertama, gangguan pada engsel akibat masuknya pasir, tanah, dan kotoran melalui celah; kedua, kerusakan permanen pada layar AMOLED fleksibel saat perangkat ditekuk berlawanan arah lipatan.
Hasil ini kemudian menjadi bahan diskusi publik mengenai tingkat ketangguhan perangkat lipat dan bagaimana desain engsel serta layar fleksibel merespons kondisi yang lebih keras dari penggunaan sehari-hari. Pada akhirnya, tes ketahanan menempatkan fokus pada area yang menentukan kenyamanan dan keawetan perangkat lipat, yakni mekanisme engsel dan ketahanan layar bagian dalam.












