Nasional

WHO Indonesia Dorong Larangan Vape untuk Lindungi Anak dan Remaja

1
×

WHO Indonesia Dorong Larangan Vape untuk Lindungi Anak dan Remaja

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: WHO Indonesia Desak Pemerintah Larang Vape untuk Lindungi Anak - Gaya Hidup

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dari Indonesia menyerukan langkah tegas untuk melindungi anak-anak dan remaja di Indonesia dari bahaya kecanduan tembakau dan nikotin. Salah satu dorongan utama yang disampaikan adalah pelarangan rokok elektronik atau vape secara menyeluruh.

WHO menilai industri rokok elektronik dan produk nikotin lain tidak sekadar hadir di pasar, melainkan aktif menargetkan anak muda melalui strategi pemasaran yang dirancang agar terlihat menarik. Cara itu mencakup penggunaan rasa buah dan permen, kemasan berwarna-warni, desain produk yang ramping, serta promosi agresif di media sosial dan lewat influencer.

“Rokok elektronik dan produk nikotin lainnya berbahaya. Produk-produk ini sengaja dirancang untuk menarik kaum muda dan menciptakan kecanduan,” kata Dr. N. Paranietharan, Perwakilan WHO untuk Indonesia, dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5).

Pernyataan itu menegaskan kekhawatiran WHO bahwa produk yang tampak modern dan ringan justru dapat menjadi pintu masuk ke kebiasaan yang lebih berisiko. Dalam pandangan lembaga kesehatan dunia tersebut, anak dan remaja menjadi kelompok yang paling rentan karena pemasaran dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan selera dan kebiasaan mereka.

Data yang dikutip WHO juga menunjukkan bahwa persoalan ini sudah berada pada tingkat yang perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan Global School Health Survey 2023, sebanyak 20% siswa Indonesia berusia 13-17 tahun tercatat menggunakan produk tembakau. Sementara itu, 12% lainnya menggunakan rokok elektronik atau vape.

Angka tersebut menggambarkan bahwa penggunaan produk tembakau dan vape di kalangan pelajar bukan lagi isu pinggiran. WHO memandang kondisi ini sebagai sinyal kuat bahwa upaya perlindungan terhadap anak dan remaja perlu diperkuat, termasuk dengan kebijakan yang membatasi akses serta daya tarik produk nikotin di pasar.

Selain soal paparan dan kebiasaan, WHO juga menyoroti dampak nikotin pada tubuh remaja. Paparan nikotin pada usia muda dapat mengganggu perkembangan otak dan meningkatkan risiko kecanduan jangka panjang. Dengan demikian, persoalan vape tidak hanya dilihat sebagai pilihan gaya hidup, tetapi sebagai risiko kesehatan yang bisa berlanjut dalam jangka panjang.

WHO juga menyebut bukti ilmiah menunjukkan vape dapat menjadi pintu masuk menuju kebiasaan merokok. Di sisi lain, penggunaan vape dapat memicu penggunaan ganda, yakni seseorang memakai rokok konvensional dan rokok elektronik sekaligus. Kondisi ini membuat risiko kesehatan menjadi semakin kompleks dan sulit dikendalikan.

Karena itu, seruan pelarangan vape secara menyeluruh yang disuarakan WHO Indonesia diarahkan sebagai langkah pencegahan sejak awal. Fokus utamanya adalah mencegah anak-anak dan remaja terjerat dalam pola konsumsi nikotin yang dapat berdampak pada kesehatan mereka di masa depan.

Dengan kombinasi strategi pemasaran yang agresif, data penggunaan di kalangan pelajar, serta risiko kesehatan yang disebut WHO, desakan pelarangan vape ini menambah tekanan terhadap pemerintah untuk mengambil langkah perlindungan yang lebih tegas bagi kelompok usia muda di Indonesia.

Dalam konteks itu, seruan WHO dapat dibaca sebagai peringatan bahwa masalah vape tidak boleh dipandang ringan hanya karena tampilannya modern dan sering dibingkai sebagai alternatif yang lebih aman. Justru karena kemasannya dibuat menarik dan promosi diarahkan ke ruang digital yang dekat dengan anak muda, risiko paparan menjadi jauh lebih besar dibanding sekadar persoalan pilihan produk.

Jika kecanduan nikotin sudah muncul sejak usia sekolah, dampaknya tidak berhenti pada kebiasaan sesaat. Situasi tersebut dapat membentuk pola konsumsi yang lebih sulit diputus di kemudian hari, apalagi ketika produk yang ditawarkan terus hadir dengan variasi rasa, desain, dan promosi yang sengaja memancing rasa ingin tahu. Itulah sebabnya WHO menempatkan perlindungan usia muda sebagai titik yang paling mendesak.

Di sisi lain, data penggunaan di kalangan pelajar memperlihatkan bahwa isu ini sudah menyentuh ruang yang sangat sensitif, yakni lingkungan remaja yang seharusnya menjadi tahap pertumbuhan dan pembentukan kebiasaan sehat. Karena itu, desakan pelarangan vape secara menyeluruh tidak hanya berbicara soal pembatasan produk, tetapi juga soal upaya menahan laju adopsi nikotin sejak dini sebelum masalahnya menjadi lebih luas dan lebih sulit dikendalikan.