jurnalistik.co.id – Arsene Wenger menyampaikan sejumlah temuan teknis menjelang Piala Dunia 2026 dalam sebuah media briefing FIFA. Ia datang dengan kapasitas sebagai Ketua Technical Study Group (TSG) dan juga menjabat Kepala Pengembangan Global FIFA.
Dalam sesi di Stadion New York/New Jersey pada Sabtu, 18 Juli 2026, Wenger berbicara mengenai tren taktik yang teramati di turnamen. TSG sendiri memiliki tugas mengamati sisi teknis pertandingan, termasuk pola permainan yang berkembang.
Menurut briefing tersebut, tim-tim peserta Piala Dunia 2026 cenderung semakin sering memakai pendekatan low-block ketika bertahan. Wenger menilai pola itu membentuk kebutuhan baru dalam cara tim menyerang setelah berhasil menutup ruang.
Low-block dan pentingnya pemain berkecepatan
Jika lawan lebih dulu merapatkan pertahanan, ruang untuk tembakan langsung sering tidak segera terbuka. Karena itu, Wenger menekankan perlunya pemain yang eksplosif sekaligus dibekali kecepatan, agar transisi dari bertahan ke menyerang bisa menghasilkan serangan mematikan.
Ia memandang kecepatan bukan sekadar soal lari cepat, melainkan kemampuan untuk mengubah tempo permainan setelah fase low-block selesai dilakukan. Dengan karakter seperti itu, tim dapat lebih cepat memanfaatkan momen ketika pertahanan lawan mulai kehilangan bentuk.
Dalam briefing tersebut, Wenger didampingi beberapa nama anggota TSG yang memiliki reputasi besar. Di antaranya Juergen Klinsmann, Gilberto Silva, Pascal Zuberbuehler, Pablo Zabaleta, dan Michael O’Neill.
Gol dari luar kotak 16 meter naik
Sorotan lain datang dari data gol di Piala Dunia 2026, khususnya yang tercipta lewat sepakan jarak jauh. TSG FIFA mencatat 16 persen dari total gol berasal dari tembakan dari luar kotak 16 meter.
Berita Terkait
Wenger juga mengaitkan tren ini dengan perkembangan dibanding edisi sebelumnya. Persentase tersebut disebut dua kali lipat dibanding statistik di Piala Dunia 2022 Qatar.
Fokus pada tembakan jarak jauh, menurut alur penjelasan Wenger, memperlihatkan bahwa permainan terus mencari alternatif ketika opsi di dalam area terlarang tidak mudah didapat. Dalam konteks itu, kemampuan teknik dan kecerdasan tim untuk memilih momen menjadi perhatian penting.
Menjelang laga puncak, Wenger menyinggung duel final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol vs Argentina pada 19 Juli. Ia menyatakan bahwa dua tim yang lolos ke final membawa pesan positif bagi cara orang memandang permainan, karena kualitas teknik serta kecerdasan tim terlihat dari cara mereka memahami pertandingan.
Pesan untuk sepak bola Indonesia
Setelah briefing, Wenger menyempatkan waktu menyapa wartawan yang hadir, termasuk dari Indonesia. Ia kemudian menyampaikan pesan yang ia tekankan sebagai bagian dari pembinaan sepak bola.
Wenger mengatakan, “Indonesia, kalian harus membangun sepak bola.” Ia menyampaikan hal tersebut sembari mengepalkan tangannya setelah mengetahui kabar dari KOMPAS.com.
Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki hampir 300 juta penduduk dan karena itu, sepak bola perlu terus dikerjakan melalui program berkelanjutan. Menurutnya, pekerjaan yang dimaksud meliputi pembinaan yang terus dijalankan.
Dalam penjelasannya, Wenger menempatkan pembinaan sebagai proses jangka panjang yang perlu dijaga konsistensinya. Pesan itu sejalan dengan tema yang ia bawa selama briefing: kebutuhan menyiapkan pemain sesuai tuntutan gaya bermain yang terus berubah.
Dengan demikian, rangkaian informasi dari Technical Study Group tidak hanya membahas taktik low-block dan peningkatan gol dari luar kotak 16 meter, tetapi juga mengarah pada kebutuhan penyiapan karakter pemain. Bagi Wenger, kecepatan dan kemampuan mengubah tempo menjadi aspek yang relevan ketika tim menghadapi pertahanan rapat.
Di sisi lain, data 16 persen gol dari jarak luar juga mengingatkan bahwa variasi teknik dan keberanian mengambil kesempatan tetap menjadi bagian dari arah permainan Piala Dunia 2026. Dari situ, ia berharap sepak bola Indonesia terus bergerak membangun fondasi pembinaan yang kuat untuk menghasilkan pemain yang siap menghadapi tuntutan modern.












