Peristiwa

Anak Krakatau (GAK) Kembali Erupsi setelah Lama Mereda, Ini Gejala Awal yang Terlihat

×

Anak Krakatau (GAK) Kembali Erupsi setelah Lama Mereda, Ini Gejala Awal yang Terlihat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Anak Krakatau Kembali Alami Erupsi Setelah Lama Tenang, Ini Gejala Awalnya

jurnalistik.co.id – Kepulan abu vulkanik dari puncak Gunung Anak Krakatau kembali terlihat berulang dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas itu membuat gunung api di Selat Sunda kembali menjadi perhatian, terutama warga pesisir Lampung dan Banten, termasuk nelayan serta pelaku wisata.

Meski erupsi kembali terjadi pada awal Juli 2026, peningkatan aktivitas tersebut ternyata bukan muncul tiba-tiba. Sejumlah tanda telah lebih dulu teramati setelah kondisi relatif tenang sejak 2024.

Gejala awal: emisi gas hingga indikasi sistem vulkanik aktif

Di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Kepala Pos Pengamatan di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi, menyebut gejala awal mulai terlihat sejak 1 Juni 2026. Pemantauan dilakukan lewat citra satelit Sentinel untuk mendeteksi perubahan pada aktivitas vulkanik.

Menurut Andi, melalui citra satelit Sentinel pihaknya mulai mendeteksi adanya emisi gas sulfur dioksida (SO2). Itu, menurutnya, menjadi salah satu indikator bahwa sistem vulkanik mulai kembali aktif. “Melalui citra satelit Sentinel, kami mulai mendeteksi adanya emisi gas sulfur dioksida (SO2). Itu menjadi salah satu indikator bahwa sistem vulkanik mulai kembali aktif,” kata Andi kepada Kompas.com, Sabtu (11/7/2026).

Beberapa hari setelahnya, tepatnya pada 10 Juni 2026, pemantauan satelit kembali menemukan anomali panas atau hotspot di sekitar kawah. Pada waktu yang sama, kepulan asap kawah juga tampak semakin intens dibandingkan periode sebelumnya.

Andi menjelaskan bahwa perubahan ini menjadi sinyal awal adanya pergerakan magma menuju permukaan. “Selain pengamatan visual, instrumen juga mencatat peningkatan aktivitas kegempaan, terutama gempa hembusan, gempa hybrid atau fase banyak, serta gempa frekuensi rendah (low frequency). Semua parameter itu kami amati secara bersamaan,” ujarnya.

Lonjakan aktivitas kegempaan dan penggembungan tubuh gunung

Memasuki pertengahan Juni, perubahan yang terdeteksi makin menunjukkan arah peningkatan. Dalam rentang 18 hingga 19 Juni 2026, jumlah gempa embusan, hybrid, dan low frequency melonjak hingga rata-rata lebih dari 50 kali setiap hari.

Secara lebih menyeluruh, PVMBG mencatat selama periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026 terjadi 740 gempa embusan, 520 gempa hybrid, 247 gempa frekuensi rendah, 24 gempa harmonik, serta 16 tremor menerus. Dalam periode yang sama juga tercatat dua gempa vulkanik dangkal, tiga gempa vulkanik dalam, satu gempa tektonik lokal, dan lima gempa tektonik jauh.

Di saat yang sama, alat pemantau deformasi turut merekam inflasi atau penggembungan tubuh gunung dalam skala rendah. Fenomena tersebut, menurut Andi, menunjukkan adanya tekanan magma yang perlahan meningkat dari bawah permukaan. “Data-data tersebut tidak berdiri sendiri. Ketika seluruh parameter menunjukkan tren meningkat, kami melakukan evaluasi secara menyeluruh untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung,” kata Andi.

Erupsi kembali terjadi: abu bercampur tipis hingga kolom abu sekitar 200 meter

Ketika mendekati akhir Juni, intensitas aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat. Pada 26 Juni 2026, asap kawah mulai bercampur abu vulkanik tipis, dan sebarannya turut terdeteksi oleh satelit Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia.

Puncak aktivitas kembali terjadi pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB, saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. Kolom abu pada saat itu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak, dengan warna kelabu hingga hitam, serta bergerak ke arah barat laut.

Kronologi ini memperlihatkan bahwa peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau berlangsung berjenjang, dari sinyal awal di awal Juni hingga erupsi pada awal Juli. Proses pemantauan yang menggabungkan data satelit, pengamatan visual, serta rekaman instrumen kegempaan dan deformasi menjadi dasar untuk membaca tren perubahan aktivitas dari waktu ke waktu.