Peristiwa

Evi Mentari (37), PMI Asal Sukabumi, Meninggal di Arab Saudi karena Tumor Otak—Keluarga Mohon Pemulangan Jenazah

×

Evi Mentari (37), PMI Asal Sukabumi, Meninggal di Arab Saudi karena Tumor Otak—Keluarga Mohon Pemulangan Jenazah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: PMI Sukabumi Meninggal di Arab Saudi karena Tumor Otak, Keluarga Minta Bantuan Pemulangan Jenazah

jurnalistik.co.id – Keluarga pekerja migran asal Sukabumi, Evi Mentari (37), tengah berupaya memulangkan jenazahnya dari Arab Saudi ke Indonesia untuk dimakamkan di kampung halaman.

Evi meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis terkait tumor otak di salah satu rumah sakit di Jeddah.

Kabar duka tersebut disampaikan suaminya, Erwin Susman (43), setelah memperoleh informasi dari rekan-rekan Evi pada Jumat (10/7/2026) malam.

Erwin mengatakan keluarga sempat mencari kepastian melalui perwakilan setempat agar informasi yang diterima tidak menimbulkan keraguan.

“Saya dapat kabar dari teman-temannya bahwa korban meninggal dunia di rumah sakit. Saya cari kabar ke KJRI dan infonya memang benar meninggal,” kata Erwin saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (11/7/2026).

Status jenazah masih di rumah sakit

Menurut Erwin, jenazah Evi hingga saat ini masih berada di rumah sakit di Arab Saudi.

Ia menyebut proses administrasi pemulangan jenazah belum selesai, sehingga kepulangan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.

Erwin menjelaskan Evi sudah sekitar 16 hari dirawat di rumah sakit tersebut.

Selama masa perawatan, Evi disebut telah menjalani beberapa kali operasi terkait tumor otak.

Erwin berharap tahap administrasi dapat segera rampung agar jenazah Evi bisa dibawa kembali ke Indonesia.

“Jenazah masih di rumah sakit, berkasnya masih belum keluar, mungkin besok Minggu. Kepengennya bisa dibawa ke Indonesia,” ujarnya.

Berangkat ke Arab Saudi sejak 2022

Erwin menceritakan, Evi berangkat ke Arab Saudi pada November 2022.

Keberangkatan itu dilakukan setelah Evi mendapat ajakan dari seorang teman yang mendorongnya untuk bekerja di negara tersebut.

Namun, Erwin menegaskan keberangkatan Evi menggunakan visa ziarah, bukan lewat perusahaan penempatan pekerja migran.

Ia mengatakan, ketika dirinya jarang berada di rumah karena bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol), Evi meminta tanda tangan dan menyampaikan niatnya berangkat bekerja.

“Saya kan bekerja sebagai ojol, jarang ada di rumah. Tahu-tahu istri minta tanda tangan dan bilang mau berangkat bekerja. Tapi setahu saya kalau bekerja ke luar negeri itu lewat PT,” tuturnya.

Erwin melanjutkan bahwa Evi menyampaikan rencana saat tiba di Arab Saudi akan ada pihak yang menjemput di bandara.

Informasi itu, menurut Erwin, menjadi bagian dari gambaran yang Evi sampaikan sebelum keberangkatan.

Komunikasi dengan keluarga tetap terjalin

Selama menjalani pekerjaan di Arab Saudi, Erwin menyebut Evi tetap berkomunikasi secara rutin dengan keluarganya.

Interaksi tersebut membantu keluarga mengetahui kondisi yang dialami Evi dari waktu ke waktu.

Dengan adanya kabar meninggal dunia, keluarga kini memusatkan perhatian pada proses pemulangan jenazah agar dapat dipertemukan kembali dengan keluarga di Indonesia.

Erwin menuturkan harapannya bukan hanya agar proses administrasi dapat segera selesai, tetapi juga agar Evi bisa dimakamkan sesuai keinginan keluarga di kampung halaman.

Di tengah upaya itu, ia terus mengikuti informasi perkembangan terkait berkas kepulangan.

Erwin menyampaikan bahwa keluarganya menunggu kepastian agar jenazah Evi dapat diberangkatkan dari Arab Saudi dalam waktu yang secepat mungkin.

“Kepengennya bisa dibawa ke Indonesia,” kata Erwin, menegaskan harapan agar proses yang tertunda dapat segera rampung.

Semoga proses administrasi yang masih berjalan dapat segera selesai, sehingga jenazah Evi dapat dipulangkan dan dimakamkan dengan layak di tengah duka yang menyelimuti keluarga.

Upaya pemulangan jenazah, menurut Erwin, kini menjadi fokus utama keluarga setelah kabar duka itu diterima. Mereka berupaya memastikan setiap tahap berjalan sesuai prosedur agar proses kepulangan tidak kembali tertunda.

Erwin juga mengatakan komunikasi yang selama ini dijalani dengan Evi tetap memberi pegangan bagi keluarga. Setelah mendengar Evi meninggal, kabar yang semula menjadi pembaruan kondisi kini diarahkan untuk memantau kelengkapan berkas kepulangan.

Keluarga berharap, setelah administrasi rampung, jenazah dapat segera diberangkatkan dan dipertemukan kembali dengan sanak keluarga. Harapan tersebut selaras dengan keinginan agar Evi dimakamkan di kampung halaman, sebagaimana yang mereka rencanakan sejak jauh hari.