jurnalistik.co.id – Hunian relokasi untuk warga yang sebelumnya tinggal di bantaran rel Senen mulai ditempati. Lokasinya berada di Jalan Kramat Raya Nomor 12, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, tepatnya di Samping Pasar Gaplok.
Bangunan tersebut telah selesai dibangun dan tampak menonjol di tengah deretan bangunan perkantoran di Jalan Kramat Raya. Berdasarkan pantauan pada Minggu (28/6/2026), kawasan hunian terlihat sudah siap dihuni.
Hunian yang dibangun berbentuk rumah memanjang dengan dinding berwarna putih dan atap biru muda. Di bagian depan kompleks terlihat gapura berwarna putih-merah dengan tulisan “Hunian Senen -Jakarta” di bagian atas. Pada sisi kiri gapura berjajar logo pemerintah, yakni pemprov DKI Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Sementara itu, di sisi kanan gapura tampak logo Danantara Indonesia yang bersanding dengan logo InJourney Airports, Hutama Karya, PP, dan Wika. Bagian bawah gapura dihiasi motif tanaman dan ondel-ondel.
Suasana di dalam kawasan juga mulai menunjukkan aktivitas warga. Seorang perempuan tampak menggendong masuk seorang anak balita ke dalam kompleks hunian, sedangkan anak-anak lain terlihat bermain sepeda di halaman dalam. Pada halaman depan, tiga orang terlihat berjaga di pos untuk mengamankan area.
Kompleks hunian juga dilengkapi portal berwarna merah dan putih. Meski demikian, saat pantauan pada Minggu sore, peliputan ke dalam lokasi belum diizinkan, sehingga pengamatan detail fasilitas dilakukan melalui informasi yang disampaikan petugas.
Menurut data teknis yang disampaikan petugas, Hunian Senen memiliki 324 unit rumah berukuran 4×4 meter. Bangunan tersebut terdiri dari 20 blok, yaitu blok A hingga blok T. Dalam satu unit rumah, setiap keluarga menempati ruang dengan perlengkapan dasar berupa dua kasur busa, satu kipas angin, serta satu lemari plastik.
Selain unit hunian, kawasan relokasi juga disiapkan dengan fasilitas pendukung untuk kebutuhan sehari-hari dan kegiatan sosial warga. Di antaranya terdapat fasilitas dapur umum, lapangan bermain anak, kebun hidroponik, serta titik berkumpul warga.
Berdasarkan keterangan petugas, terdapat 69 keluarga yang telah pindah dari kawasan bantaran rel Senen ke hunian Senen. Proses relokasi dilakukan bertahap sejak Kamis (25/6/2026) sebanyak 11 keluarga, kemudian Jumat (26/6/2026) sebanyak 47 keluarga, dan Sabtu (27/6/20026) sebanyak 11 keluarga.
Dalam siaran pers di website resmi Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman yang disebutkan pada Minggu, pembangunan Hunian Senen dilakukan di atas lahan seluas 1,61 hektare. Status lahan disebut memiliki Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama PT Angkasa Pura Indonesia.
Kementerian tersebut menyebut kawasan ini menampung total 324 unit hunian. Selain unit rumah, hunian juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, seperti toilet, mushala, dapur umum, ruang komunal, taman bermain anak, serta area parkir. Dengan fasilitas-fasilitas tersebut, kawasan relokasi dirancang untuk mendukung aktivitas warga sejak masa awal menempati rumah.
Hadirnya hunian relokasi ini menjadi bagian dari upaya penataan area bantaran rel Senen. Setelah proses pemindahan dilakukan secara bertahap, kini warga yang telah masuk ke Hunian Senen dapat memulai kehidupan di lingkungan yang memiliki fasilitas dan pengaturan kawasan yang lebih terencana.
Gerbang kawasan yang dibangun dengan warna merah-putih terlihat menjadi titik masuk utama, sekaligus penanda bahwa area relokasi sudah memiliki pengaturan perimeter. Saat peninjauan pada Minggu sore, aktivitas di sekitar pintu masuk dan halaman dalam mulai tampak, namun akses untuk liputan masih dibatasi. Petugas yang berada di pos juga menyampaikan sejumlah informasi terkait kondisi dan kelengkapan yang tersedia di dalam kompleks.
Secara tata bangunan, Hunian Senen disiapkan dengan konsep rumah memanjang di atas lahan relokasi seluas 1,61 hektare. Hunian tersebut menampung total 324 unit yang dibagi ke 20 blok, mulai blok A hingga blok T, dengan tiap unit berukuran 4×4 meter. Dalam tiap rumah, satu keluarga menempati ruang yang disertai perlengkapan dasar, yaitu dua kasur busa, satu kipas angin, serta satu lemari plastik.
Selain ruang hunian, kawasan relokasi juga dilengkapi fasilitas pendukung untuk menunjang rutinitas harian dan aktivitas sosial. Di antaranya terdapat dapur umum, toilet, mushala, ruang komunal, taman bermain anak, lapangan bermain, area parkir, serta kebun hidroponik. Dengan kelengkapan tersebut, kawasan dirancang agar warga yang mulai menempati rumah dapat melanjutkan kegiatan sehari-hari di lingkungan yang sudah lebih tertata.












