Internasional

Trump Mengakui Sebut Netanyahu Gila, Ini Respons PM Israel

2
×

Trump Mengakui Sebut Netanyahu Gila, Ini Respons PM Israel

Sebarkan artikel ini
Trump Akui Sebut Netanyahu Gila, Begini Respons PM Israel Global 4 Juni 2026
Ilustrasi: Trump Akui Sebut Netanyahu Gila, Begini Respons PM Israel

jurnalistik.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui bahwa ia sempat menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “gila” dalam sebuah percakapan telepon. Pengakuan itu disampaikan saat Trump membahas laporan pemberitaan yang merujuk pada isi panggilan tersebut.

Trump menyatakan ia tidak bermaksud menunjukkan kemarahan terbuka, namun mengaku terganggu oleh apa yang ia nilai sebagai eskalasi perang Israel di Lebanon. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang terus berlangsung di Timur Tengah dan rencana negosiasi yang sedang ditempuh pihak AS.

Dalam wawancara yang disiarkan pada Rabu (3/6/2026), Trump dikonfirmasi mengenai laporan media Axios. Laporan itu menyebut Trump mengumpat Netanyahu dengan kalimat “sangat gila” sekaligus menuduh sang pemimpin tidak tahu berterima kasih.

“Ya, saya melakukannya,” ujar Trump dalam siniar atau podcast “Pod Force One,” sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut. Ia kemudian menegaskan, “Saya tidak akan bilang (saya) marah. Saya hanya sedikit terganggu dengan peperangannya yang terus-menerus dengan Lebanon, Anda tahu,”

Trump juga mengklaim bahwa hubungan pribadinya dengan Netanyahu saat ini tetap berjalan sangat baik. Ia menyatakan dinamika di antara keduanya tidak lantas mengubah arah hubungan yang selama ini terjalin.

Menurut laporan Axios, panggilan telepon itu terjadi pada Senin (1/6/2026) dan berangkat dari kekesalan Trump karena serangan Israel ke Lebanon. Dalam laporan tersebut, Trump disebut melontarkan kalimat keras kepada Netanyahu.

“Kamu benar-benar gila. Kamu akan berada di penjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena hal ini,” bunyi pernyataan Trump yang disebut dalam laporan Axios.

Di pihak Netanyahu, responsnya memilih tidak membeberkan detail percakapan tersebut ketika dimintai keterangan. Ia menyatakan dinamika itu tidak mengubah hubungan diplomatik maupun hubungan personalnya dengan Trump.

Netanyahu menekankan bahwa keduanya masih memiliki tujuan yang sama. “Kami memiliki tujuan yang sama. Terkadang, seperti dalam keluarga terbaik sekalipun, Anda akan mendapati perselisihan taktis seperti ini,” ujarnya saat wawancara.

Selain itu, Netanyahu tetap memberikan pujian kepada Trump meski terdapat perselisihan taktis yang disebut muncul dalam komunikasi telepon. Ia menggambarkan Trump sebagai sosok yang dihormati dan menyebut mereka selalu mencari cara menyelesaikan perbedaan.

“Dia telah menjadi sahabat terbaik yang pernah dimiliki Israel di Gedung Putih, dan dia menghormati saya; saya menghormatinya. Kami selalu menemukan cara untuk menyelesaikan perbedaan kami,” tutur Netanyahu.

Ketegangan yang mencuat dalam komunikasi AS dan Israel berlangsung di tengah situasi kawasan yang makin memanas. Pada saat yang sama, pihak Iran menyatakan tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan AS untuk mengakhiri perang bila gencatan senjata tidak mencakup wilayah Lebanon.

Pernyataan Trump juga ditempatkan dalam konteks upaya AS menekan eskalasi dengan tetap menjaga jalur diplomasi terkait Iran. Dalam pemberitaan yang sama, disebut bahwa Trump dan Netanyahu sepakat meningkatkan tekanan terhadap Iran, termasuk melalui langkah membatasi ekspor minyak Iran ke China.

Dengan pengakuan Trump soal isi percakapan dan penegasan Netanyahu bahwa hubungan tetap baik, kedua pihak menunjukkan bahwa perbedaan yang muncul tidak otomatis dibaca sebagai keretakan diplomasi. Meski demikian, isu Lebanon dan sikap Iran atas syarat kesepakatan terus menjadi faktor yang menentukan arah negosiasi berikutnya.

Di tengah tarik-menarik kepentingan tersebut, komunikasi telepon pada 1 Juni 2026 menjadi sorotan karena memunculkan ungkapan yang sangat langsung. Namun, baik Trump maupun Netanyahu kemudian menempatkannya sebagai bagian dari dinamika hubungan yang tetap bisa dikelola.