Pendidikan

Orangtua Harus Tahu: Tanda Anak Mengalami Tekanan dari Teman Sebaya

×

Orangtua Harus Tahu: Tanda Anak Mengalami Tekanan dari Teman Sebaya

Sebarkan artikel ini
Tanda Anak Mengalami Tekanan dari Teman Sebaya, Orangtua Harus Tahu Lifestyle 26 Juni 2026
Ilustrasi: Tanda Anak Mengalami Tekanan dari Teman Sebaya, Orangtua Harus Tahu

jurnalistik.co.id – Pengaruh dari kelompok pergaulan atau yang kerap disebut tekanan teman sebaya (peer pressure) memang bisa dirasakan anak dan remaja setiap hari. Dorongan ini biasanya muncul agar mereka bisa diterima dan membaur dengan kelompoknya, namun respons tiap anak bisa berbeda-beda.

Psikoterapis Amy Morin, LCSW, dalam tulisannya di Parents yang dikutip pada Kamis (25/6/2026), menjelaskan bahwa anak dengan jiwa kepemimpinan cenderung lebih tangguh. Sebaliknya, mereka yang lebih mudah mengikuti arus mungkin lebih cepat goyah saat menghadapi tekanan dari lingkungan pergaulan.

Tekanan teman sebaya tidak selalu hadir dengan cara yang sama. Kadang terlihat sangat jelas, tetapi tidak jarang juga terselubung dalam perubahan kebiasaan yang tampak “wajar” di permukaan—padahal bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang berjuang untuk menyesuaikan diri.

Sebagai orangtua, penting untuk peka terhadap perubahan perilaku anak. Beberapa tanda yang sering muncul meliputi keengganan berangkat ke sekolah, terlalu cemas akan penampilan, gangguan tidur, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, hingga merasa tidak cocok di lingkungan mana pun.

Pada momen tertentu, anak juga bisa mendadak mengubah gaya rambut atau gaya berpakaian mereka. Perubahan seperti ini perlu dibaca sebagai bagian dari proses menyesuaikan diri, sekaligus menjadi ruang bagi orangtua untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dialami anak.

Morin juga menekankan hubungan antara konsep diri dengan kerentanan terhadap pengaruh teman sebaya. Ia menyampaikan, “Penelitian telah menemukan bahwa anak-anak dengan konsep diri yang rendah lebih rentan terhadap pengaruh teman sebaya dan keinginan untuk menyesuaikan diri.”

Perubahan suasana hati seperti rasa cemas atau depresi turut perlu ditelusuri lebih jauh. Morin menyebut kondisi ini bisa jadi bukan semata dampak tekanan pergaulan, melainkan tanda masalah lain seperti perundungan, yang mungkin selama ini belum terlihat jelas oleh orang dewasa di rumah.

Yang perlu dipahami, banyak anak bersedia melakukan apa saja demi menghindari penolakan. Karena itu, orangtua sebaiknya tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga menggali proses di balik keputusan anak—apa yang membuatnya merasa harus “ikut” agar tidak ditolak.

Di sisi lain, tidak semua tekanan teman sebaya bernuansa negatif. Morin mengingatkan bahwa sebagian orang memandang tekanan ini dari sudut negatif, padahal dorongan pergaulan tidak selalu berujung pada hal buruk.

Ia menjelaskan, “Kadang-kadang, tekanan teman sebaya digunakan untuk memengaruhi orang secara positif, seperti ketika remaja bekerja menuju tujuan bersama seperti berprestasi di sekolah atau membantu di komunitas mereka.” Dengan kata lain, tekanan yang tepat bisa menjadi energi untuk mendorong anak belajar giat, menabung, dan menjauhi perilaku berisiko.

Sebaliknya, tekanan negatif muncul ketika anak dipaksa bolos sekolah, merundung orang lain, mencoba rokok elektrik, atau berbuat nekat. Daftar ini penting sebagai “batas merah” yang membantu orangtua menyadari kapan pengaruh pergaulan berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Seiring bertambahnya usia, teman sepermainan juga memegang kendali yang lebih besar atas selera musik, hobi, hingga gaya bicara anak. Perlu dicatat, tekanan teman sebaya tidak dibatasi gender, sehingga semua anak dapat mengalami pengaruh ini pada berbagai spektrum perilaku dan keyakinan.

Morin merangkum bahwa tekanan teman sebaya dapat memiliki dampak negatif maupun positif, tergantung konteks dan cara dorongan itu bekerja. Pada praktiknya, pengaruh yang sehat bisa menghadirkan dukungan emosional, menumbuhkan keberanian untuk mencoba hal baru, sekaligus menjadi sarana latihan sosialisasi yang efektif.

Bagi orangtua, kuncinya adalah menjaga kedekatan komunikasi dan membaca tanda-tanda perubahan perilaku anak dengan serius namun tetap bijak. Dengan pemahaman yang tepat, orangtua dapat membantu anak menimbang pengaruh dari lingkungan pergaulannya—agar penerimaan sosial tidak harus dibayar dengan tindakan yang berbahaya atau menyakitkan.