jurnalistik.co.id – Setelah bertahun-tahun menghadapi banjir berlumpur di rumah mereka, warga RT 15 RW 03 Kelurahan Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, memilih menerima pembebasan lahan untuk mendukung normalisasi Kali Ciliwung.
Bagi mereka, keputusan itu bukan sekadar urusan administrasi, melainkan jalan untuk memutus siklus banjir yang dinilai makin sering dan semakin melelahkan.
Kebiasaan membersihkan lumpur makin berat
Salah satu warga, Sari (30), mengatakan keluarganya tidak keberatan direlokasi karena proyek normalisasi dianggap sebagai solusi atas persoalan banjir yang terus berulang.
“Udah capek bersihin lumpur terus. Makanya dinormalisasi kita beruntung banget. Ini benar-benar ganti untung,” kata Sari saat ditemui Kompas.com pada Sabtu (11/7/2026).
Menurut Sari, banjir yang sebelumnya datang setiap lima tahun, kini hampir terjadi setiap tahun.
“Parah banget, sampai atas ini. Sisa tinggal lantai tiga doang. Dulu biasanya lima tahunan. Ini mah enggak sampai lima tahunan, setahun sekali juga langsung sampai atas,” ujarnya.
Ia menggambarkan, ketika air naik pada kondisi banjir besar, rumah bisa tergenang hingga hanya tersisa bagian paling atas yang masih bisa dihuni.
Setelah banjir surut, lumpur yang menumpuk di dalam rumah menjadi pekerjaan rumah yang harus dibereskan berulang kali.
Sari mengatakan keluarganya akhirnya memutuskan menerima pembebasan lahan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ia menyebut proses bergerak lebih cepat setelah pembayaran ganti untung diterima.
“Kita sudah tahu nominalnya berapa, makanya langsung bisa bergerak lebih cepat. Rumah belum dihancurin, kita udah pindah duluan,” ucapnya.
Berdasarkan penuturannya, mereka telah mengosongkan rumah setelah menerima pembayaran ganti untung sebesar Rp 6 juta per meter persegi.
Trase normalisasi mencakup seluruh RT
Ketua RT 15 RW 03 Kelurahan Cawang, Imron, menyatakan bahwa wilayah RT 15 termasuk dalam trase normalisasi Kali Ciliwung.
Ia memperkirakan sekitar 85 kepala keluarga (KK) atau sekitar 240 jiwa terdampak pembebasan lahan.
Berita Terkait
“Jadi memang sesuai dengan peta bidang atau trase, yang menjadi wilayah lahan normalisasi itu memang di lingkungan RT 15. Jadi kemungkinan kalau sudah selesai pembebasan lahan, satu RT itu memang kena semua,” ujar Imron.
Imron menilai proses pembebasan lahan relatif lancar karena mayoritas warga memahami kondisi kawasan yang sejak lama menjadi langganan banjir.
“Kalau warga semua setuju karena pertama memang sekarang durasi banjirnya semakin sering. Buat tinggal juga sudah kurang layak,” katanya.
Ia tinggal di kawasan tersebut sejak 1981 dan menceritakan banjir besar pertama terjadi pada tahun 1996.
Setelah itu, menurutnya, sejak sekitar 2017 intensitas banjir disebut semakin meningkat dibanding periode-periode sebelumnya.
Imron juga menekankan bahwa warga menghadapi dampak yang nyata saat banjir besar terjadi, termasuk kondisi genangan yang bisa merendam rumah hingga beberapa meter.
Untuk rumah yang letaknya paling dekat dengan Kali Ciliwung, ketinggian air saat banjir besar bahkan bisa mencapai tiga hingga empat meter.
Warga lain menunggu tahap berikutnya sambil bersiap
Sementara sebagian keluarga telah berpindah lebih dulu, warga lainnya masih menunggu proses pembebasan lahan pada tahap berikutnya.
Era (40), misalnya, mengaku saat ini belum masuk pada tahap yang menuntaskan perpindahan, tetapi tetap menyiapkan kemungkinan keberangkatan.
“Barang-barang sudah dipacking, tinggal diangkut aja kalau memang sudah keluar harganya,” kata Era.
Ia mengungkapkan bahwa keluarganya sudah sejak lama tinggal di RT 15, bahkan sejak lahir, sehingga keputusan untuk menghadapi rencana relokasi bukan hal yang datang mendadak.
Bagi Era, persiapan sejak sekarang dibutuhkan agar ketika proses berjalan sesuai jadwal, ia dan keluarganya tidak lagi terkendala urusan penataan barang.
Dalam penuturan warga, pembebasan lahan yang mereka terima dipandang sebagai upaya untuk mengubah pola hidup yang selama ini selalu diwarnai kerja membersihkan lumpur setelah air surut.
Dengan normalisasi, mereka berharap banjir berlumpur yang berulang tidak lagi menjadi rutinitas yang harus ditanggung rumah tangga setiap kali musim atau kondisi tertentu datang.
Di tengah perubahan yang sedang berlangsung, penerimaan warga terhadap pembebasan lahan menunjukkan upaya mereka menyesuaikan diri dengan kebutuhan proyek normalisasi Kali Ciliwung, sekaligus mencari pilihan yang dianggap paling masuk akal untuk mengakhiri beban banjir yang semakin sering.







